Pernah menyeruput kopi instan? Bagaimana rasanya? Mantap? Terlalu manis? Terlalu pahit? Kurang nendang?
Bagi penyuka (asli) kopi, mengonsumsi coffee instant tentu kurang terasa kekopiannya. Menurut mereka yang lidahnya sudah kopi banget, kopi instan tak bisa menghadirkan taste yang seharusnya dimiliki kopi. Tapi, bagi yang bukan penyuka fanatis kopi, menikmati minuman dalam sachet seperti itu tak akan ada bedanya. Toh, sama-sama disajikan dalam cangkir, dan dinikmati sembari ngobrol ngalor ngidul.
Dari sisi bahasa, kata instan bukanlah kata asli Indonesia. Serapan dari kata asing (bahasa Inggris) ‘instant’. Maknanya, segera atau seketika. Padanannya, immediately.
Lalu, apa makna instan dalam bahasa Indonesia? Coba kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Merujuk dari kamus rujukan itu, instan bermakna langsung dapat diminum atau dimakan. Tentu saja, itu merujuk pada makanan. Misalnya ya kopi instan itu. Buka sachet-nya, tuang ke cangkir, beri air panas, langsung bisa disruput.
Nah, dalam perkembangannya, instan digunakan untuk sesuatu yang berlangsung sangat cepat. Tanpa proses panjang. Maknanya, mencapai sesuatu tanpa melalui tahapan yang seharusnya dilewati.
Dalam olahraga, khususnya sepak bola, kata instan ini paling sering digunakan. Terutama bila merujuk klub-klub yang ingin cepat menjadi besar dan terkenal. Maka, jalur instan adalah pilihannya.
Caranya? Tentu dengan mendatangkan komponen-komponen penyusun sukses itu secara langsung. Membeli pemain-pemain yang sudah jadi, pelatih yang sudah berkaliber, atau bahkan, menyuap sana sini agar timnya langsung meraih hasil maksimal.
Tak ada proses pembinaan dalam model yang seperti itu. Karena menciptakan pemain bagus yang harus mulai dari nol tentu akan sangat menguras tenaga. Itupun, belum tentu akan berhasil. Atau, ketika sudah bagus justru dimiliki klub lain.
Karena itu, klub-klub, terutama yang mengklaim profesional, lebih memilih jalur instan. Toh, ada uang untuk melakukan itu. Tinggal beli sana, beli sini, beres deh.
Lalu, apakah metode instan seperti itu bisa sukses? Ya belum tentu juga. Tetap butuh proses juga. Cerita tentang Chelsea dan Paris Saint Germany (PSG) adalah contohnya. The Blues butuh waktu beberapa musim baru bisa merajai di Liga Inggris. Demikian pula PSG, keinginannya merajai sepak bola Internasional belum juga terwujud meskipun mereka bisa mengumpulkan pemain-pemain terbaik dunia.
Skala nasional, Persik bisa dikategorikan dalam kelompok ini. Era 2000-an adalah masa keemasan sang Macan Putih. Sejak berada di divisi 2 kemudian promosi ke divisi 1 hingga masuk divisi utama, langkah Persik adalah mendatangkan sosok-sosok yang sudah ‘jadi’. Sebut saja nama-nama Jaya Hartono, Mecky Tata, Hariyanto, Siswantoro, dan beberapa nama lain ketika mereka berjuang di divisi 1. Nama-nama pemain itu adalah mereka yang sudah besar di klub-klub lain.
Dari sisi ini, Persik adalah contoh konkret tim yang berhasil dengan model membangun tim secara instan. Meskipun ber-basic perserikatan, kompetisi internal tak berputar. Kompetisi baru berputar justru ketika Persik sudah mantap di Liga Indonesia. Artinya, klub-klub anggota Persik mulai bermunculan (lagi) justru ketika sang induk sudah merengkuh prestasi nasional.
Model ini tentu punya risiko. Terutama soal biaya dan ‘kerapuhan’ fanatisme pemain. Karena harus mendatangkan pemain-pemain top secara instan, kocek yang harus dirogoh tentulah harus berisi banyak uang. Sebab, bila kemudian terjadi sebaliknya, keruntuhan akan membayang. Persik juga bisa menjadi contoh paling dekat. Ketika suplai dana dari APBD terhenti, sedangkan manajemen belum mampu menggali dana sponsor dengan baik, prestasi pun anjlok.
Kondisi agak berbeda ditunjukkan oleh saudara muda mereka, Persedikab. Dulu, di era 1990-an hingga awal 2000-an, mereka dikenal memiliki jenjang pembinaan pemain lokal yang lumayan. Kompetisi internal dengan susah payah dijalankan. Meskipun harus dinunut-nunutno ke turnamen antarkampung alias tarkam. Hasilnya, banyak pemain bagus yang muncul. Sebut saja nama Bambang Drajat yang pernah mengisi skuad PSSI Garuda. Atau nama Musikan yang moncer sebagai bomber Persedikab, bahkan Persik. Hanya, jalur seperti ini butuh waktu dan kedisiplinan dalam berproses.
Lalu, mana yang seharusnya dipilih? Ya bergantung hasrat dan keinginan. Bila ingin memiliki klub yang segera bisa bersaing di papan atas, pilihan instan bisa dicoba. Namun, bila ingin merangkai prestasi dengan melihat talenta lokal menghiasi, maka pilihan non-instan boleh dilakukan. Kalau Anda, pilih yang mana?(*)
Editor : adi nugroho