Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hari Jadi Kediri

adi nugroho • Senin, 21 Februari 2022 | 18:45 WIB
hari-jadi-kediri
hari-jadi-kediri


Jarak antara hari jadi Kota Kediri dan Kabupaten Kediri,  tidak terlalu lama. Tahun ini, hari jadi Kota Kediri adalah yang ke-1.143. Nanti, pada 27 Juli. Sedangkan hari jadi Kabupaten Kediri tahun ini adalah yang ke-1.218. Bulan depan nanti, tepatnya 25 Maret. Jadi, jika merujuk pada dua hari jadi itu, selisih umur antara Kabupaten Kediri dan Kota Kediri hanya 75 tahun.


Berbeda dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang. Selisih umur antara Kota Malang dan Kabupaten Malang jika merujuk pada hari jadinya adalah 1.154 tahun. Hari jadi Kota Malang ditetapkan pada 1 April 1914. Sehingga tahun ini adalah hari jadi ke-108. Hari jadi Kabupaten Malang ditetapkan pada 28 November 760 M. Sehingga tahun ini adalah hari jadi ke-1.262.


Selisih umur yang cukup jauh juga terjadi antara Kota Madiun dan Kabupaten Madiun. Yakni selisihnya 350 tahun. Hari jadi Kota Madiun ditetapkan pada 20 Juni 1918. Sedangkan hari jadi Kabupaten Madiun ditetapkan pada 18 Juli 1568.


Persamaan antara Kota Malang-Kabupaten Malang dengan Kota Madiun-Kabupaten Madiun dalam melihat  hari jadinya, yakni yang satu (wilayah kabupaten) mengambil dasar di masa kerajaan (nusantara kuno), dan satunya mengambil dasar ketika pemerintahan itu dibentuk di masa Belanda (awal abad ke-20).


Makanya ketika bertugas di Kediri, saya diberitahu bahwa umur Kota Kediri sudah 1.142 tahun, saya sempat kaget. Karena saya lihat di Wikipedia, wali kota pertama Kediri, yakni Mr L.K Wennekendonk (orang Belanda) menjabat mulai 1929 – 1936. Dalam pemahaman awam saya, hari jadi sebuah kota, itu didasarkan pada sejak kapan kota itu ditetapkan. Dan dalam pemahaman awam saya, Belanda mulai gencar membentuk semacam pemerintahan kota di daerah-daerah jajahannya, terutama di Pulau Jawa itu pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1900-an). Seperti yang dilakukan di Malang dan Madiun. Seharusnya juga di Kota Kediri.


Tapi, ternyata Kota Kediri punya cara tersendiri dalam menetapkan hari jadinya. Tentu saja sudah melibatkan para pakar sejarah. Yakni didasarkan pada adanya prasasti Kwak, yang ditemukan di Desa Ngabean, Magelang, Jawa Tengah. Prarasasti itu tertulis 27 Juli 879 M. Dalam prasasti itu terdapat keterangan tentang penganugerahan sima atas Desa Kwak, yang diyakini berada di wilayah Kerajaan Kediri.


Makanya, setiap kali merayakan hari jadinya, Kota Kediri selalu melakukan ritual Manusuk Sima, di mana ini dilatarbelakangi pemberian anugerah oleh Kerajaan Mataram (kuno) terhadap warga Kwak, yang salah satu bagian dari wilayahnya ditetapkan sebagai tanah sima. Manusuk Sima mengandung arti, penetapan sawah petagalan seluas empat tampah. Ini terjadi di masa kejayaan Raja Rakai Kayuwangi. Tanah Sima ini sangat subur, dialiri air patirtan Tirtayasa sehingga dapat menyejahterakan masyarakat Kota Kediri hingga kini.


Penetapan hari jadi Kota Kediri berdasarkan prasasti Kwak ini sempat menjadi polemik. Pernah muncul perdebatan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi Nasional dan Kongres Ikatan Ahli Arkelologi Indonesia yang digelar pada 23-28 Juli 2002 di Kediri. Sebagian peserta kala itu mempertanyakan validitas penetapan hari jadi Kota Kediri berdasarkan Prasasti Kwak itu.


Tetapi, sejarah itu memang soal interpretasi dan sudut pandang. Interpretasi dalam sejarah adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Interpretasi dalam sejarah dapat juga diartikan sebagai penafsiran suatu peristiwa atau memberikan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa. Makanya, dalam sebuah sejarah dari peristiwa yang terjadi di masa lalu, sangat mungkin terjadi lebih dari satu versi.


Sehingga, sah-sah saja, ketika Kota Kediri menetapkan hari jadinya mendasarkan pada prasasati tertentu. Pada perspektif sejarah tertentu. Jadi, tidak mendasarkan pada saat ditetapkan menjadi sebuah kota oleh Hindia Belanda.


Saya lantas teringat dengan kisah di balik hari ulang tahun Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, yang juga mentor jurnalistik saya di Jawa Pos. Tanggal lahirnya pas pada 17 Agustus. Apakah memang tanggal lahirnya tepat di hari kemerdekaan itu? Ternyata tidak. Dia pernah menceritakan kisahnya kepada kami, bahwa saat dia lahir, ayahnya mencatat tanggal lahirnya di balik pintu. Maklum, Dahlan lahir di sebuah desa di Magetan, dari keluarga sangat miskin, yang ayahnya serba terbatas untuk sekadar mendokumentasikan kelahiran anaknya.


Maka, kelahiran sang anak dicatat dibalik pintu. Suatu ketika, keluarga itu butuh uang. Dan terpaksa harus menjual pintu di rumahnya itu. Ayah Dahlan lupa, bahwa di balik pintu itu ada tanggal lahir anaknya. Maka, saat pintu itu laku terjual, maka hilanglah tanggal lahir Dahlan. Sehingga saat Dahlan masuk usia sekolah, ayahnya tak ingat kapan tepatnya anaknya lahir. Maka, Dahlan bikin ketetapan sendiri. Dia ingin kelahirannya diingat dan diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Maka, dia memilih sendiri tanggal kelahirannya: 17 Agustus. Sehingga, tanggal dan bulan itu lah yang tertulis di KTP Dahlan. Hingga kini.


So, banyak cara untuk menetapkan hari jadi. Tinggal Anda pilih cara yang mana. Juga, banyak pertimbangan dalam menetapkan hari jadi. Bisa juga pertimbangan politis. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #kabupaten kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #berita kediri #kota kediri