Inilah satu-satunya museum perjuangan buruh yang ada di Indonesia, yang diresmikan langsung oleh kepala negara, Presiden Prabowo Subianto, Sabtu lalu (16/05). Yaitu: Museum Marsinah, yang berlokasi di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
Mari kita ingat-ingat sejarah tentang Marsinah. Selama puluhan tahun, nama Marsinah lebih sering hadir sebagai luka sejarah, simbol ketidakadilan, dan cerita getir tentang buruh kecil yang melawan kekuasaan besar, rezim pada saat itu.
Marsinah, sosok yang memperjuangkan nasib buruh, di ujung hidupnya mengalami nasib tragis. Karena idealismenya, dia meregang nyawa, disiksa oleh oknum aparat keamanan, hingga akhirnya meninggal dunia.
Namun, kini sejarah itu berubah bentuk. Marsinah tidak lagi hanya menjadi narasi duka. Tapi telah menjadi museum. Dan telah menjadi memori kolektif bangsa. Dan lebih dari itu, bisa menjadi peluang di masa depan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Kunjungi Nganjuk, Resmikan Museum Marsinah Sebagai Simbol Perjuangan Buruh
Ketika Presiden Prabowo Subianto datang dan meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah di Nganjuk Sabtu lalu, negara seperti sedang mengirim pesan penting, bahwa sejarah perjuangan buruh bukan lagi cerita pinggiran. Tapi telah masuk ke ruang utama republik ini.
Marsinah bukan sekadar nama. Dia telah menjadi simbol keberanian rakyat kecil. Seorang buruh perempuan muda yang pada 1993 menjadi korban setelah memperjuangkan hak-hak pekerja.
Kini, di Museum Marsinah, di rumah sederhana itu, di dalamnya ada benda-benda yang terkait dengan sosok Marsinah, mulai sepeda onthel, seragam pabrik, tas pribadi, hingga dokumen-dokumen hidupnya, diabadikan di museum yang berdiri di atas lahan hampir 1.000 meter persegi itu.
Sebuah museum tidak boleh berhenti hanya menjadi tempat mengenang masa lalu. Museum harus menjadi mesin penggerak masa depan. Di sinilah sesungguhnya tantangan besar bagi Kabupaten Nganjuk.
Menurut saya, Museum Marsinah berpotensi menjadi “episentrum baru” ekonomi berbasis sejarah, edukasi, dan kemanusiaan. Selama ini, banyak daerah di Indonesia gagal memanfaatkan situs sejarah sebagai kekuatan ekonomi.
Padahal dunia sudah membuktikan bahwa memori kolektif bisa menjadi industri besar. Kota-kota di Eropa hidup dari museum, heritage, dan wisata reflektif. Mereka menjual pengalaman emosional, bukan sekadar bangunan.
Kabupaten Nganjuk kini punya peluang itu sekarang. Pertama, peluang ekonomi wisata edukasi. Museum Marsinah dapat menjadi destinasi wisata sejarah dan sosial yang unik di Indonesia. Museum ini punya diferensiasi yang kuat.
Sekolah-sekolah, kampus, serikat pekerja, aktivis sosial, peneliti HAM, hingga wisatawan sejarah bisa menjadi pasar baru bagi Nganjuk. Jika dikelola serius, museum ini dapat menciptakan efek ekonomi berantai: hotel hidup, UMKM tumbuh, kuliner bergerak, transportasi lokal bergairah, hingga ekonomi kreatif berkembang.
Nganjuk selama ini lebih dikenal sebagai kota lintasan. Orang melintasi Nganjuk, kebanyakan tidak berhenti. Museum Marsinah memberi peluang agar orang mulai datang dengan sengaja.
Baca Juga: Sosok Marsinah, Simbol Perjuangan Buruh Yang Kini Resmi Sandang Gelar Pahlawan Nasional
Kedua, peluang bisnis ekonomi kreatif. Museum modern tidak cukup hanya memajang benda. Tapi, harus bisa menjadi pusat aktivitas. Pemkab Nganjuk bisa mengembangkan kawasan sekitar museum menjadi ruang kreatif rakyat.
Misalnya membuat toko buku perjuangan, kafe literasi, galeri seni buruh, merchandise lokal, festival film sosial, hingga pertunjukan teater tentang perjuangan pekerja.
Saya membayangkan, setiap tahun digelar “Festival Marsinah”. Berbagai kegiatan atau event yang dilaksanakan misalnya menggelar diskusi nasional tentang ketenagakerjaan, konser musik rakyat, pameran UMKM perempuan, lomba karya tulis mahasiswa dan expo industri padat karya.
Berbagai even ini jika dilaksanakan secara rutin dan konsisten, maka Nganjuk akan mendapat positioning baru sebagai “kota dialog sosial dan kemanusiaan”. Dan positioning dalam dunia modern adalah aset ekonomi yang sangat mahal.
Ketiga, peluang ketenagakerjaan. Ini yang juga menarik. Museum Marsinah semestinya tidak hanya bicara masa lalu buruh. Tetapi juga masa depan buruh.
Nganjuk dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan baru. Misalnya dengan menggelar pelatihan vokasi, pusat advokasi pekerja, inkubasi UMKM perempuan, hingga kerja sama dengan industri untuk peningkatan kualitas tenaga kerja.
Museum Marsinah juga dapat menjadi pintu masuk lahirnya “Labor Studies Center” atau pusat studi perburuhan dan hubungan industrial pertama di daerah. Kampus-kampus bisa diajak bekerja sama. Serikat Buruh Nasional bisa dilibatkan.
Pemerintah pusat bisa masuk melalui program peningkatan kompetensi pekerja. Jika ini dilakukan, maka Museum Marsinah tidak hanya menghasilkan wisatawan. Tapi juga menghasilkan peningkatan kualitas SDM. Dan di era ekonomi modern, kualitas SDM jauh lebih mahal daripada sumber daya alam.
Berbagai peluang ini hanya bisa lahir bila Nganjuk tidak berpikir jangka pendek. Jangan sampai terjadi, museum hanya ramai seminggu setelah diresmikan Presiden, lalu setelah itu sepi mampring.
Museum Marsinah seharusnya menjadi titik balik identitas baru Kabupaten Nganjuk. Sebab, dunia modern bergerak bukan hanya dengan kekuatan modal, tetapi juga kekuatan narasi.
Dan kini, Nganjuk memiliki narasi besar itu. Yaitu narasi tentang keberanian dari sosok Marsinah. Narasi tentang keadilan. Narasi tentang perempuan kecil yang namanya akhirnya dikenang negara. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Nganjuk cukup berani mengubah narasi itu menjadi masa depan ekonomi rakyatnya? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Andhika Attar Anindita