Jumat (18/4) lalu, khutbah salat Jumat yang dibawakan menyoal isu yang bagus. Yakni mengenai kepedulian terhadap lingkungan.
Kebetulan memang dalam rangka memperingati Hari Bumi Internasional pada 22 April ini, Kementerian Agama (Kemenag) RI mengarahkan agar khotib-khotib secara serentak membawakan khotbah perihal pentingnya menjaga lingkungan.
Dalam khotbah yang dibawakan Kepala Kantor (Kakan) Kemenag Kabupaten Kediri Achmad Faiz di Masjid Baiturrahman, Tepus, Sukorejo, Ngasem.
Dia menerangkan bahwa Allah melarang kepada kita merusak lingkungan. Dalam agama Islam, diajarkan bahwa pentingnya menjaga lingkungan.
Mulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, sampai dengan larangan penggundulan hutan.
Memperhatikan lingkungan ini juga bisa menjadi indikator kuatnya keimanan dan ketakwaan yang dimiliki umat Muslim.
Perintah dan larangan ini pun sudah termaktub dalam Alquran dan juga melalui hadits Nabi. Seperti dalam Surat Al-A'raf ayat 56.
Yang berbunyi “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Anjuran untuk menjaga lingkungan juga diajarkan di agama-agama lain. Misalnya dalam ajaran Hindu diajarkan mengenai Tri Hita Karana atau tiga penyebab hubungan yang harmonis untuk mencapai kebahagiaan.
Dalam ajaran Hindu, untuk bisa mencapai kebahagiaan, selain menjalin hubungan baik dengan Tuhan dan sesama manusia, seseorang juga harus menjaga alam.
Ajaran serupa, mengenai menjaga lingkungan juga diajarkan dalam agama-agama lainnya. sayangnya, walaupun dalam kehidupan beragama sudah diajarkan, namun tetap saja manusia abai.
Pengrusakan lingkungan, mulai dari yang terkecil seperti membuang sampah secara sembarangan, pembuangan limbah tanpa diolah atau kegiatan besar lainnya seperti penggundulan pohon tanpa adanya penggantian demi kegiatan proyek terus dilakukan. Tanpa memperhatikan lingkungan.
Akibatnya, dampaknya pada masyarakat sendiri. Berbagai bencana alam pun mengenai manusia sendiri.
Di Kediri Raya, kejadian bencana seperti banjir, longsor dan sebagainya terus-terusan melanda Bumi Panjalu. Salah satu penyebabnya juga kelalaian manusia sendiri.
Atau belakangan ini yang juga tengah ramai kasus pencemaran air sumur belasan warga Plosolor, Plosoklaten. Memang untuk kepastian sumber pencemaran masih proses penyelidikan.
Namun, dugaan kuat mengarah pada pembuangan limbah blotong pabrik gula, yang dibuang ke lahan hak guna usaha (HGU) yang terletak di dekat pemukiman warga.
Tujuannya bagus, untuk proses penyuburan tanah. Namun jumlah yang dibuang di sana, kata warga sampai ratusan truk.
Adanya hal ini menunjukkan masih adanya sikap abai terhadap lingkungan. Jika saja proses itu dilakukan dengan memperhatikan lingkungan, dengan dikaji terlebih dahulu, tentu bisa menghindari kejadian tersebut.
Maka dari itulah, sikap peduli dengan lingkungan perlu ada. Agar tindakan yang kita perbuat bisa menyesuaikan agar lingkungan tidak turut rusak. yang mana bisa merugikan kita sendiri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita