Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Asli atau “Punk-Punk”-an?

adi nugroho • Senin, 11 September 2017 | 00:56 WIB
asli-atau-punk-punk-an
asli-atau-punk-punk-an


“Prinsip kebebasan yang mereka pegang melenceng dari prinsip punk asli yang memegang teguh kebebasan yang bertanggungjawab”  


 


Akhir-akhir ini keberadaan komunitas punk di Kediri sepertinya sedang menjadi bahan perbincangan. Jumat pagi (8/9), bangun-bangun saya mendengaar suara bapak kos saya, Pak Gito, sedang memperbincangkan hal tersebut dengan tetangga.


Lamat-lamat saya mendengar pembicaraan terkait pengeroyokan antaranak punk di utara Pasar Bence, Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota Kediri. Pak Gito dan tetangganya menceritakan bagaimana tragisnya peristiwa yang mengakibatkan Imam Subekti sampai meninggal dunia.


“Iku ngono sing biasane ngamen nang kene lho Pak, (itu yang biasa ngamen di sini Pak),” terang tetangga yang tak diketahui namanya ini. “Jare koran mayite diguwak nang Ngancar kono (kata koran mayatnya dibuang di Ngancar),” lanjut tetangga tersebut. Pembicaraan kemudian berlanjut ke betapa kasihannya korban, sampai mengutuk perbuatan pelaku.


Hal ini, menurut saya, sudah menjadi fakta umum, tak hanya Pak Gito dan tetangga yang mengutuki perbuatan anak punk yang identik dengan tindakan anarkis ini. Pandangan negatif terhadap anak punk sudah menjadi makanan bagi anak punk itu sendiri. Suatu hari saya menanyakan hal tersebut kepada salah satu anak punk asal Kota Kediri. “Sampah masyarakat ya? Ya memang itu yang selalu kami terima, tapi kami selalu ingin buktikan mereka salah,” terang Mah, 16.


Beberapa anak punk juga mengakui, dalam menunjukkan kebebasan mereka terkadang memang minum-minuman keras bersama, tak jarang juga menghajar orang, sampai melakukan seks bebas. Dari beberapa anak punk yang pernah saya tanyai, sebagian besar anak punk yang berkeliaran di daerah Kediri masih remaja, bahkan lebih banyak yang di bawah umur. Alasannya bermacam-macam, mulai dari masalah keluarga, faktor ekonomi, ingin kebebasan, sampai yang hanya ingin berontak terhadap sesuatu (bisa dari aturan orang tua ataupun masyarakat).


Mah misalnya, meski tak secara eksplisit mengatakan alasannya bergabung di komunitas punk karena masalah keluarga, secara implisit hal tersebut tak bisa ditutupi. Secara formal, ia mengatakan, hanya ingin hidup mandiri dan tak bergantung pada orang lain. Namun secara implisit terlihat bahwa ia memiliki alasan yang cukup jamak dijadikan alasan sesama teman punk-nya. Merasa kesepian di rumah, tidak ada teman yang bisa diajak bicara, sementara orang tuanya mengurus proses perceraiannya. “Di rumah sumpek, adek terus yang diperhatiin,” saya masih ingat celoteh yang ia lontarkan tanpa saya berkomentar dan membuatnya tidak nyaman.


Setelah membaca berbagai sumber, hal inilah yang kemudian mengakibatkan seorang anak seperti Mah keluar untuk mencari keluarga baru. Keluarga yang memiliki latar belakang yang hampir sama, dan mengerti dia. Mampu membuatnya nyaaman dan bebas menunjukkan siapa dirinya tanpa embel-embel dimarahi atau dipandang ‘salah’.


Alasan lain yang saya temukan dari ngobrol-ngobrol dengan anak punk adalah alasan ekonomi. Kondisi ekonomi yang terbilang susah juga membuat anak-anak mengenal dan bergabung dengan komunitas ini. Anak tersebut terkadang tak lulus SMP karena keluarga tak mampu membiayai. Anak-anak biasanya memiliki kemauan membeli ini itu, namun apa yang bisa ia dapat dari orang tua yang melunasi biaya sekolahnya saja tak mampu. Karena itulah terkadang mereka mencari uang, apapun caranya, untuk memenuhi kebutuhannya, keinginannya.


Masih banyak alasan lain yang mendorong anak-anak tersebut terjun ke komunitas punk. Ada juga anak-anak yang kondisi keluarganya baik-baik saja, ekonomi termasuk kategori menengah ke atas, dan tak memiliki masalah apapun yang memilih bergabung. Yang saya bicarakan diatas hanyalah sebagian besarnya.


Pada dasarnya, kelompok ini menolak aturan yang dibuat masyarakat atau orang tuanya sendiri. Prinsip yang mereka pegang adalah kebebasan. Prinsip ini melenceng dari prinsip punk asli yang memegang teguh kebebasan yang bertanggungjawab. Anak punk-punkan tak menghiraukan tanggungjawab tersebut. Maka dari itu seringkali mereka melanggar segala aturan, dan pandangan negatif terhadap mereka pun terbentuk.


Peran orang tua sangat penting disini, perhatian dan kasih sayang yang diberiikan kepada seorang anak tidak akan membuat anak tersebut mencarinya lagi di luar keluarga. Masyarakat juga semestinya tak hanya mengutuki perbuatannya. Namun mampu mendekati, mendidik, dan membimbing. Pemerintah juga sangat berperan dalam hal ini, bisa dengan memberi fasilitas kreativitas dari anak-anak punk ini. Karena pada dasarnya, jiwa seni anak punk cukup tinggi. Bisa dilihat dari rambut dan cara berpakaiannya kan hehe...(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)  


 


 


 

Editor : adi nugroho
#anak-anak