Roadmap Wisata Sejarah dan Edukasi Kediri Berbudaya

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 09:52 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Sebetulnya, Kabupaten Kediri cukup banyak terdapat peninggalan bersejarah, mulai dari situs sejarah, prasasti hingga candi. Tapi, sayangnya, diakui atau tidak, kekayaan sejarah itu belum menjelma menjadi sebuah ekosistem wisata sejarah dan pendidikan yang kuat, terintegrasi, serta membanggakan masyarakat, khususnya di Kabupaten Kediri.

Padahal, Kabupaten Kediri di bawah kepemimpinan Mas Bup (Hanindhito Himawan Pramana), punya slogan “Kediri Berbudaya”. Harusnya, berbagai peninggalan sejarah itu dikembangkan menjadi wisata sejarah dan edukasi, sebagai salah satu program strategis Kediri Berbudaya.

Memang, saya melihat, sudah ada beberapa program kongkret yang dilaksanakan, terkait dengan banyaknya peninggalan bersejarah di Kabupaten Kediri. Misalnya, pada 15 Juli lalu, Candi Tegowangi menjadi tempat berlangsungnya rangkaian kegiatan “Sastra Saraswati Sewana Yatra” yang dihadiri Mas Bup. Kegiatan ini mempertemukan seni, tradisi, dan pelestarian budaya.

Yang juga patut diapresiasi adalah programnya Mas Bup membangun Museum Sri Aji Joyoboyo. Saya beberapa kali mengunjungi museum yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu itu. Interiornya kekinian, dilengkapi dengan tata pencahayaan yang bagus serta penataan berbagai koleksinya yang artistik. Berdasarkan laporan per 4 Oktober 2026, progres pembangunan tahap ketiga museum itu telah mencapai 82,04 persen, dengan target penyelesaian pada November 2026.

Baca Juga: Dekorasi Museum Sri Aji Joyoboyo Tak Rapi, Pemkab Minta Bata Hias Diperbaiki

Pertanyaan yang patut diajukan: setelah museum selesai dibangun, bagaimana hubungannya dengan puluhan situs sejarah yang tersebar di wilayah Kabupaten Kediri? 

Jangan sampai, museum menjadi bangunan yang bagus, tetapi terputus dari lingkungan sejarahnya. Jangan sampai, museum menjadi tujuan akhir, padahal seharusnya menjadi pintu masuk.

Museum Sri Aji Joyoboyo seharusnya bukan sekadar tempat menyimpan koleksi. Tetapi harus menjadi pusat perhatian, interpretasi, dan penghubung seluruh jaringan situs sejarah Kabupaten Kediri.

Sebuah program, jangan hanya berfokus pada besarnya anggaran atau bagus tidaknya bangunan fisik. Tapi, program yang dibuat harus menjadi satu kebijakan yang mengintegrasikan upaya konservasi, riset, pendidikan, pariwisata, pemasaran destinasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Berdasarkan catatan yang ada di Museum Sri Aji Joyoboyo, sedikitnya terdapat 26 peninggalan bersejarah yang terdiri dari situs, prasasti, candi dan peninggalan arkeologis lainnya yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Kediri.

Di Gurah, terdapat Tondowongso, Adan-Adan, Babadan Sumbercangkring, dan Calonarang. Di Pagu ada Arca Totok Kerot serta Situs Semen. Di Plemahan berdiri Candi Tegowangi. Di Badas terdapat Candi Surowono dan Situs Tunglur. Sementara itu, Kandangan menyimpan jobong berinskripsi, Situs Bumirejo Puthuk Gong, dan Prasasti Bloro.

