Isu toleransi antarumat beragama seringkali mengemuka. Khususnya menjelang peringatan hari-hari raya keagamaan. Begitu pula halnya dengan perayaan Natal yang puncaknya akan dilaksanakan umat Kristiani di seluruh dunia pada Senin, 25 Desember 2017 besok.
Entah ini sebuah kesengajaan atau kebetulan semata. Pada tanggal 7 Desember 2017 Presiden AS Donald Trump tiba-tiba secara sepihak membuat keputusan mengakui Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Keputusan kontroversial ini sontak menimbulkan kecaman dunia internasional. Bukan saja dari kalangan muslim dan negara Islam, melainkan juga oposisi di negara-negara Arab dan Eropa.
Walhasil negara-negara OKI pun merespon cepat hal ini dengan menggelar KTT Luar Biasa pada 13 Desember 2017 bertempat di Istanbul, Turki. KTT Luar Biasa dengan agenda membahas kebijakan AS tersebut tak pelak menjadi ajang penyampaian kecaman oleh delegasi negara-negara OKI terhadap kebijakan Trump itu disertai desakan keras agar pemerintah AS mencabut pengakuan itu. Namun Pemerintah AS bergeming. Sementara negara-negara OKI dengan sponsor utama pemerintahan Erdogan (Turki) terus berusaha menekan Pemerintah AS.
Situasi pun memanas. Antara milisi Palestina dan tentara Israel juga kembali terpicu bentrok bersenjata. Dua milisi Jihad Islam Palestina di Gaza tewas dalam sebuah ledakan pada hari Selasa (12/12/2017). Kematian dua milisi Palestina itu menyusul serangan roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza ke Israel, yang dibalas serbuan pesawat dan tank Israel. Kesemuanya itu terjadi di tengah demonstrasi yang berlangsung terkait pengakuan Presiden AS atas Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Khawatir konflik meluas dan terjadi perang agama, Dewan Keamanan (DK) PBB pun turun tangan merancang resolusi untuk menentang kebijakan AS itu. Donald Trump pun menentangnya dengan memveto resolusi DK PBB itu. Namun saat pemungutan suara di tingkat Majelis Umum PBB pada 22 Desember 2017, akhirnya 129 negara termasuk Indonesia menyatakan dukungan terhadap resolusi itu, sementara 9 negara, termasuk AS menyatakan menolak.
Jika menjelang Natal dunia internasional diguncang isu Jerusalem yang selama ini menjadi arena konflik agama, situasi di Indonesia pun dihangatkan dengan isu terorisme, sebuah isu yang selama ini dikaitkan dengan gerakan Islam radikal. Dikabarkan, Sabtu (9/12/2017), Densus 88 menangkap tiga orang terduga teroris secara terpisah di tiga wilayah di Jatim, yakni Sidoarjo, Surabaya, dan Malang.
Sebelum itu Densus 88 menangkap seorang terduga teroris warga Kebumen berinisial AR di Bekasi. Masih di Bekasi Densus 88 juga menangkap terduga teroris lainnya berinisial M yang berasal dari Jambi. Baik terduga teroris di Jawa Timur maupun Bekasi itu diduga berafiliasi dengan ISIS, organisasi radikal berbasis di Irak - Suriah.
Berkaitan dengan itu Kapolri, Jendral (Pol) Tito Karnavian pada hari Kamis (21/12/2017) mengatakan, meski hasil penyelidikan belum ada informasi tentang rencana serangan teror, namun Kapolri memerintahkan jajarannya mewaspadai serangan teroris saat Natal dan tahun baru 2018. Dia juga mengatakan, bahwa sebagai langkah preventif, pihaknya telah mengamankan 20 orang terduga teroris, 5 di antara ditangkap di Malaysia.
