Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dari Ujung Timur Pulau Jawa

rekian • Rabu, 4 Februari 2026 | 12:45 WIB
PROFIL: Rekian
PROFIL: Rekian

Hasrat ingin tahu Kabupaten Banyuwangi sebenarnya sudah terpendam sejak lama. Konon kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu berhasil mengubah image, kota santet menjadi kota wisata. Perubahan besar itu menggema pada 2016-2021 era Abdullah Azwar Anas menjadi bupati di sana. 

Rasa penasaran muncul karena di tengah kemajuan itu, ada catatan serius soal lingkungan. Yakni tambang emas di Tumpang Pitu. Mulai dari cerita kriminalisasi Budi Pego (Heru Budiawan) pada 2017. Laporan jurnalistik yang dibukukan Ika Ningtyas, berjudul Menambang Emas di Tanah Bencana. Hingga buku #ResetIndonesia di bab I tentang ekonomi ekstraktif halaman 103.  

Kuatnya rasa penasaran itu sedikit terobati setelah saya dan teman-teman Jawa Pos Radar Kediri outing ke Banyuwangi pada Selasa (27/1). Tujuan pertama kami adalah pantai bernama Pulau Merah. Berangkat dari Kediri pukul 00.15, tiba di lokasi nyaris pukul 12.00. 

Sebelum tiba di lokasi, dari kejauhan kami memandang sebuah gunung bopeng. "Itu Tumpang Pitu," celetuk kawan yang duduk di bangku paling belakang. Sedikit dari kami yang mengikuti persoalan tambang emas di sana. Karena itu, tak ada obrolan lebih lanjut tentang Tumpang Pitu. 

Pun begitu ketika kami tiba di Pulau Merah. Warga lokal yang saya temui lebih pusing karena sepinya pengunjung daripada keruk emas di Tumpang Pitu. Rasanya memang aneh tapi itulah yang terjadi saat Saya berada di ujung Timur pulau Jawa itu.  

Ani, perempuan yang sudah 20 tahun berjualan di Pulau Merah itu terus mengeluh jika pengunjungnya terus menurun dari tahun ke tahun. Menurutnya pengunjung sepi karena ada tempat lain yang dianggap lebih baik. Tak ada korelasi sepinya turis karena persoalan di Tumpang Pitu. 

Menurut Ani, di tempat lain itu banyak wisatawan asingnya. Ibu dua anak itu mengaku jika mereka tinggal di sebuah hotel yang isinya kebanyakan turis. Di hotel yang kami tempati, Kalibaru Cottage memang banyak turisnya. Mereka berasal dari Jerman, India, Belanda, hingga Prancis.     

Tidak hanya Pulau Merah kami juga merambah destinasi wisata lainnya yang ada di Banyuwangi. Salah satunya adalah De Djawatan Magical Forest. Lokasi wisata itu seperti mengajak kami ke dunia Lord of The Rings, berisi pohon trembesi yang ditumbuhi dengan tanaman epifit. Pohon trembesi tua yang kokoh itu seperti tak peduli isu di luarnya. 

Pun begitu dengan Alas Purwo dan Pantai Pancer Banyuwangi. Semua wisata itu menawarkan keindahan yang memesona. Di balik wajah cantik The Sunrise of Java itu masih ada guratan masalah yang nyata. Seperti Gunung Bopeng dan sepinya pengunjung di Pulau Merah. Perjalanan itu menjadi memori indah yang kami bawa pulang ke Kediri. Dan menjadi catatan tebal tentang tantangan daerah yang sedang bersolek.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#banyuwangi #abdullah azwar anas #kota santet #the sunrise of java #menambang emas #RESETINDONESIA