Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ijazah dan Warisan Penjajah

rekian • Minggu, 27 April 2025 | 03:44 WIB

 

REKIAN
REKIAN

KENING Kang Edon mengkerut. Matanya tak berkedip melihat layar gawai android. Sekali-sekali jari tangannya bergerak ke atas menyentuh layar gawainya.

Pemuda yang baru saja pulang dari merantau di kota besar itu tak peduli kondisi di sekitarnya. Bahkan kopi pesanannya sudah tidak lagi panas.

"Kopinya diseruput dulu Kang. Keburu jadi ager-ager," celetuk Yu Lala membuyarkan konsentrasi Kang Edon yang sedang serius bermain gawai.

"Iya, Yu," jawab pemuda yang baru saja hilang pekerjaan karena kena pemutus hubungan kerja (PHK) itu. Dia lalu menyeruput kopi hitam buatan Yu Lala.

Kopi di warung Yu Lala memang mantap. Racikannya pas. Meski pakai gula, pahitnya masih nendang. Kopi kampung yang selalu bikin Kang Edon kangen suasana desa. Di perantauan sangat sulit mendapatkan kopi yang rasanya seperti buatan Yu Lala.

Meski kopi telah diseruput. Bola mata Kang Edon tetap tak mau bergeser dari gawainya. Sesekali kepalanya menggeleng.

"Ada apa toh Kang, kok serius banget?" tanya Yu Lala yang penasaran dengan aktivitas Kang Edon di warungnya.

"Ini loh Yu, berita para pejabat. Ada yang selingkuh, korupsi, sama kasus tahan ijazah. Gilaaa, gilaaa," sahut Kang Edon yang tampak ikut geram.

Soal perselingkuhan dan korupsi mungkin sudah biasa. Tapi yang tahan ijazah pekerja bikin Kang Edon ikut gregetan.

Sebagai orang yang baru saja kena PHK, dia ikut merasakan betapa susahnya mencari kerja. Tanpa ijazah, para pekerja itu bisa apa? Apa tidak mikir sekarang kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja? Bahkan ada yang pilih kabur aja dulu.

"Gila aja, zaman modern seperti ini masih ada perusahaan yang menahan ijazah," keluh Kang Edon.

Apa yang dilakukan pemilik perusahaan itu membuat para pekerja di seluruh bumi menjadi murka. Jelas-jelas tindakan menahan ijazah itu keliru. Melanggar aturan. Sudah seharusnya diberi tindakan. Perusahaannya harus ditutup. Pelaku penahanan ijazah diberi sanksi.

Bagi Kang Edon, penahanan ijazah pekerja menjadi bukti jika penjajah telah sukses mewarisi perilaku yang menindas. Jika dulu yang menindas itu VOC, sekarang bentuknya perusahaan yang dikelola anak bangsa sendiri.

Kang Edon masih tampak emosi. Perilaku pengusaha yang menahan ijazah pekerja adalah bukti valid mental penindas telah bersemayam di mana-mana.

Pemuda pengangguran yang usianya sudah seperempat abad itu seperti ikut merasakan kesulitan yang dialami si pekerja. Kang Edon tidak hanya berempati. Tapi juga ikut bersolidaritas. Melawan semua perilaku pengusaha yang suka menahan ijazah.

Semua kekesalannya dituangkan di warkop milik Yu Lala. Pemilik warung itu hanya bisa bengong ketika Kang Edon menjelaskan situasi itu dengan nada berapi-api.

Sebagai orang yang berpengalaman kerja di kota Besar, Kang Edon bisa memahami posisi si pekerja yang ijazahnya ditahan. Sudah pasti tak punya nilai tawar. Otomatis pula bisa dengan mudah diperas keringatnya. Bekerja mati-matian tapi upahnya tak layak. Sungguh malang nasib para pekerja itu.

Kang Edon menghormati hak pejabat yang berdamai dengan si pengusaha. Tapi Kang Edon kesal, permohonan maaf pengusaha itu bukan karena merasa bersalah telah menahan ijazah. Tetapi menyesali perbuatannya lantaran menyebut pejabat penipu. Sehingga permohonan maaf itu belum menyentuh poin utamanya. Yaitu mengembalikan ijazah pekerja yang ditahan.

Kang Edon melanjutkan umpatannya. Memaafkan itu urusan kemanusiaan. Tapi harus diingat, yang dimaafkan itu adalah orang yang tidak mengedepankan asas memanusiakan manusia. Pantaskah orang seperti itu mendapat maaf? Rasanya tidak. Harus ada efek jera. Agar tidak mengulangi perbuatannya.

Di sela-sela omongan itu. Mang Kodir yang memperhatikan Kang Edon dari luar warung tiba-tiba saja nyeletuk. "Halah-halah, Dooon. Kok mikir orang lain. Kejauhan. Nasibmu loh gimana? Setelah dipecat," ucap Mang Kodir yang juga memesan kopi di warung Yu Lala.

Pertanyaan itu, seperti serangan bom atom yang dijatuhkan ke Hiroshima dan Nagasaki. Bagi Kang Edon, celetukan dari Mang Kodir terlalu mendadak dan langsung jleb ke jantungnya. "Iya sih, aku sekarang menganggur. Masih cari pekerjaan baru," ucap Kang Edon sambil garuk-garuk kepala dan melempar senyum masam.

Mang Kodir lalu menuturi Kang Edon. "Makanya jadi pejabat. Biar bisa bantu orang seperti Yu Lala dan pemuda nganggur seperti kamu," kata Mang Kodir disambut acungan setuju dari Yu Lala.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#pekerja #penjajah #mental penindas #ekonomi sulit #phk #ijazah #upah #pengangguran