Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

4 Alasan, Mengapa Kediri Butuh Festival Kuno-Kini

Kurniawan Muhammad • Senin, 20 April 2026 | 12:47 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Jika tidak ada aral melintang, tahun ini Jawa Pos Radar Kediri melalui Divisi Event Organizer bekerja sama dengan Pemkab Kediri, kembali menggelar “Festival Kediri Kuno Kini”, pada bulan depan Mei. Tahun ini, adalah yang ketiga kalinya digelar. Ketika event ini mulai di-preview di akun media sosial Radar Kediri dalam beberapa minggu ini, antusiasme publik cukup tinggi. Mereka terkesan sudah tidak sabar dengan event yang akan dihelat di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) tersebut. 

Mengapa “Festival Kediri Kuno Kini” ini sangat penting digelar?  Setidaknya ada empat alasannya: 

Pertama, di tengah arus globalisasi yang seringkali menggerus identitas lokal, kehadiran “Festival Kediri Kuno Kini” bukan sekadar agenda hiburan. Tapi, festival tersebut sejak awal didesain sebagai sebuah intervensi strategis dalam lanskap ekonomi kreatif, pariwisata, dan penguatan sektor informal. Festival ini menggabungkan dua dimensi waktu (masa lalu dan masa kini) dalam satu ruang publik yang hidup, menghadirkan produk, seni dan narasi sejarah, dalam format yang relevan dengan selera modern. Untuk mengakomodasi nilai-nilai tersebut tema “Festival Kediri Kuno Kini” tahun ini adalah: Wastra, Sastra, Kriya.

Baca Juga: Bisnise Bangkrut, Bojone pun Cabut

Dalam perspektif ekonomi kreatif, dengan mengangkat tema tersebut, “Festival Kediri Kuno Kini” tidak hanya menciptakan ruang konsumsi. Tetapi juga diharapkan dapat menciptakan ruang “produksi makna” (meaning production). Yaitu  menjadikan sejarah sebagai “produk pengalaman” (experience economy), sebagaimana dikemukakan oleh Joseph Pine II  dan James Gilmore, bahwa ekonomi modern bergerak dari sekadar menjual barang atau jasa menjadi menjual pengalaman yang berkesan. 

Kedua, selama dua kali pelaksanaan  “Festival Kediri Kuno Kini”, lokasi dipusatkan di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG). Tahun ini, juga dipusatkan di kawasan SLG. Jika berbicara ikon Kabupaten Kediri, salah satunya ya SLG. Selama ini, ikon seperti SLG cenderung hanya menjadi destinasi statis. Artinya, dikunjungi, dijadikan background foto, lalu ditinggalkan. Dengan adanya gelaran “Festival Kediri Kuno Kini”, maka diharapkan mengubah kawasan SLG dari destinasi statis menjadi destinasi dinamis berbasis event (event-based tourism). 

Baca Juga: Wow! Lapis Tugu Kediri Capai Peningkatan Omzet 100 Persen Lebih dari Target di Kuno Kini Fest 2025

Dalam teori pariwisata modern, event adalah “temporary attraction with longterm impact”. Artinya, meskipun event-nya berlangsung sementara, dampaknya bisa berkelanjutan. Jika sebuah event dilaksanakan secara konsisten, dan selalu di-upgrade kuantitas dan kualitasnya, maka dampak dari event akan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik dan regional. Bisa juga memperpanjang lama tinggal (length of stay) dan meningkatkan belanja wisata (tourist spending). 

Dengan adanya “Festival Kediri Kuno Kini”, maka diharapkan event itu menciptakan “reason to visit”. Tanpa adanya event, SLG bisa jadi hanya ikon. Dengan adanya event, maka SLG akan menjadi magnet yang semakin kuat daya tariknya.

 Baca Juga: Pengusaha Perempuan Angkat Mukena Premium Berdesain Khas

Ketiga, selama dua kali menggelar  “Festival Kediri Kuno Kini” di tahun 2024 dan 2025, manfaatnya cukup signifikan dirasakan para pelaku UMKM. Pada 2024 diikuti 210 stand dan pada 2025 diikuti 245 stand. Pada 2025, selama 10 hari pelaksanaan “Festival Kediri Kuno Kini”, event tersebut dikunjungi sedikitnya 253 ribu pengunjung. Panitia mencatat perputaran transaksi sebesar Rp 545 juta per hari atau sebesar 5,45 miliar selama 10 hari.

Bagi para pelaku UMKM, “Festival Kediri Kuno Kini” bisa dijadikan sebagai akses pasar instan. Mereka tidak perlu membangun toko atau brand awareness dari nol. Dengan mengikuti “Festival Kediri Kuno Kini”, mereka sudah mendapatkan traffic siap pakai. Mereka juga akan mendapatkan peningkatan omzet. Dalam banyak studi event UMKM di Indonesia (Kemenparekraf 2023 - 2025), event seperti festival mampu meningkatkan omset harian mikro hingga 2-5 kali lipat dibanding hari biasa. 

Keberadaan “Festival Kediri Kuno Kini” juga dapat menimbulkan multiplier effect. Perputaran uang tidak akan berhenti di tenant atau stand. Tapi juga berdampak pada pedagang kaki lima, tukang parkir, transportasi lokal hingga penyedia bahan baku. Sehingga, dalam hal ini ekonomi akan bergerak secara horizontal, menciptakan ekosistem ekonomi rakyat.

Keempat, manfaat sosial bagi masyarakat. Bagi masyarakat, “Festival Kediri Kuno Kini” memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekadar ekonomi. Di antaranya, melalui festival itu terjadi rekoneksi dengan identitas lokal. “Festival Kediri Kuno Kini” berpotensi menjadi kebanggaan kolektif masyarakat Kediri. Bagi seniman lokal, bisa menjadi ruang ekspresi. Dan bagi masyarakat, dapat menjadi hiburan yang terjangkau dan inklusif. 

Jadi, “Festival Kediri Kuno Kini” bukan sekadar perayaan. Tapi sudah menjadi mesin ekonomi, panggung identitas dan investasi masa depan. Sebagai masyarakat Kediri, tentu akan mendukung dan bangga dengan festival tersebut. Sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak setuju atau tidak senang dengan “Festival Kediri Kuno Kini”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Editor : Shinta Nurma Ababil
#kabupaten kediri #Hari jadi Kediri #kediri #Kuno Kini Festival