Jauh sebelum bukunya booming, sosok penulis bernama Aurelie Alida Marie Moeremans ini sudah menarik perhatian publik. Kala itu, dia ikut merespons isu ‘Indonesia Gelap’. Pemain film Story of Dinda (2021) dan Baby Blues ini sempat membuat video singkat di instagramnya. Aurelie mempertanyakan sistem politik di republik ini yang videonya ditutup dengan kata: Gelap.
Di video instagramnya itu, Aurelie membagikan cerita yang dialaminya pada 2016 (perkiraan persiapan Pilkada Jakarta). Perempuan kelahiran Brussels, Belgia itu mengaku diajak artis senior ikut memarakkan politik. Dia dijanjikan uang ratusan juta rupiah. Tugasnya, menjalankan perintah sesuai permintaan politikus.
Perempuan 32 tahun itu merasa tak sanggup. Ia berdalih tak punya kapasitas. Apalagi pendidikannya hanya SMA sederajat. Mendengar alasan Aurelie, si artis terus membujuknya.
Yang mencengangkan, artis senior itu bisa menjamin Aurelie bisa langsung menyandang gelar S2. Pendidikan seperti itu bisa diatur. Karena prinsip, dia tetap menolak ajakan tersebut dan memperkuat asumsi terkait bobroknya sistem politik kita.
Sepuluh tahun setelah peristiwa itu terjadi, awal 2026 ini, Aurelie kembali membuat publik tercengang. Ia lagi-lagi menggugah kesadaran publik. Kali ini diceritakan lewat bukunya Broken Strings. Buku itu menceritakan kisah pribadi yang yang kelam semasa remaja.
Aurelie mengalami perilaku child grooming. Merupakan manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa untuk membangun keterikatan kepada anak di bawah umur (remaja). Menciptakan hubungan emosional dan kepercayaan untuk melakukan eksploitasi. Terutama dalam bentuk kekerasan dan pelecehan seksual.
Aurelie membagikan ebook gratis ini untuk kampanye mencegah child grooming peristiwa kelam yang dialaminya pada masa silam tidak terjadi kepada anak-anak lainnya. Buku digital setebal 214 halaman itu dengan terang menegaskan jika kisah nyata itu ditulis dari sudut pandang dan pengalaman pribadinya.
Buku digital itu tidak dibuat untuk menyerang, menuduh, atau merugikan siapapun. Tujuan buku itu adalah untuk berbagi kesadaran dan membantu mereka yang mungkin mengalami hal serupa. Soal ada yang merasa disudutkan, berarti tidak membaca buku ini secara jernih.
Misi mulia Aurelie ini harusnya bisa ditangkap pemerintah daerah membangun kesadaran bersama untuk mencegah terjadinya child grooming. Apalagi melihat jumlah pasangan belia yang memilih berumah tangga seperti di Kabupaten Kediri terbilang tinggi.
Pada 2025 lalu, ada 163 pasangan di Kabupaten Kediri yang menikah muda. Hanya ada dua pemohon yang tidak dikabulkan. Yang membuat miris, pernikahan anak itu disebabkan karena hamil (terpaksa menikah). Kita semua tentu berharap, dari ratusan pasangan anak yang menikah itu tidak ada yang mengalami penderitaan seperti Aurelie kecil.
Baca Juga: Oh… Bandara
Data pernikahan anak usia dini di Kabupaten Kediri itu mengalami penurunan dua tahun terakhir.Pada 2023 ada 400 kasus; dan 2024 sebanyak 312. Meski tampak menggembirakan, rupanya penurunan kasus pernikahan anak itu disebabkan karena aturan yang semakin ketat.
Bahkan, ada pasangan anak yang memilih untuk menikah di bawah tangan. Pernikahan tidak resmi diakui negara. Dalam konteks ini, Aurelie mungkin sedikit lebih baik. Ketika berpisah dengan pasangannya, ia masih punya penghasilan dari pekerjaan yang lebih layak. Nah, jika perpisahan itu terjadi pada anak-anak di pedesaan yang tak punya peluang ekonomi seperti Aurelie, maka apa yang akan terjadi? Remuk!!!
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian