Catatan Awal Pekan: (Mimpi) Brantas Waterfront City

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 19:19 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

 

Sejak bertugas di Kediri lima tahun lalu, ada satu objek yang membuat saya terusik hingga kini. Yakni Sungai Brantas yang mengalir, tepat membelah jantung Kota Kediri. Pemkot Kediri mencatat, Sungai Brantas melintasi wilayah kota sepanjang tujuh kilometer. Dan ini adalah aset alam yang tidak dimiliki banyak kota lain. Yang membuat saya terusik, karena aset alam itu sejauh ini belum termanfaatkan secara maksimal. 

 Selama bertahun-tahun, entah disadari atau tidak, hubungan Kota Kediri dengan Brantas seperti hubungan dua orang yang tinggal serumah, namun jarang bertegur sapa. Sungainya ada. Kotanya tumbuh. Tetapi keduanya belum benar-benar dipertemukan.

Pemkot Kediri sebenarnya sudah menyadari potensi dari Sungai Brantas sebagai wisata air dan ruang publik melalui pembangunan Taman Brantas. Bahkan, merujuk pada dokumen perencanaan daerah, sudah dimasukkan secara eksplisit pemanfaatan sempadan Sungai Brantas sebagai ruang terbuka hijau dan kawasan wisata. 

Baca Juga: Catatan Awal Pekan : Sound Horeg, Sebaiknya Bagaimana? 

Pada 2018, Taman Brantas di-launching. Kala itu mencakup 210 meter dengan luas sekitar 1,4 hektare serta fasilitas jogging track, BMX, dan skateboard. Kawasan tersebut sejak awal didesain sebagai ruang interaksi masyarakat. Setelah diresmikan, banyak orang datang ke Taman Brantas untuk berolah raga. Anak muda berkumpul. Keluarga menikmati sore. Beberapa komunitas pun memanfaatkannya. Pemkot kemudian mengadakan berbagai kegiatan, di antaranya BrantasTic, untuk menghidupkan Taman Brantas. Belakangan ini, Sungai Brantas juga sudah dimanfaatkan untuk wisata air jet ski.

Ini artinya, masyarakat sebenarnya ingin kembali ke sungai. Tapi, menurut saya, yang belum tersedia adalah ekososistem ruangnya. Areal Sungai Brantas sesungguhnya bisa dibikin lebih dari yang saat ini dibikin: Taman Brantas. Misalnya, sangat memungkinkan untuk dijadikan Waterfront City. Menjadi: Brantas Waterfront City. 

Ketika dibikin Waterfront, bukan berarti seluruh bantaran Brantas dicor, dipasangi keramik, dipenuhi kafe, lalu diberi lampu warna-warni. Jika dibuat seperti ini justeru berbahaya.

 American Planning Association dalam konsep Ecological Riverfront Design menekankan bahwa pembangunan Waterfront yang baik harus sekaligus mengembangkan fungsi ekologis sungai, menciptakan akses publik, menghubungkan masyarakat dengan air, dan mempertahankan karakter alamnya. Tujuan ekonomi dan ekologi bukan untuk dipertentangkan, tetapi harus saling menguatkan.

Baca Juga: Catatan Awal Pekan : Ketika Merdeka, tapi Belum Merdeka

Saya membayangkan, Brantas Waterfront City bukan sebuah proyek tunggal. Melainkan menjadi koridor kehidupan sepanjang Brantas. Di dalamnya ada bagian yang menjadi taman aktif. Ada bagian yang dibiarkan menjadi kawasan hijau. Ada pedestrian dan jalur sepeda. Ada titik untuk menyaksikan sunset (matahari terbenam). Ada ruang untuk memancing. Ada panggung seni terbuka.  Ada ruang edukasi air. Ada sentra kuliner yang ditata rapi dan tertib. Ada ruang bagi UMKM. Ada titik sejarahnya, misalnya menceritakan tentang Bandarlor dan Bandarkidul. Dua kawasan yang saat ini menjadi dua kelurahan di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri itu punya nilai historis tinggi. Nama bandar membawa ingatan sejarah, bahwa kawasan itu dulunya menjadi daerah persinggahan, perdagangan, dan aktivitas transportasi air.

