Bukit Podang dan Kediri Water Park

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 08:59 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

 

Dulu, Kediri Water Park sempat menjadi ikon Pariwisata di Kabupaten Kediri. Dibuka pada 2014, di kawasan seluas sekitar 5-6 hektare itu ada atraksi utama berupa water slide yang panjangnya 206 meter, dan saat itu disebut-sebut sebagai salah satu yang terpanjang di Asia. Lokasinya juga menarik, karena berada di kawasan Pagung, Semen, di lereng Gunung Wilis, dengan lanskap perbukitan yang relatif masih sejuk hawanya.

Sayangnya, setelah pandemi, tempat tersebut berhenti beroperasi sejak 2020. Dan kemudian terbengkalai, dan mangkrak. Sesungguhnya, sangat disayangkan, Kediri Water Park dibiarkan mangkrak. Apalagi, kawasan tersebut sudah dimasukkan ke dalam Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten, Kaki Gunung Wilis dan sekitarnya, berdasarkan Perda Kabupaten Kediri Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Kediri 2019 - 2034. Kawasan Wilis diarahkan pada kombinasi wisata alam pegunungan, wisata berbasis masyarakat, budaya, dan agrowisata.

Minggu lalu, saya melihat dari dekat, kondisi Kediri Water Park semakin tidak terawat.

Bersebelahan dengan lokasi mangkraknya Kediri Water Park, terdapat kawasan perumahan: Bukit Podang Residence. Dua lokasi itu pemiliknya sama. Bedanya, Kediri Water Park kondisinya “mati”. Sedangkan Bukit Podang Residence masih “hidup”. Merujuk data pada Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (SIKUMBANG), di Bukit Podang Residence terdapat 166 unit rumah komersial, dan dari jumlah tersebut,  114 unit tercatat telah terjual. Berarti, sekitar 68,7 persen dari unit yang tercatat sudah terjual. Sedangkan 52 unit atau sekitar 31,3 persen belum tercatat sebagai terjual dalam database tersebut.

Baca Juga: Mengurai Benang Kusut Kasus Mangkraknya Alun-Alun, Berharap Jurus “Kunci Gembok” PN Kota Kediri 

Berdasar dari data ini, dapat dikatakan bahwa Bukit Podang bukanlah kawasan yang sama sekali tidak diterima pasar. Tetapi, dengan kondisi areal sebelahnya yang mangkrak dan terbengkalai itu, bagi pebisnis, tentu akan muncul pertanyaan: Bagaimana menjual dan mengembangkan sebuah kawasan perumahan, ketika di sebelahnya berdiri bekas destinasi wisata besar yang mangkrak?

Ketika Kediri Water Park masih “hidup”, setidaknya ada tiga kelebihan yang bisa ditawarkan oleh Bukit Podang Residence, yakni: kawasan perumahan + water park + udara pegunungan. Dan ini disebut juga sebagai lifestyle destination.

Nah, ketika Kediri Water Park “mati”, maka satu poin yang menjadi kelebihan pun ikut “mati”. Maka, strategi marketing pun harus diubah. Bukit Podang tidak boleh menyertakan Kediri Water Park sebagai nilai tambahnya. Bukit Podang, menurut saya, perlu ditransformasikan dari “housing project” menjadi “place”. 

Philip Kotler, Donald Haider dan Irving Rein dalam  buku mereka “Marketing Places” menjelaskan bahwa kota dan kawasan harus diperlakukan sebagai sebuah produk. Sebuah tempat tidak cukup dipromosikan. Tempat itu sendiri harus memiliki kualitas, infrastruktur, pengalaman, identitas, dan alasan yang membuat orang ingin datang, tinggal, berinvestasi, atau kembali.

Seandainya saya adalah pemilik Bukit Podang Residence, maka yang saya jual dari kawasan itu bukan hanya meter persegi luas bangunan. Tapi, yang saya jual adalah “cara hidup”. Yakni udara yang lebih tenang, panorama indah dengan latar belakang Gunung Wilis, ruang terbuka, ketenangan, kesehatan, dan berbagai kemudahan lainnya (yang ini harus diciptakan). Konsep ini merujuk pada gagasan B. Joseph Pine dan James Gilmore dalam buku mereka “The Experience Economy”. Menurut mereka, kompetisi modern saat ini telah bergeser dari sekadar menjual barang dan jasa menjadi menciptakan pengalaman yang berkesan. Jadi, Bukit Podang bisa menawarkan pengalaman kepada para customer-nya. Mulai dari bangun pagi dengan pemandangan bukit, jogging di tengah pepohonan, sarapan bersama keluarga, bekerja dari clubhouse (ini yang belum ada), berkebun (harus diciptakan), lalu menikmati senja di kaki Gunung Wilis. Ini semua adalah experience yang bisa ditawarkan.

Tapi, ketika menawarkan Bukit Podang Residence, ada pekerjaan yang harus dilakukan yang jauh lebih mendasar. Yakni: men-treatment Kediri Water Park yang mangkrak. Bayangkan, jika calon customer menuju Bukit Podang, lalu melihat bangunan besar rusak, rumputnya tinggi, pagarnya kusam, pencahayaan buruk, dan struktur bangunan terbengkalai, maka promosi digital secanggih dan segencar apa pun, akan kalah oleh pengalaman lima menit pertama tadi (melihat kawasan mangkrak).

Kotler menyebut, bahwa “place marketing” tidak boleh berhenti pada promosi. “The place itself must work”. Intinya, kualitas produk tempat harus dibangun sebelum sebuah citra dikomunikasikan.

Jadi, meski Kediri Water Park belum direvitalisasi, tapi setidaknya batas areanya harus bersih, aman, terang dan terawat. Ini bukan lah kosmetik. Tapi ini adalah “risk management” terhadap brand Bukit Podang.

Sebagai Marketing Practitioner, sesungguhnya saya tahu bagaimana men-treatment Kediri Water Park, dan bagaimana strategi marketing yang harus dijalankan Bukit Podang Residence. Tapi, terlalu panjang jika dijelaskan di sini.

Tulisan ini saya buat, sebagai bentuk kepedulian, terhadap potensi yang ada di Kabupaten Kediri. Entah potensi itu milik pemerintah, atau pun milik swasta, jika tidak berjalan dengan baik, maka sejatinya akan mempengaruhi wajah dari Kabupaten Kediri. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Mahfud
Kediri Water Park Bukit Podang Residence Lifestyle destination gunung wilis mangkrak