Jumbo menjadi film animasi asal Indonesia yang sedang naik daun. Film yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy ini sukses menarik perhatian semua kalangan. Tidak hanya anak-anak. Namun juga orang dewasa.
Film Jumbo ini menceritakan seorang anak laki-laki yang bernama Don. Sebagai karakter utama, Don kerap dibully oleh teman-temannya. Karena kondisi fisiknya yang besar. Oleh karena itu juga ia dipanggil Jumbo. Salah satu teman yang sering mem-bully bernama Atta.
Meski kerap dibully, Don memiliki dua teman yang setia menemaninya. Dua teman tersebut adalah Nurman dan Mae. Don juga memiliki teman yang tidak kasat mata bernama Meri.
CatBaca Juga: Peduli adalah Kata Kunci
Keberadaan tokoh Meri rupanya menjadi perdebatan. Bahkan ada yang menganggap bahwa film ini mengandung suatu hal yang dianggap mengarah pada hal yang syirik. Salah satunya ketika Jumbo melakukan perjanjian dengan Meri yang merupakan hantu.
Dibandingkan fokus dengan hal tersebut banyak pesan-pesan lain pada film ini yang sangat terlihat di setiap adegannya. Terutama bagi orang tua yang mengajak menonton film ini dengan mengajak anaknya.
Dalam film ini, Don diceritakan sebagai seorang yang ingin sekali didengar oleh teman-temannya. Namun keinginannya tersebut membuat Don lupa untuk mendengarkan orang lain. Dari adegan tersebut, bisa mengajarkan anak bahwa jika ingin didengar orang lain, maka harus mau mendengarkan orang lain.
Baca Juga: Sport Tourism Bisa Jadi Cuan untuk Kediri
Tidak hanya itu saja, film ini juga untuk mengajarkan agar berperilaku baik terhadap teman. Jangan suka mem-bully, dan jika memiliki mimpi jangan mudah menyerah meski banyak sekali rintangannya.
Meski banyak adegan yang bisa menjadi pembelajaran, malah kebanyakan fokus pada suatu hal yang syirik. Lalu bagaimana dengan film atau kartun lainnya.
Tanpa sadar atau tidak, banyak sekali film atau kartun yang tokoh utamanya memiliki perjanjian dengan hantu. Seperti salah satu cerita rakyat berjudul timun emas. Di mana timun emas ini menceritakan seorang ibu yang membuat perjanjian raksasa jahat untuk bisa memiliki anak.
Baca Juga: Pemerasan Berkedok Sumbangan
Untuk versi lebih modern ada Doraemon dengan kantong ajaibnya. Jika kartun ini dipaksakan dikaitkan dengan agama, tokoh Nobita dalam kartun ini bisa dikatakan sebagai anak yang menyekutukan tuhan dengan robot bentuk kucing yang bisa mengabulkan semua permintaan.
Namun kartun Doraemon, dari sosok Nobita bisa dipelajari jangan menjadi anak yang pemalas. Sebab jika malas belajar, nanti tidak pintar dan dimarahi orang tua.
Atau ada film frozen, dimana salah satu tokohnya memiliki kekuatan sihir. Bahkan ada olaf yang terbuat dari tumpukan salju dapat hidup karena sihir.
Film bukanlah guru, melainkan orang tualah yang menjadi guru saat anak sedang menonton film atau kartun. Terutama sebagai orang yang memberikan tontonan. Tentu harus siap memberikan pemahaman saat anak bertanya. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita