Media ini pada edisi Sabtu pekan lalu (11/4) menurunkan headline tentang naiknya harga plastik di kawasan Kediri Raya. Di daerah-daerah lain ternyata juga mengalami fenomena tersebut. Penyebab dari naiknya harga plastik dikaitkan dengan konflik di Timur Tengah, antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Bagaimana konflik di Timur Tengah itu sampai bisa mempengaruhi harga plastik di Kediri Raya?
Dalam ekonomi global yang saling terhubung, konflik atau perang bukan hanya soal peluru dan wilayah. Tetapi juga soal rantai pasok. Dan plastik, adalah salah satu korban yang tak terlihat.
Plastik yang kita gunakan sehari-hari, bukan hanya sekadar bahan sintetis. Plastik adalah produk dari industri petrokimia. Bahan bakunya, yaitu polyethylene (PE) dan polypropylene (PP), berasal dari minyak bumi dan gas alam. Maka, setiap terjadi gejolak pada harga energi global, akan langsung merembet ke harga plastik.
Ketika terjadi konflik di Timur Tengah yang sudah sebulan lebih ini, pasar global akan bereaksi cepat. Yang terjadi: Harga minyak mentah naik, karena kekhawatiran gangguan pasokan; jalur distribusi energi (terutama yang melewati Selat Hormuz yang dikuasai Iran) menjadi tidak stabil; biaya produksi petrokimia secara otomatis melonjak. Sehingga, ketika harga minyak naik, bahan baku plastik akan naik, dan otomatis harga plastik juga ikut naik.
Ketika harga minyak dunia saat ini sedang naik, yang menyebabkan harga plastik mengalami lonjakan kenaikan signifikan, mengapa harga BBM (bahan bakar minyak) di Indonesia masih relatif stabil dan tidak ada tanda-tanda kenaikan?
Baca Juga: Ketika Kritik Bukan Dibalas Argumen Melainkan Ancaman
Fenomena ini sekilas terasa janggal. Tetapi, sesungguhnya ini bukan anomali. Melainkan ini merupakan hasil dari dua mekanisme ekonomi yang sangat berbeda: yaitu antara mekanisme harga yang diatur (regulated) versus mekanisme harga yang mengikuti pasar (market-driven).
Begini penjelasannya. Di Indonesia, harga BBM, terutama jenis tertentu, tidak sepenuhnya mengikuti harga pasar global. Pemerintah melalui Pertamina menjalankan fungsi stabilisasi. Ini lah yang menyebabkan harga BBM di Indonesia untuk saat ini masih relatif stabil, karena pemerintah memberikan subsidi langsung, terutama untuk BBM tertentu seperti Pertalite dan Solar. Dengan kata lain, harga minyak dunia boleh naik, tapi harga BBM di SPBU, bisa ditahan oleh negara melalui pemberian subsidi dari APBN.
Mengapa pemerintah harus menahan harga BBM agar tidak naik melalui pemberian subsidi? BBM adalah komoditas yang sangat sensitif. Fluktuasinya bisa langsung mempengaruhi inflasi nasional. Dan berdampak langsung ke daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat terganggu, maka akan berpotensi memicu gejolak sosial.
Beda BBM, beda plastik. Harga BBM di Indonesia untuk saat ini masih tidak mengalami kenaikan meski harga minyak dunia sedang tidak baik-baik saja, dalam hal ini karena diintervensi atau disubsidi oleh negara. Berbeda dengan BBM, harga plastik tidak disubsidi dan tidak diintervensi langsung oleh pemerintah. Sehingga, ketika harga minyak dunia naik (bahan baku plastik), maka akan langsung berdampak pada harga plastik.
Plastik tidak seperti BBM. Jika BBM bisa disubsidi dan diintervensi negara, maka tidak ada subsidi untuk plastik. Tidak ada kompensasi dari pemerintah untuk plastik. Dan tidak ada penetapan harga eceran untuk plastik. Sehingga, harga plastik merupakan akumulasi dari harga pasar global, kurs dan biaya logistik. Ketika harga minyak global naik, diikuti kurs yang melemah dan ongkos kirim naik, maka akan langsung berdampak pada melonjaknya harga plastik domestik.
Fakta ini semakin membuka tabir, bahwa betapa rapuhnya ketergantungan kita pada rantai pasok global. Dalam perspektif ekonomi politik global, hal ini menunjukkan bahwa negara kita masih berada pada posisi “price taker”. Yaitu posisi pelaku pasar yang tidak punya kekuatan untuk menentukan harga, sehingga hanya bisa menerima harga yang ditentukan oleh pasar. Jadi, Indonesia adalah pelaku ekonomi yang mengikuti harga, bukan menentukan harga.
Fenomena melonjaknya harga plastik juga mengindikasikan bahwa industri domestik kita masih belum sepenuhnya mandiri dalam bahan baku.
Mengapa Indonesia masih sering terjebak menjadi “price taker”? Karena dalam banyak sektor (termasuk plastik), negara kita ini masih bergantung pada impor bahan baku, tidak menguasai hulu industri (upstream) dan tidak punya kontrol terhadap harga global. Akibatnya, harga ditentukan di luar negeri, tapi dampaknya dirasakan di dalam negeri.
Baca Juga: Ketoke Apik Jebule Licik
Ketika harga plastik melonjak naik, maka akan mempengaruhi banyak sektor. Misalnya plastik sering dijadikan sebagai kemasan makanan dan minuman. Sehingga, akan berdampak pada industri UMKM. Plastik juga digunakan di sektor pertanian. Misalnya untuk mulsa, yaitu penutup permukaan tanah yang digunakan dalam pertanian untuk menjaga kondisi tanah tetap optimal bagi pertumbuhan tanaman. Ini semua akan berpengaruh terhadap biaya produksi.
Wal akhir, kita mungkin sempat menganggap, bahwa konflik atau perang yang terjadi di Timur Tengah saat ini, sebagai peristiwa yang jauh. Artinya, bukan terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Tapi, kenaikan harga plastik yang signifikan, membuktikan bahwa konflik di Timur Tengah, bisa menjelma menjadi biaya tambahan bagi pedagang kecil di Kediri Raya.
Ini lah wajah nyata globalisasi hari ini. Ketika satu percikan konflik terjadi di belahan dunia lain, menjelma menjadi tekanan ekonomi di dapur kita sendiri. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Shinta Nurma Ababil