Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dari Matematika TK hingga Otoritarian Kampus  

rekian • Senin, 4 November 2024 | 06:33 WIB
foto rekian
foto rekian

JP Radar Kediri- Kita harus jujur. Dunia pendidikan kita sekarang tidak baik-baik saja. Selalu saja ada dramanya. Mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi. Di taman kanak-kanak (TK) pembelajaran matematika jadi polemik. Di perguruan tinggi, kampus menjelma menjadi lembaga otoritarian terhadap mahasiswanya. 

Miris. Saat pendidikan di negara lain sudah melangkah maju, kita masih jalan di tempat. Sialnya, perdebatan perihal pendidikan ini selalu dimulai setiap pergantian pos menteri. 

Ganti menteri pasti ganti gaya. Imbasnya pasti mengubah kebijakan. Seperti sekarang, menteri pendidikan di Kabinet Merah Putih (KMP) yang menggantikan menteri Kabinet Indonesia Maju (KIM) sudah mengisyaratkan adanya perubahan metode belajar. 

Di TK, anak-anak akan diajarkan matematika. Bahkan ada keinginan akan mengembalikan metode belajar seperti masa silam. Ketika siswa yang gagal mengikuti kegiatan belajar mengajar tidak naik kelas. Pemberlakuan ulang nilai dengan angka merah. Menandakan siswa gagal di mata pelajaran tertentu. 

Baca Juga: Kenapa Kesehatan Mental Terkesan Mahal?

Setiap kali ada perubahan kurikulum dalihnya selalu menyebutkan metode pendidikan harus terus disempurnakan. Alasan klasiknya adalah mencari metode yang terbaik sesuai zamannya. 

Keinginan pendidikan untuk menyesuaikan zamannya itu patut diacungi jempol. Jika tidak berlebihan sangat visioner. Hasilnya nyata. Salah satu kesuksesan dari metode pembelajaran sesuai zaman itu adalah keberhasilan kita menciptakan kelas tiap generasi. 

Mulai dari gen X, gen Y, dan gen Z hingga gen alpha. Kelas paling tangguh dari tiap generasi itu adalah X dan Y. Dicitrakan sebagai generasi yang tangguh, tahan banting, dan tidak mudah patah arang. Sementara generasi Z (gen Z) yang 2024 ini sudah banyak memasuki usia kerja tidak sekuat generasi di atasnya. 

Stigma yang paling sadis yang ditulis berbagai media mainstream nasional menyebutkan, generasi Z adalah generasi paling malas di dunia kerja. Pernyataan itu semakin menancap di benak publik seiring maraknya video di laman media sosial. Yakni parodi yang membandingkan generasi X, Y dengan generasi Z. 

Jika stigma generasi paling malas itu benar, kemungkinan besar itu adalah dari pendidikan kita yang setiap waktu selalu berubah karena menyesuaikan zaman. Bukan begitu? 

Berikut yang ditulis jawapos.com pada 28 Oktober 2024 lalu menyebutkan, ada 75 persen perusahaan melaporkan semua lulusan perguruan tinggi yang baru mereka rekrut tidak memuaskan. Bahkan sebanyak 50 persen pemberi kerja menyebutkan kurangnya inovasi merekrut Gen Z. Dan 39 persen mengatakan keterampilan komunikasinya buruk. Sedangkan sebanyak 46 persen mengatakan kurang profesional diajak bekerja sama. 

Karena munculnya fakta-fakta itu, izinkan saya membaca apa yang ada di alam pikiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang ingin mengembalikan ke masa silam. Ada keinginan yang kuat untuk menjadikan generasi sekarang untuk kuat seperti generasi X dan Y. 

Yang punya semangat juang dan tangguh di setiap keadaan. Karena itulah, sesuai dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto, anak-anak muda di republik ini harus dididik sains. Karena itu sejak dini harus disiapkan. Salah satunya adalah mengenalkan matematika. 

Keinginan itulah yang kini menjadi polemik. Karena jika diterapkan secara ugal-ugalan, ada kekhawatiran si anak menjadi ogah belajar matematika. Bahkan enggan belajar matematika. Kekhawatiran itu sedikit membuat saya lega. Karena, si buah hati yang duduk di Raudhatul Athfal (setara TK) sudah bisa berhitung penjumlahan tanpa harus ketakutan. Pun lancar membaca.   

Saya setuju anak usia dini di bawah 7 tahun tak perlu dipaksa. Yang tepat diarahkan. Bikin dia senang. Menteri Mu’ti menyebutnya, bermain sambil belajar. Karena sejatinya, pendidikan anak usia dini masih setengah hati menjalankan program pemerintah. Anak TK tetap diajarkan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) semuanya karena tuntutan. Karena SD atau MI yang bagus masih mencari calon siswanya yang sudah lancar calistung. 

Bagi saya, seorang guru gagal menjadi pendidik ketika tidak ingin mengajar murid yang tak pandai calistung. Tugas guru adalah mendidik anak yang bodoh menjadi pintar, dan mengubah perilaku buruk muridnya menjadi baik. Kegagalan pendidik ini terjadi sejak pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. 

Seperti kegagalan perguruan tinggi yang membungkam mahasiswanya karena melakukan kritik terhadap penguasa. Milan Kundera (Kitab Lupa dan Gelak Tawa), perjuangan manusia terhadap kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa. Gelanggang mahasiswa adalah belajar. Kampus tak seharusnya menjadi otoritarian terhadap mahasiswa yang mengkritik pemerintah. Jika masih melakukan itu maka kegagalan pendidikan kita sudah sangat terstruktur. Dari level paling bawah hingga yang tertinggi.(Penulis adalah Rekian wartawan Jawa Pos Radar Kediri)  

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#abdul mu'ti #calistung #Kabinet Merah Putih #Raudhatul Athfal #tk #perguruan tinggi #matematika #generasi z #Prabowo Subianto