Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perserikatan, Galatama, dan Galatawa

adi nugroho • Senin, 31 Januari 2022 | 17:15 WIB
perserikatan-galatama-dan-galatawa
perserikatan-galatama-dan-galatawa


Istilah-istilah dalam judul tulisan di atas, mungkin, tidak dikenal oleh publik sepak bola saat ini. Terutama yang masuk golongan generasi milenial. Maklum, dua di antaranya merupakan istilah  yang digunakan era lama sepak bola Indonesia. Persisnya, hingga awal 1990-an. Sedangkan yang satu lagi, tentu pembaca sudah paham, adalah pelesetan dari kompetisi yang digelar waktu itu.


Dua istilah itu, Perserikatan dan Galatama, adalah model kompetisi yang digunakan oleh sepak bola tanah air. Paling tua adalah Perserikatan. Sebab, kompetisi ini lahir seiring dengan terbentuknya pada PSSI pada 1931. Karena berlangsung sebelum Indonesia merdeka, ajang kompetisi ini juga bernuansa perjuangan.


Sementara, Galatama adalah akronim dari Liga Sepak Bola Utama. Kompetisi ini menjadi blue print sepak bola profesional tanah air. Meskipun di awal kelahirannya, pada 1979 di era kepemimpinan Ali Sadikin di PSSI, Galatama diproklamasikan sebagai sepak bola semi-pro.


Kala itu, kedua model kompetisi ini berjalan seiring. Ada Galatama, ada pula kompetisi perserikatan. Klub pesertanya pun sangat-sangat berbeda. Galatama diisi oleh klub-klub yang didanai oleh pihak swasta, baik pribadi atau perusahaan macam perusahaan cat Warna Agung. Sedangkan perserikatan dihuni oleh klub-klub yang dibawah asuhan pemerintah daerah setempat. Semangatnya, perserikatan adalah untuk ruang pembinaan alias amatir. Pemainnya tak bergelimang uang seperti halnya pemain Galatama yang benar-benar bermain sepak bola untuk mendapatkan bayaran.


Perbedaannya lagi adalah soal penonton. Gebyar Galatama, meskipun dari sisi permainan jauh lebih berkualitas, tapi masih kalah pamor dengan perserikatan. Ini dalam hal fanatisme pendukung. Karena membawa nama daerah, suporter tim-tim perserikatan sangat militan.


Namun, kisah dua kompetisi sepak bola tanah air itu terhenti pada 1994. Sjarnoebi Said, ketum PSSI kala itu,  melebur dua kompetisi itu menjadi satu. Menjadi Liga Indonesia. Pesertanya, gabungan antara perserikatan dan galatama.


Pada awal peleburan hingga awal 2000-an, meskipun sudah melebur jadi Liga Indonesia, pengelolaan klub asal perserikatan masih abu-abu. Campur tangan pemda sangat dominan. Boleh jadi, hidup matinya klub perserikatan bergantung pada besarnya anggaran yang disiapkan oleh pemda. Kemudian, aturan ketat sesuai statuta, dan aturan pemerintah, semua klub harus professional. Artinya tak boleh ada campur tangan pemerintah daerah.


Kediri sendiri, dulu punya dua klub perserikatan. Yang tertua, adalah Persik Kediri. Catatan sejarah, Persik-kependekan dari Perserikatan Sepak Bola Indonesia Kediri-ini lahir 1950. Atau hampir 20 tahun setelah PSSI lahir. Inisiatornya adalah R. Muchammad Machin, bupati Kediri saat itu. Sedangkan Persedikab lahir beberapa tahun kemudian, pada 1989. Uniknya, prestasi Persedikab lebih dahulu moncer. Ketika Persik masih berkutat di Divisi 3, Persedikab justru sudah berlaga di divisi utama. Meskipun tak konsisten. Setidaknya tim ini pernah berlaga di divisi utama dua kali, musim 1996-1997 dan 2002. Hanya, musim itu pula Persedikab terdegradasi lagi.


Dalam perkembangannya, Persik kini lebih moncer. Mereka dua kali juara liga. Meskipun sempat degradasi, mereka mampu kembali ke kelas utama. Dan kini, mereka juga tengah berjuang menghindari jurang degradasi.


Sedangkan Persedikab, mereka masihlah klub amatir. Karena status sebagai kontestan Liga 3, memang membolehkan seperti itu. Kini, mereka juga tengah berusaha keras merangkak naik ke Liga 2. Catatannya, mereka mampu melewati kerasnya persaingan Liga 3 level nasional.


Ada yang perlu digarisbawahi dari sepak terjang dua klub itu, Persik jadi jagoan liga ketika kucuran APBD masih bebas. Ketika terjadi sebaliknya, dan aturan mengharuskan mereka profesional, klub ini sempat limbung. Kini, setelah melalui perjalanan panjang, mereka berusaha eksis. Tentu dengan upaya  menggandeng berbagai investor. Meskipun, investor itu berasal dari luar Kediri.


Tentu, di alam sepak bola profesional, batasan wilayah sudah tak bisa dipahami dari sisi sempit. Meskipun, dari sudut pandang suporter, kedaerahan tetap pegang peranan penting. Dari manapun asal investor, asal home base-nya tetap di Kediri maka pendukung fanatiknya tetap saja orang-orang Kediri atau yang punya kaitan dengan Kediri.


Kadang, situasi seperti itu menjadi dilema. Munculnya investor dari luar daerah menimbulkan kekhawatiran bahwa klub akan diboyong ke tempat lain. Itu memang risiko yang mungkin saja terjadi. Apalagi, dalam sejarah sepak bola nasional, banyak klub yang berpindah ‘rumah’.


Namun, dalam pandangan saya, untuk kasus investor yang masuk ke Persik, kemungkinan pindah sangatlah kecil. Alasannya, Persik punya basis pendukung yang sudah kuat. Jelas pilihan bodoh bila harus meninggalkan basis pendukung seperti itu. Sementara, klub-klub yang sering gonta-ganti home base justru berusaha mencari basis pendukung. Sebab, tanpa ada suporter fanatis, klub sepak bola seperti bermain dalam kompetisi galatawa alias liga sepak bola tertawa. (*)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #info kediri #sepak bola #info terkini #berita kediri