Sejarah tentang kawasan bandar ini, bisa direkonstruksi menjadi narasi, dan menjadi pembelajaran sejarah yang menjadi sisi lain Kota Kediri. Bisa juga dilengkapi dengan narasi tentang Kerajaan Kadiri, perdagangan sungai, hingga perubahan Kediri dari dulunya Kota Sungai menjadi Kota Darat.

 Salah satu simpul terkuatnya adalah Jembatan Lama (Brug Over den Brantas te Kediri), yang umurnya lebih dari satu abad. Tahun lalu (2025) Pemkot Kediri melakukan pembersihan kawasan di bawah Jembatan Lama. Tujuannya selain sebagai bagian dari mitigasi hidrometeorologi, juga menjaga warisan cagar budaya. 

 Dalam perspektif pariwisata, kekuatan terbesar kawasan Sungai Brantas bukan semata-mata airnya. Yang harus dijual adalah experience (pengalaman). Ketika ada orang dari Surabaya atau Jakarta datang ke kawasan Brantas, mereka tidak hanya melihat sungai. Tetapi, mereka bisa menikmati sejumlah pengalaman: bersepeda menyusuri tepian Brantas di pagi hari, sarapan pecel khas Kediri, melihat peninggalan kota lama, menikmati narasi tentang Jembatan Lama, mendengar cerita Kerajaan Kadiri, menikmati pertunjukan budaya di sore hari, lalu menyaksikan sunset di balik Gunung Wilis dari pinggir sungai.

 Jadi, produk wisata Brantas bukan sungai. Tapi pengalaman Kota Kediri melalui sungainya. Ini yang disebut dengan placemaking. Kota yang kuat bukan kota yang mempunyai bangunan paling banyak. Kota yang kuat adalah kota yang mempunyai tempat yang tidak bisa ditiru kota lain. Mal bisa dibuat dimana saja. Kafe bisa dibikin dimana saja. Taman tematik juga bisa dibuat dimana saja. Tetapi kombinasi antara: Brantas + Wilis + Sejarah Kadiri + Bandar + Jembatan Lama + Kebudayaan Kediri, ini tidak dapat dipindahkan ke kota lain. Maka, inilah menurut saya diferensiasi Kota Kediri yang membedakan dengan kota lain.

Karena itu, Kota Kediri sebaiknya tidak lagi memperlakukan pembangunan Brantas sebagai proyek taman per taman atau event per event. Yang dibutuhkan menurut saya adalah “Brantas Waterfront Masterplan” untuk jangka 15 - 20 tahun. Masterplan ini harus menyatukan empat kepentingan sekaligus: konservasi ekologis, mitigasi bencana, ruang sosial masyarakat, serta ekonomi-pariwisata. 

 Selama berabad-abad lamanya, Brantas telah menyediakan air, menghidupi pertanian, membawa perdagangan, membentuk permukiman, mempertemukan manusia, dan menjadi saksi tumbuhnya peradaban di kawasan Kediri.

Sungguh ironis, bila pada abad ke-21 ini, kita justeru melihat Brantas hanya ketika melintas di atas jembatan. Mungkin persoalan Brantas hari ini, bukan karena sungainya yang telah kehilangan fungsi. Kita lah yang kehilangan cara memandangnya. 

 Karena itu, menjadikan Kota Kediri sebagai Waterfront City, sesungguhnya bukan upaya membawa konsep asing. Justeru sebaliknya. Ini adalah konsep perjalanan pulang. Yakni, mengembalikan Kediri dari kota yang membelakangi sungai, menjadi kota yang kembali menghadap Brantas. Dan ketika itu terjadi, Brantas tidak lagi hanya menjadi sungai yang membelah Kota Kediri menjadi wilayah Timur dan Barat. Tapi, menjadi sesuatu yang jauh lebih penting. Yaitu, menjadi urat nadi, yang kembali menyatukan sejarah, manusia, budaya, alam, dan masa depan Kota Kediri. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Mahfud
waterfront City jetski jembatan lama sungai brantas kota kediri