Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Goal, Gol, dan Kreativitas +62

adi nugroho • Senin, 24 Januari 2022 | 16:53 WIB
goal-gol-dan-kreativitas-62
goal-gol-dan-kreativitas-62


Sepak bola Indonesia ternyata lebih kaya istilah dibanding di negara aslinya. Tak percaya? Simak saja, Inggris, yang notabene dianggap sebagai negeri leluhur olahraga ‘laki-laki’ ini tak mampu membedakan antara bola yang melewati dua tiang kayu sebagai sasaran dengan nama tiang kayu itu sendiri. Mereka menyebut keduanya dengan istilah goal. Bola yang masuk ke gawang dikatakan goal. Sedangkan dua tiang kayu yang dijaga pemain yang disebut keeper itu juga goal.


Beda dengan kita, orang-orang +62, punya istilah yang berbeda untuk dua hal tersebut. Bila menyebut bola yang melewati area antara dua tiang itu, istilahnya hampir mirip, gol. Dan, istilah ini memang serapan dari kata goal dalam Bahasa Inggris. Sedangkan sasaran dari gol itu disebut gawang.


Secara harfiah, makna gawang adalah kusen. Atau bingkai yang mengitari pintu atau jendela. Dan memang, bentuk gawang mirip dengan kusen pintu. Berbentuk persegi panjang. Dua tiang itu dihubungkan dengan kayu melintang yang disebut mistar. Dalam perkembangannya, di sisi belakang gawang diberi jaring. Ini untuk menahan bola yang masuk gawang agar tidak melaju jauh.


Tapi, saya tak ingin berpanjang lebar membicarakan soal gawang. Karena yang lebih menarik dalam sepak bola adalah goal yang bermakna masuk. Bukan goal yang bermakna gawang. Sebab, tujuan utama permainan ini adalah menciptakan goal. Semakin banyak goal tercipta, semakin menarik satu pertandingan.


Atau, bagi satu kesebelasan, menciptakan gol adalah tujuan utama mereka. Harapannya, mereka bisa mencetak gol sebanyak-banyaknya dan menghalang pemain lawan melakukan hal serupa. Itu yang kemudian disebut dengan kemenangan.


Karena tujuannya menang, setiap pemain atau klub, berusaha mati-matian mendapatkannya. Kadang disertai dengan upaya-upaya culas. Baik itu culas yang masih bisa ditoleransi atau culas yang merupakan pelanggaran hukum berat.


Lho, adakah culas yang bisa ditoleransi? Banyak. Menjegal lawan dengan sengaja, menyentuh bola dengan tangan yang disengaja, berpura-pura cedera, menarik baju pemain lawan, adalah sederet culas yang masih ditoleransi. Meskipun, sang pengadil lapangan hijau pasti tak tinggal diam. Korps baju hitam ini akan mengeluarkan peringatan, kartu kuning, hingga kartu merah.


Lalu, culas yang tak termaafkan? Tentu saja yang menghalalkan semua cara untuk menang. Menyogok atau menyuap wasit, peman lawan, atau perangkat pertandingan yang lain. Juga, mengatur semua hal agar timnya bisa memenangkan pertandingan atau menjuarai satu kompetisi. Culas jenis ini bukan kartu merah lagi urusannya, tapi sudah masuk ranah hukum.


Sayangnya, sepak bola sepertinya adalah wajah dari kehidupan kita sehari-hari. Masih banyak polah kita yang lebih mementingkan tujuan untuk ‘menang’ daripada bersikap fairplay. Di jalanan misalnya, kendaraan-kendaraan besar akan berbuat semaunya agar mereka bisa mencapai keinginan. Berhenti mendadak, atau berhenti tak minggir terlebih dahulu sudah dianggap biasa. Yang hendak protes karena merasa ‘dilanggar’ haknya justru menjadi pihak yang dimusuhi.


Di pasar-pasar, masih banyak pedagang yang bermain dengan timbangannya. Membuatnya kurang pas, sehingga jumlah barang yang dijual kepada pembeli tidak seperti yang diinginkan. Bobotnya berkurang.


Seorang politisi akan melakukan semua hal agar bisa menang. Meskipun ada rule of the game, toh semuanya bisa diakali. Mendapatkan rekomendasi partai bukanlah urusan tentang kualitas sang calon serta banyaknya dukungan. Melainkan bagaimana kuat si calon itu memiliki jaringan lobi serta berapa tumpuk harta yang dia miliki. Setelah itu, mereka masih melakukan segala hal untuk mendapatkan goal-nya. Bila perlu menyingkirkan lawan politik dengan cara kasar.


Di kehidupan nyata, sliding, tackling, dan handsball memang dilarang. Tapi, seperti halnya pemain sepak bola, selama itu tak diketahui wasit, maka tak ada efeknya. Karena itu, yang melakukan tindakan un-sportive itu berusaha mengakali sang wasit dengan cara menyogok! Nah, memang, meminjam slogan iklan dari salah satu perusahaan rokok besar, sepak bola adalah kita. (*)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #budaya #kediri #info kediri #sepak bola #info terkini #berita kediri