Bagi Indonesia, isu konflik dan toleransi antar umat beragama sebenarnya bukan hal baru. Sepanjang perjalanan bangsa ini sejak diproklamirkan kemerdekaannya, dan bahkan sejak jaman pergerakan mempersiapkan kemerdekaan pun, isu itu sudah “akrab” dengan bangsa ini. Kiranya hal itu telah dimaklumi bersama mengingat bangsa ini bukanlah bangsa yang homogen, melainkan bangsa yang heterogen / majemuk dengan ragam agama, suku, bahasa, dan budaya.
Semangat heterogenitas, kemajemukan, keberagaman, atau ke-bhinneka-an bangsa itu pula yang diusung para pendiri republik ini saat mempersiapkan kemerdekaan. Pilihan model negara berbasis bangsa (nation state) dalam wadah NKRI dan bukan negara berbasis agama Islam (meski mayoritas bangsa ini memeluk agama Islam) adalah perwujudan riil semangat toleransi dalam keberagaman bangsa ini.
Tentu kita masih ingat, bagaimana sejarah menunjukkan toleransi tokoh-tokoh Islam saat menanggapi “keberatan” tokoh non muslim berkaitan dengan bunyi sila pertama Pancasila sebagai dasar Negara dalam Piagam Jakarta. Sebagaimana diketahui tokoh-tokoh Islam dengan kearifannya menyepakati perubahan bunyi sila pertama Pancasila dari semula berbunyi “Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya” menjadi “ Ketuhanan Yang Maha Esa”, dan berlaku hingga sekarang.
Patut disyukuri bahwasanya kemajemukan bangsa ini, termasuk keberagaman agama yang berkembang dan hidup berdampingan di Indonesia selama ini tidak menimbulkan konflik yang berarti. Bilapun terjadi, skalanya hanya kecil, dan frekuensinya pun sangat rendah sehingga tidak cukup signifikan untuk disebut sebagai konflik agama. Pilkada DKI Jakarta 2016 yang sempat menimbulkan friksi dan gesekan bernuansa agama pun perlahan-lahan sudah mulai reda dan kembali kepada kehidupan rukun dan damai seperti sedia kala.
Namun demikian harus tetap menjadi kesadaran bersama bahwa hidup berdampingan dalam keberagaman agama sesungguhnya tetaplah memiliki potensi konflik. Potensi konflik mana apabila tidak dikelola dan dipelihara dengan baik dipastikan akan bisa mewujud dalam kenyataan. Satu hal yang harus menjadi perhatian adalah apabila konflik agama itu telah terjadi, maka akibatnya bisa fatal, bukan saja bisa mengancam kedamaian dan kerukunan antar umat beragama yang telah terbangun, namun lebih dari itu dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa serta eksistensi NKRI.
Upaya aparat keamanan dalam menjaga keamanan warga dalam menjalankan ibadah, termasuk dalam memperingati hari-hari besar keagamaan, sebagaimana yang dilakukan Polri jelang perayaan Natal, sesungguhnya merupakan peran bantu dalam menciptakan keamanan, kerukunan dan toleransi antar umat beragama di negeri ini. Sedangkan peran utama dalam kerukunan dan toleransi antar umat beragama tetap berada di pundak para pemeluk agama itu sendiri.
Sesungguhnya semua agama menghendaki kehidupan bersama yang rukun dan damai. Karenanya menjadi tanggung jawab seluruh umat beragama untuk bersama-sama membangun dan memelihara kehidupan bersama yang saling menghormati, saling menghargai, dan saling bertoleransi satu sama lain. Untuk itu marilah kita bangun dan bina bersama kerukunan dan toleransi di antara kita semua umat beragama. Betapa indahnya bila di tengah keberagaman agama, kita bisa senantiasa hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Selamat merayakan Natal bagi umat Kristiani, dan selamat Tahun Baru 2018 untuk saudara sebangsa dan setanah air. (Penulis adalah alumnus Pasca Sarjana MAP UGM Yogyakarta, Dosen Pengajar di Uniska Kediri, Ketua Lakpesdam NU Kabupaten Kediri).
Editor : adi nugroho