Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sport Tourism Bisa Jadi Cuan untuk Kediri

Emilia Susanti • Selasa, 22 April 2025 | 04:17 WIB
Ilustrasi potensi sport tourism di Kediri.
Ilustrasi potensi sport tourism di Kediri.

Selama empat hari ini, GOR Jayabaya Kota Kediri serasa hidup. Rupanya, kompetisi Proliga 2025 yang menjadi penyebab utamanya. Bagi yang belum tahu, Proliga merupakan event bola voli bergengsi di Indonesia.

Sehingga wajar, masyarakat khususnya penggemar cabang olahraga (cabor) beregu ini rela datang untuk menyaksikan tim kesayangan mereka.

Adanya event olahraga seperti Proliga memang penting. Tak sekadar mempertontonkan kepiawaian atlet atau tim yang dalam berkompetisi. Melainkan ada multiplier effect tersendiri dari sebuah event olahraga.

Gampangnya, tim-tim yang akan berkompetisi akan membutuhkan penginapan. Selain itu, ada pula penyelenggara dan perangkat pertandingan.

Otomatis, permintaan kamar hotel akan meningkat. Siapapun yang bergelut pada bisnis ini pun tersenyum manis atas keuntungan yang didapatkankan.

Lalu, masih ada pihak-pihak lainnya yang juga diuntungkan. Tidak lain adalah pemerintah daerahnya. Dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri.

Bagaimana tidak. Pendapatan asli daerah (PAD) akan meningkat. Pasalnya, penyelenggara event harus membayar retribusi sewa atas penggunaan GOR.

Selanjutnya, masyarakat yang masih tergolong pelaku mikro turut diuntungkan. Sederhananya, ada pemilik usaha catering yang akan kebanjiran pesanan dari penyelenggara event.

Lalu, warung-warung makanan akan ramai seiring banyaknya masyarakat yang datang pada event olahraga tersebut.

Sehingga, dampak ekonomi dari event olahraga tidak boleh diabaikan. Pemerintah daerah harus melihat hal ini sebagai peluang tersendiri.

Dan perlu diketahui, agenda seperti Proliga ini termasuk dalam kegiatan pariwisata di suatu daerah bahkan negara. Lebih tepatnya dikenal dengan sport tourism.

Tentu saja, agenda sport tourism tidak hanya Proliga saja. Dalam sepak bola, ada kompetisi Liga 1, Liga 2, Liga 3, dan Liga 4.

Kemudian masih ada agenda kejuaraan lainnya. Seperti kejuaraan provinsi (kejurprov), kejuaraan nasional (kejurnas), pekan olahraga provinsi (porprov), hingga pekan olahraga nasional (PON).

Tak sebatas itu, ada pula agenda olahraga lainnya seperti lari atau bersepeda. Sebetulnya, baik di Kota ataupun Kabupaten Kediri memiliki potensi besar dalam sport tourism.

Beberapa waktu lalu, agenda bersepeda internasional sempat digelar di Kediri. Namanya Kediri Dholo KOM.

Pada agenda tersebut, ada ratusan yang berpartisipasi. Bahkan 80 persen bukan berasal dari Kediri. Pada saat itu, kamar-kamar hotel di Kediri penuh.

Selanjutnya, ada Persik Kediri, klub sepak bola di Kota Tahu yang tengah berkompetisi di Liga 1, kompetisi kasta tertinggi di Indonesia.

Setidaknya, ada dua agenda pertandingan yang akan dilakukan di Kota Kediri dalam satu bulan.

Pada kesempatan itu, tim lawan akan datang. Otomatis, mereka akan membutuhkan penginapan. Begitupun perangkat pertandingan yang terlibat.

Sehingga, dampak dari sport tourism sebetulnya sudah terlihat nyata. Pemerintah baik Kota atau Kabupaten Kediri tidak boleh abai.

Dalam hal ini, pemerintah hanya mengambil untung saja atas adanya event olahraga tersebut tanpa memperhatikan sarana dan prasarana untuk mendukung sport tourism.

Nahasnya, bentuk abai itu benar-benar sudah di depan mata. Tak adanya kepedulian terhadap Stadion Brawijaya, Kota Kediri, membuat Persik Kediri harus mencari stadion alternatif.

Pilihannya pun jatuh ke Stadion Soepriadi, Kota Blitar. Praktis salah satu sumber PAD yang seharusnya masuk ke Kota Kediri berpindah ke Kota Blitar. Sungguh miris!

Tak hanya itu, keberadaan GOR Jayabaya rasanya juga kurang mendapat perhatian. Faktanya, beberapa tim mengeluhkan suhu udara yang panas di dalam GOR.

Seharusnya, situasi ini harus segera ditangkap oleh Pemkot Kediri. Jika semua tim komplain dengan kondisi GOR maupun fasilitas yang ada di dalamnya, bisa saja penyelenggara event memilih venue di daerah lain. Lagi-lagi, sumber PAD akan melayang begitu saja.

Fakta menohok lainnya, bisnis perhotelan tengah terpuruk imbas efisiensi anggaran. Pasalnya, Mereka mengaku tidak bisa berharap atas kunjungan wisatawan seperti halnya di Bali, Yogyakarta ataupun Batu.

Bahkan berpindahnya pertandingan Persik Kediri ke Kota Blitar sudah mereka rasakan. Sehingga, banyak hotel di Kediri yang okupansi kamarnya turun serta mengalami pembatalan event. Praktis, sumber PAD dari perhotelan dipastikan turun.

Akhir kata, semoga dampak nyata dari event Proliga 2025 bisa membuka mata pemerintah mengenai pentingnya sport tourism. Apalagi, tempat-tempat wisata di Kediri yang kurang diminati pelancong. Semoga! (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kediri #Tourism #cuan #sport