Oleh: Andhika Attar
Terkadang, kita sendiri suka abai. Mayoritas, menganggap kesehatan adalah monopoli fisik. Sementara mental dan jiwa seakan menjadi nomor dua. Padahal, semuanya harus satu paket. Bisa berjalan beriringan.
World Health Organization (WHO) adalah organisasi dunia yang bergerak dalam dunia kesehatan. Mereka memiliki pengertian tersendiri tentang indikator. Mengutip WHO, sehat adalah kondisi yang sempurna secara fisik, mental, dan sosial.
Ada tiga poin utama yang harus kita cermati. Fisik. Mental. Sosial. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Jika ada salah satu poin saja yang terlewat, artinya belum sempurna. Bisa juga dikatakan tidak sehat. Karena menurut pengertian tersebut, sehat harus mencakup ketiganya.
Kondisi ini tidak hanya berarti terbebas dari penyakit atau cacat. Tetapi juga adanya keseimbangan antara ketiga fungsi tersebut. Namun, pada kenyataannya, tidak selalu seperti itu. Banyak orang yang mengabaikan satu dari tiga poin tersebut.
Seperti kita tahu, kesehatan mahal harganya. Tapi tak sedikit yang benar-benar menghargainya. Terlebih terkait kesehatan mental. Kebanyakan orang, kelompok, hingga lembaga terkesan mengesampingkannya. Padahal, ini sangatlah penting.
Banyak yang berpikir kesehatan mental hanya formalitas belaka. Hanya segelintir -dan itu sangat sedikit- yang peduli dengannya. Ironisnya, itu tidak cuma datang dari eksternal. Harus kita akui, kita sendiri juga abai akan hal ini. Bahkan terhadap diri sendiri.
Ini sering terjadi. Mungkin saja semakin kuat seiring dengan perkembangan zaman. Terlebih bagi mereka yang kehidupannya serba cepat. Serba diburu waktu. Seperti mereka yang hidup di lingkungan perkotaan. Tentu, tekanan akan lebih terasa. Banyak faktornya.
Sayangnya, dengan semua tekanan yang ada, mau tidak mau harus ada fungsi kesehatan yang dikalahkan. Selama tidak sampai diinfus, artinya sehat. Entah bagaimana hancurnya mental.
Kita semua tidak tahu bagaimana tekanan dirasakan masing-masing orang. Ada yang memiliki toleransi tinggi. Ada yang sedang, bahkan rendah. Nah, ini yang kita tidak bisa pukul rata. Mungkin kalian kuat. Tapi tidak berarti orang lain sekuat kalian.
Belum lama ini, kasus mengerikan terjadi di Kota Kediri. Ada seorang ibu yang membunuh kedua anak kandungnya. Kejadiannya sangat mengerikan. Dua anak tak berdosa itu dibacok dengan parang. Saat sedang tidur terlelap. Untuk membayangkannya saja tidak bisa.
Mereka yang telah memiliki anak akan merasa sedih berlipat-lipat akan kasus tersebut. Benar-benar di luar nalar. Dan memang benar. Orang tua normal mana yang akan tega membunuh anak kandungnya dengan sangat sadis semacam itu. Tidak akan ada yang kuat.
Dari hasil pemeriksaan intensif, ibu itu dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan. Kasusnya pun dihentikan. Tidak bisa dilanjutkan. Siapa yang dirugikan? Siapa yang harus disalahkan?
Itu pertanyaan besar yang akan terus menghantui. Seperti mencari jarum pada tumpukan jerami. Mencari jawaban tersebut tidak akan ada habisnya. Semua memiliki versinya masing-masing. Semua juga memiliki pembelaannya sendiri-sendiri.
Tapi yang pasti, kesehatan mental itu sangat penting. Tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Mungkin, tidak semua orang yang terganggu jiwanya bakal seperti ibu itu. Kadarnya akan berbeda-beda. Namun, tetap saja. Urusan mental tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Perlu ada kesadaran kita bersama. Tidak ada yang aneh dengan memeriksakan kondisi kesehatan mental kita. Tidak haram hukumnya konsultasi kepada ahlinya. Mari kita jadikan itu semua hal yang wajar. Sama halnya orang yang terkena gejala flu lalu datang ke dokter umum. Justru sebaiknya memang seperti itu. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah