“Mmmbbii....luuuungggg!!!”
Suara tenor khas Ndara Bei mengalun nyaring. Suara berat bercampur serak karena tenggorokan kering itu menyentak tiba-tiba. Memecah keheningan siang terik awal puasa di tahun angka kembar ini, 2020. Memanggil sosok yang telah dicari ke berbagai sudut rumah tapi tak ketemu.
“Nggih Ndara....”
Suara yang dicari-cari sang bendara itu akhirnya nongol juga. Ada nada cengengesan dalam sahutan itu. Khas nada kawula yang setengah mbeling. Mirip-mirip dengan namanya, Mbilung.
“Ke mana wae kamu?” Ini pertanyaan pertama Ndara Bei setelah menemukan sosok yang dicari-cari sejak tadi. Masih dengan nada memendam marah.
“Eh.., saking tetangga Ndara... Nyambangi si Sudrun yang baru pulang kampung dari kota. Lha di rumahnya itu lho rame Ndara... Semua pada ngumpul. Pak RT, Pak RW, Pak Kasun, ada juga Pak Kades...,” jawaban Mbilung, abdi dalem si ndara ini seperti tak terbendung. Nyerocos tanpa jeda. Seperti tahu bahwa sang bendara pingin jawaban cetha wela-wela.
Seperti paham kebiasaan tuannya bila sedang marah, Mbilung segera meletakkan jari-jari tangannya yang gempal itu ke kaki Ndara Bei. Sementara sang bendara duduk di kursi malasnya sembari melonjorkan kaki. Matanya masih mendelik. Nyaris bulat-lat. Memeloti si abdi yang sangat terlihat tengah merayu tuannya agar tak jadi marah.
“Lha ngapain kamu ikutan ke sana?” tanya Ndara Bei. Nada suaranya mulai menurun. Mulai mencair.
Tanpa disuruh kedua kalinya lagi, Mbilung pun bercerita panjang kali lebar. Runtut mulai awal hingga akhir. Terperinci, bahkan terlalu detil. Menceritakan si Sudrun yang baru tiba dari Jakarta. Dengan anak istrinya. Datang ke rumah orang tuanya di desa mereka dengan tiba-tiba. Karena di Jakarta sudah tak ada harapan lagi bagi kebulan asap periuk dapurnya.
“Jualan soto kelilingnya sudah tak ramai lagi Ndara. Sejak si korona ini muncul jadi wabah. Padahal anak-anaknya masih kecil lho...masih sumega-sumegane.. Jadinya dia ya memilih pulang. Daripada di sana jadi mbambungan.”
“Jadi si Sudrun mudik?” tanya Ndara Bei. Lebih mirip hanya ingin menegaskan saja dari cerita bertele-tele si Mbilung.
“Pulang kampung, Ndara..,” jawab Mbilung, sekaligus menepis istilah si tuan.
“Ah, kamu itu. Mudik dan pulang kampung kan sama.”
“Ya tidak ta ndara... Mudik ya mudik. Pulang kampung ya pulang kampung,” jawaban Mbilung diwarnai ngeyelnya yang khas.
“Wis...wis, ya wis. Sing penting ngapa kok pada nglumpuk?” Ndara Bei memilih ngalah sembari menikmati pijatan Mbilung yang memang terkenal nyamleng.
Selanjutnya....Ndara Bei pun mendengarkan runtutan cerita kisah si Sudrun. Tentang pria itu yang pulang kampung. Tentang penyebab pria itu kembali ke desanya. Tentang kondisi di Jakarta yang sudah tidak bersahabat lagi dengan ‘bisnis’ supermininya sebagai penjual soto keliling. Pelanggannya menurun drastis. Bahkan hingga mencapai titik terendah. Nol.
“Mboten wonten yang beli nasi sotonya ndara... Semua pada takut. Apalagi setelah viral ada orang di Semarang yang, katanya, tertular dari tukang sayur. Dia jadi tak punya pemasukan. Di Jakarta hanya berdiam di kontrakannya. Lha kontrakan niku kan harus tetap bayar juga Ndara. Uang dari mana untuk bayar itu?”
Sampai di sini Ndara Bei masih asyik mendengar cerita Mbilung sambil liyer-liyer. Angannya menerawang dengan berita-berita yang sudah dia baca itu. Cerita Mbilung, rewang yang telah mengabdi puluhan tahun pada dirinya itu bukan sesuatu yang baru. Sama dengan berita-berita yang dia baca. Jadi, dia nikmati cerita itu sembari merasakan pijatan ringan tangan abdinya itu. Dan itu mampu menghilangkan rasa penat setelah seharian berkutat di kebun sempit di belakang rumah.
“Kalau kemudian Sudrun memilih pulang kampung kan wajar to Ndara. Yang jadi masalah, pulang kampungnya kali ini di saat yang kurang tepat. Pak RT, pak RW, Pak Kasun, dan Pak Kades, justru mendatangi. Juga para tetangganya. Mereka semua nyinir lho Ndara. Bertanya ini itu. Kenapa kok mudik? Apa ndak tahu kalau ndak boleh mudik? Berapa suhu tubuhmu? Merasa sesak ndak? Pokoke pitakon macem-macemlah Ndara,” cerocos Mbilung.
Sampai di sini, Ndara Bei tergelitik mengomentari. “Ya wajar to Lung.., wong di zaman pagebluk seperti sekarang. Semua takut virusnya pada nulari wong sak desa. Mangkane Pak Kades takon-takon kaya kuwi,” Ndara Bei berkomentar.
“Nggih, wajar nggih wajar Ndara. Tapi apa mereka itu gak merasa seperti apa susahnya pilihan yang diharapi Sudrun? Bertahan di tempat rantau saat dia tak punya penghasilan? Padahal dia kan bukan orang kaya Ndara. Hasil jualannya terkuras untuk bayar kontrakan dan cicilan motornya lho Ndara. Belum lagi biaya hidup sehari-hari.”
“Sementara, kata para penggede yang wenehi sumbangan katanya Sudrun nggak terwujud lho Ndara. Sampai dia pulang belum ada bantuan beras atau lainnya yang dia terima. Kalau tetap bertahan di sana, mau makan apa ayo?” ucapan Mbilung mulai berlagak seperti pembela di satu pengadilan.
“Ada lagi ndara, yang juga harus kita pahami dari kenekatan Sudrun tetap pulang kampung. Bagi orang Jawa, pepatah mangan ora mangan pokok kumpul itu masih diugemi erat lho Ndara. Sudrun juga sempat mbisiki saya, ngeluh gini.., wong pingin ngumpul karo sanak kadange wae kok cik angele to Lung..Mbilung. Gitu Ndara.”
“Ya harus ditahan dulu Lung. Kan ini tidak selamanya. Kalau kondisi sudah normal Sudrun kan bisa pulang kampung dengan bebas,” Ndara Bei akhirnya tak puas hanya ngegongi.
Tapi, sepertinya, Mbilung tak terlalu mendengarkan sanggahan si bendara-nya. Dia pun asyik nyerocos meneruskan omongannya. Lebih ditujukan pada dirinya sendiri. “Jenenge zaman wis kuwolak-kuwalik. Kumpul saiki ora penting maneh. Sing penting piye isane mangan. Lek mengko kena lara kan ya repot ra iso nggolek pangan kabeh. Mangkane, yo aja pulang kampung. Aja mulih. Pada ngadoh wae ben sehat, ben ora lara. Ben isa golek pangan. Dadine zaman saiki kui sing penting mangan. Kumpul ora kumpul sing penting mangan.”
Ada nada tegas di akhir omongan Mbilung itu. Tapi, Ndara Bei sudah tak mendengarnya lagi. Kalimat penutup Mbilung itu tertutup oleh dengkuran Ndara Bei yang naik 1 oktaf. (mahfud)
Editor : adi nugroho