Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika ABG 15 Tahun Bunuh Diri di Masjid

Kurniawan Muhammad • Minggu, 3 Mei 2026 | 17:47 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Bagi saya, kasus ini tidak bisa dianggap remeh: Seorang ABG 15 tahun mengakhiri hidupnya secara tragis di sebuah masjid di Kota Kediri.

Ditemukan juga secarik kertas yang diduga kuat ditulis oleh si ABG itu sebelum dia bunuh diri. Surat itu ditujukan kepada teman perempuannya yang diduga pacarnya. Mengapa kasus ini harus disikapi serius? 

Saya khawatir, peristiwa ini adalah sebuah fenomena gunung es yang memperlihatkan adanya kerentanan psikologis pada Generasi Z, di tengah hiruk-pikuk era digital.

Penemuan surat cinta emosional yang diduga ditulis oleh si ABG sebelum mati itu, mengarahkan kita pada suatu kesimpulan pahit, bahwa bagi seorang ABG di fase “emerging adulthood”, kegagalan asmara bukan sekadar patah hati biasa. Melainkan sebuah krisis eksistensial. 

Baca Juga: 4 Alasan, Mengapa Kediri Butuh Festival Kuno-Kini

Secara perkembangan, ketika seorang anak berusia 15 tahun, maka dia sedang berada di tengah badai perkembangan otak. Menurut Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson, seorang anak yang berusia 15 tahun, berada pada tahap “Identity Vs Role Confusion”.

Pada tahap ini, penerimaan sosial dan hubungan romantis menjadi pilar utama pembentuk identitas diri. Ketika pilar ini runtuh (misalnya karena mengalami problem atau tekanan asmara), maka dampaknya bisa sangat destruktif.

Karena bagian “prefrontal cortex” (pusat logika dan pengendalian diri) pada otak belum sepenuhnya matang. Sementara sistem limbik (pusat emosi) di bagian lain otak bekerja dengan kecepatan penuh. 

Inilah rupanya yang terjadi pada ABG 15 tahun di Kediri itu. Dalam perspektif psikologi klinis, dia mengalami intensitas afektif yang ekstrem.

Bagi Generasi Z, perasaan “memiliki” dan “dimiliki” seringkali teramplifikasi oleh paparan media sosial yang mendistorsi tentang bagaimana sebuah hubungan seharusnya berjalan. 

Kasus yang menimpa ABG 15 tahun di Kota Kediri itu memang tidak bisa dilepaskan dari konteks digitalisasi. ABG 15 tahun itu tergolong generasi Z.

Dan generasi Z adalah “digital natives” pertama yang tumbuh dengan validasi dalam bentuk likes, views, dan comments.

Jean Twenge, seorang profesor psikologi dari San Diego State University dalam bukunya “iGen” mencatat, bahwa sejak adopsi ponsel pintar secara masif, angka depresi dan bunuh diri di kalangan remaja meningkat drastis. 

Twenge berpendapat bahwa digitalisasi telah menciptakan paradoks yang dia sebut: “Hyperconnected yet hyper-lonely”. Di satu sisi, para remaja mungkin punya ribuan followers.

Namun pada sisi lain, mereka kehilangan kemampuan untuk meregulasi emosi secara luring (dalam dunia nyata). Tekanan asmara yang mereka alami di era ini tidak hanya terjadi di koridor sekolah, tetapi berlanjut melalui notifikasi WhatsApp atau unggahan di Instagram Story.

Ketika seorang remaja mengalami penolakan atau tekanan asmara, maka dia merasa dunia digitalnya (yang merupakan representasi dari seluruh dunianya) ikut runtuh.   

Baca Juga: Ajudan

Generasi Z seringkali memiliki karakteristik yang terbuka secara emosional. Namun di sisi lain, menurut Jonathan Haidt dalam bukunya “The Codding of The American Mind” mereka sebenarnya cukup rentan terhadap fragility.

Dijelaskan oleh Haidt, lingkungan yang terlalu protektif dan terpapar dunia digital secara berlebihan, akan membuat remaja kehilangan kekebalan psikologis terhadap kegagalan. 

Dalam kasus ABG di Kota Kediri yang bunuh diri itu, ditemukan adanya surat cinta. Ini mencerminkan bagaimana perasaan cinta yang mendalam, berubah menjadi beban psikologis yang tak tertahankan.

Di mata seorang ABG, sebuah penolakan bukan lagi sekadar pengalaman belajar. Melainkan sebuah kegagalan total yang memalukan secara sosial.

Adanya pesan emosional melalui surat yang ditulis sebelum mati itu, menunjukkan upaya terakhirnya untuk mengekspresikan diri di dunia yang dia rasa tidak lagi memberikan ruang bagi rasa sakitnya.  

Pemilihan masjid sebagai tempat untuk bunuh diri, juga patut dianalisa. Masjid sering dianggap sebagai tempat perlindungan dan kedamaian.

Secara alam bawah sadar, individu yang mengalami tekanan hebat, seringkali mencari tempat yang dianggap suci atau aman untuk mengakhiri penderitaan mereka.

Yang dilakukan si ABG itu adalah bentuk pencarian kedamaian spiritual di tengah badai emosi yang gagal diredam oleh logika. 

Kasus yang terjadi di Kota Kediri tersebut, mari kita jadikan sebagai pengingat dan pelajaran bagi para orang tua, pendidik dan praktisi psikologi, bahwa literasi emosional itu sama pentingnya dengan literasi digital.

Baca Juga: Harga Plastik dalam Konflik Iran Vs AS-Israel

Kita perlu mengajarkan kepada generasi Z, bahwa kegagalan dalam asmara itu adalah bagian dari narasi kehidupan, bukan akhir dari segalanya. 

Merujuk pada pemikiran Daniel Goleman mengenai “Emotional Intelligence”, bahwa tanpa kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan sehat, kecanggihan teknologi di tangan remaja hanya akan menjadi alat yang mempercepat keputusasaan. Kita membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang nyata. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Andhika Attar Anindita
#catatan #bunuh diri #catatan awal pekan