Jejak sejarah lainnya tersebar di Kepung melalui Prasasti Paradah I, Patirtan Geneng Brumbung, dan Taman Cagar Budaya Brumbung. Di Gampengrejo terdapat Prasasti Plosorejo dan Situs Ngebrak. Di Puncu terdapat Candi Dorok serta Watu Gajah. Kemudian Prasasti Tangkilan di Kayen Kidul, Prasasti Lucem di Semen, Watu Gilang di Kras, Situs Panji-Gambyok di Grogol. Situs Nambakan dan Arca Penthul di Ngasem, serta Punden Selomanen di Ngadiluwih.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Jawa Kuno di Museum Airlangga Kediri, Ada 147 Koleksi Bersejarah

Jadi, sebaran peninggalan bersejarah begitu luasnya. Jenis peninggalannya begitu beragam. Rentang sejarah yang bisa dipelajari, juga bisa panjang. Dan akan menjadi sebuah studi sejarah yang menarik jika bisa dikupas lebih detail dan mendalam. Sekali lagi harus dipertanyakan, mengapa kekayaan sejarah sebesar itu di Kabupaten Kediri, tapi hingga kini belum menjelma menjadi sebuah ekosistem wisata sejarah dan wisata edukasi yang kuat, terintegrasi, dan membanggakan?

Saya mengusulkan, agar Pemkab Kediri membuat roadmap program jangka menengah. Program ini bukan proyek membangun destinasi baru dari nol. Sebaliknya, program tersebut harus menghubungkan kekayaan yang sudah ada menjadi satu sistem “wisata sejarah edukasi dan ekonomi kreatif”.

Misalnya, di dalam roadmap itu dikembangkan paket wisata sejarah berdasarkan tema dan kedekatan geografis. Menyediakan narasi sejarah yang terverifikasi. Menyelenggarakan pelatihan pemandu lokal, dan membuat papan interpretasi.

Selanjutnya, mengintegrasikan Museum Sri Aji Joyoboyo dengan kunjungan lapangan, membuat modul pembelajaran, tur digital, film dokumenter, dan program “student heritage ambassador”. Selain itu juga mengajak perguruan tinggi untuk mengembangkan riset serta pengabdian masyarakat berbasis situs bersejarah.

Freeman Tilden melalui bukunya “Interpreting Our Heritage” menjelaskan, bahwa menyampaikan informasi tentang warisan sejarah, tidak cukup hanya dengan memberikan fakta. Interpretasi yang baik harus bisa menghubungkan peninggalan dengan pengalaman pengunjung, bisa membangkitkan rasa ingin tahu, dan mendorong pemahaman yang lebih mendalam.

Prinsip ini sangat relevan bagi Kediri. Papan bertuliskan nama candi, perkiraan tahun pembangunan, dan nama kerajaan merupakan informasi penting. Tetapi pengunjung memerlukan lebih dari itu. Mereka ingin mengetahui mengapa candi didirikan, siapa yang membangunnya, bagaimana kehidupan manusia pada jaman tersebut, dan nilai apa yang masih relevan sampai sekarang?

Dalam roadmap itu, bisa juga dilengkapi dengan menggelar festival sejarah yang terkurasi. Serta berkolaborasi dengan agen-agen perjalanan wisata regional, menjalin kemitraan dengan industri kreatif, dan mengembangkan strategi pemasaran yang taktis untuk lingkup nasional dan internasional berbasis kualitas pengalaman.

Wal akhir, Kabupaten Kediri, punya sejarah panjang sebagai salah satu ruang penting pertumbuhan peradaban di Jawa Timur dan Indonesia. Warisan itu bukan sekadar cerita tentang kerajaan yang pernah berjaya. Tapi juga merupakan cerita tentang manusia, kekuasaan, ilmu pengetahuan, keyakinan, teknologi, kesenian dan cara masyarakat membangun kehidupan.

Melalui situs Tondowongso dan Adan-Adan di Kecamatan Gurah, bisa belajar tentang laboratorium peradaban. Melalui Candi Tegowangi di Plemahan dan Candi Surowono di Badas, bisa dipelajari tentang kitab yang dipahat di batu. Melalui berbagai prasasti yang ada, misalnya Prasasti Paradah I di Kepung, bisa dipelajari arsip adminitrasi publik dari masa lampau. Ada pula situs Calonarang dan cerita tentang Panji yang bisa dijadikan sebagai kekuatan sejarah naratif. 

Sungguh sangat disayangkan, jika berbagai kekayaan sejarah itu dibiarkan menjadi benda-benda diam yang hanya sesekali dikunjungi peneliti atau dipotret wisatawan. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Shinta Nurma Ababil
budaya wisata sejarah sejarah kediri wisata kediri