Ada “crazy rich” yang benar-benar “rich” (kaya), yang hartanya diperoleh dari hasil kerja keras dan kerja cerdas. Tapi ada juga “crazy rich” yang “rich”-nya karena polesan. Alias, hartanya diperoleh dengan cara nggak bener (menipu), atau karena dititipi orang (money laundry). Masalahnya, ketika mereka sama-sama pamer kekayaan ke publik melalui media sosial (medsos), nyaris tidak bisa dibedakan.
Baru bisa dibedakan jika ada yang terkena kasus. Seperti dialami Indra Kenz, “crazy rich” dari Medan, dan Doni Salmanan, “crazy rich” asal Bandung, yang keduanya kini ditahan polisi. Mereka dijadikan tersangka oleh Bareskrim Polri karena keduanya aktif sebagai afiliator yang menawarkan keuntungan dari trading lewat aplikasi Binomo dan Quotex. Selain melanggar karena mereka aktif menghimpun dana dari nasabah secara ilegal, juga menjanjikan keuntungan besar bagi yang berinvestasi, padahal bohong.
Sebelumnya, publik sempat terpukau dengan gaya hidup mewah dua crazy rich itu (Indra dan Doni). Mulai dari pamer motor, mobil mewah, dan mengoleksinya. Pamer barang-barang branded. Pamer tempat liburan ke luar negeri. Hingga pamer kebiasaan mahal, yang tak semua orang bisa melakukannya. Pokoknya, apa saja dipamerkan di medsos, agar yang melihatnya terpukau, kagum dan ngiler.
Fenomena “crazy rich” memamerkan harta, kekayaan, dan kebiasaan mewahnya di medsos itu disebut flexing oleh Prof Rhenald Kasali. Kata dia, aksi flexing dilakukan untuk mendapatkan opini dari publik bahwa dia adalah orang yang sangat kaya. Dampaknya, keluarlah julukan seperti “Sultan” atau “Crazy Rich”, artinya orang-orang dengan hidup mewah serta bergelimang harta.
Adanya flexing di medsos, diakui atau tidak, telah mengikis pemahaman umum yang selama ini dianggap negatif. Harus kita akui, secara umum orang berpandangan bahwa kebiasaan suka pamer harta itu negatif. Dalam Islam disebut riya’. Dalam bahasa Jawa ada ungkapan: “banda dunya ora jaminan urip tentrem”. Artinya, kekayaan di dunia tidak bisa menjamin hidup tenteram. Karena itu, kekayaan material itu tak pantas dipamerkan. Dulu, jarang kita menyaksikan orang-orang yang kaya dan berkedudukan sosial tinggi memamerkan harta kekayaannya. Kalau pun ada yang memamerkan, biasanya ada pihak ketiga yang memamerkannya kepada publik.
Tapi, itu dulu. Medsos hadir dengan menyediakan apa yang dulunya tidak tersedia, kini tersedia. Yakni anonimitas. Misalnya di Facebook, Instagram, maupun di TikTok, orang bisa dengan mudahnya mengarang atau membesar-besarkan sesuatu untuk menarik perhatian orang lain agar dirinya dianggap superior. Padahal, kenyataannya mungkin tidak selalu demikian.
Baru-baru ini ada salah satu crazy rich bersama isterinya yang suka memamerkan pesawat jet pribadinya. Padahal, pesawat jet pribadi itu disebut-sebut milik orang lain, yang sebenarnya dia sangat kaya, tapi tak pernah tampil di publik.
Dan memang, ada banyak orang superkaya di negeri ini yang lebih memilih “bersembunyi” ketimbang harus tampil ke publik memamerkan harta dan kemewahannya. Makanya, mereka yang ingin pamer itu, kira-kira ada dua penyebab. Pertama, orang itu sedang bermasalah dengan dirinya sendiri. Misalnya, rasa percaya dirinya hanya dia peroleh dengan cara mempertontonkan kekayaan dan kemewahannya. Kedua, karena tuntutan profesi karena sebagai artis, dan sebagai brand ambassador produk-produk tertentu. Sehingga, memang ada yang harus dipamerkan sebagai endorse.
Fay Weldon, penulis buku: “The Life and Loves of She-Devil” mengemukakan, bahwa menahan hasrat yang tak terkendali untuk mengekspresikan sesuatu, membuat orang menderita. Dengan kata lain, ketika ada orang-orang yang suka memamerkan kekayaannya (karena tidak bisa mengendalikan hasrat untuk mengekspresikan sesuatu) maka sesungguhnya ada “korban” bagi yang melihatnya. Bayangkan, bagaimana jadinya jika anak-anak kecil di bawah usia 10 tahun, dia sering terpapar di medsos tentang pola hidup berlebihan para “crazy rich”, yang membeli nasi goreng seharga Rp 400 juta. Yang begitu mudahnya memberi uang hingga Rp 1,5 miliar kepada seorang gamer. Dan ada juga yang memberi kejutan isterinya dengan memberi hadiah pesawat jet seharga Rp 100 miliar.
Maka, bisa saja terjadi, para generasi muda kita tidak lagi menyukai proses. Tidak lagi menghargai proses, bahwa untuk kaya itu butuh kerja keras. Di benak mereka, bisa jadi bakal tertanam budaya yang serba instan. Dan tak menghargai proses. Ini sesungguhnya berbahaya.
Melarang untuk pamer di medsos, jelas tidak mungkin. Maka, yang bisa kita lakukan adalah bijak dalam merespon. Jangan mudah memberikan “like” dan “subscribe” untuk konten di medsos yang tidak mendidik dan berpotensi membahayakan generasi muda kita. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : adi nugroho