Sudah sangat tepat menurut saya, Pemkot Kediri di bawah Wali Kotta Mbak Vinanda Prameswati dan Wakil Wali Kota Gus Qowim memermak Jalan Stasiun.
Malam tahun baru lalu, kawasan ikonik yang sudah dipermak itu diresmikan, ditandai dengan makan pecel tumpang, bareng wali kota.
Jujur, Jalan Stasiun, kawasan yang sebenarnya ikonik itu, selama ini dibiarkan apa adanya, bertahun-tahun. Nggak diapa-apakan. Padahal, kawasan tersebut, adalah salah satu etalase Kota Kediri.
Sebuah kawasan, yang akan bisa menjadi penanda dari wajah atau kesan Kota Kediri. Apalagi, Jalan Stasiun nyambung dengan Jalan Dhoho, kawasan ikonik lainnya.
Selama bertahun-tahun, kawasan di Jalan Stasiun itu dibiarkan begitu saja. Alias diberlakukan apa adanya.
Dalam buku “Transit Villages in the 21st Century” yang ditulis oleh Michael Bernick dan Robert Cervero disebutkan, ketika sebuah stasiun hanya difungsikan sebagai titik naik-turun penumpang saja, stasiun itu tidak memiliki kehidupan sosial.
Bernick dan Cervero menyebutnya sebagai “transport monoculture”, yaitu ruang yang hidup hanya pada jam sibuk, lalu mati setelahnya.
Dalam buku tersebut, Bernick dan Cervero memperkenalkan konsep “Transit Village”. Konsep ini menjelaskan, bahwa stasiun itu harus diposisikan sebagai jangkar komunitas (community anchor).
Bukan fasilitas yang terisolasi. Maksudnya, stasiun harus dilihat sebagai pusat orientasi ruang. Aktivitas kota mengalir keluar dari stasiun, bukan berhenti di sana. Orang tidak hanya melewati stasiun, tetapi bertemu, berinteraksi dan beraktivitas.
Dengan kata lain, stasiun menjadi ruang sosial pertama dan terakhir yang dialami seseorang saat masuk atau keluar kota.
Dalam pandangan Bernick dan Cervero, stasiun bisa menjadi “jantung sosial”. Setidaknya ada tiga alasannya: Pertama, stasiun adalah titik temu alami (natural meeting point).
Stasiun dikunjungi oleh berbagai kelompok sosial, mulai dari kelas pekerja, pelajar, pedagang, wisatawan, dan warga sekitarnya.
Dalam hal ini, stasiun memiliki potensi menjadi ruang inklusif, yang berbeda dengan mal atau kawasan elite yang cenderung eksklusif. Dalam konsep “Transit Village”, keberagaman pengguna adalah modal sosial, bukan gangguan.
Kedua, stasiun memiliki ritme kehidupan harian. Bernick dan Cervero menekankan bahwa transportasi itu menciptakan ritme waktu. Misalnya, pagi hari adalah arus pergi.
Siangnya aktivitas sosial. Sore hari, arus pulang. Dan malam hari, kegiatan santai dan komunitas. Jika kawasan di sekitar Stasiun diisi fungsi campuran (mixed-use), maka kafe, warung, taman, dan trotoar akan hidup sepanjang hari.
Stasiun akan menjadi penentu denyut kehidupan urban. Di sini, stasiun bisa berfungsi seperti alun-alun modern.
Ketiga, stasiun sebagai ruang simbolik kota. Di sejumlah kota di Eropa dan Asia, seringkali stasiun menjadi wajah pertama kota. Stasiun juga memiliki nilai simbolik dan emosional.
Bernick dan Cervero menyatakan bahwa ketika stasiun dirancang sebagai pusat komunitas, maka dia berperan sebagai “civic landmark rather than more infrastructure”. Artinya, stasiun berfungsi seperti balai kota, alun-alun dan pasar tradisional.
Nah, dari sini, kita menjadi faham, mengapa Mbak Vinanda dan Gus Qowim memprioritaskan untuk mempermak Jalan Stasiun.
Selain ini linier dengan visi-misi mereka menjadikan Kota Kediri sebagai kota yang ngangeni, Jalan Stasiun ingin dijadikan sebagai “jantung sosial” dalam konsep “transit villages”.
Agar stasiun benar-benar menjadi jantung sosial, Bernick dan Cervero menyebut setidaknya ada empat elemen kunci yang harus diperhatikan.
Pertama, ruang publik di sekitar stasiun. Dalam hal ini, misalnya disediakan tempat duduk, dan trotoarnya dibikin lebar sehingga ramah bagi pejalan kaki.
Kedua, fungsi campuran. Misalnya, di kawasan itu ada deretan toko lokal, aneka kuliner, hunian dan juga layanan publik.
Elemen ketiga, skala manusia. Artinya, bukan monumental kosong dan harus nyaman untuk pejalan kaki.
Keempat, keterhubungan visual. Dalam hal ini, aktivitasnya harus terlihat, dan tempatnya harus benar-benar terbuka, tidak boleh ada pagar yang menutupi atau dinding yang masif.
Semoga, seiring berjalannya waktu, upaya mempermak Jalan Stasiun terus berlanjut. Anggap saja, yang sudah dilakukan Pemkot Kediri kali ini, adalah upaya mempermak Jalan Stasiun tahap pertama.
Semoga ada tahap-tahap berikutnya. Karena menurut saya, wajah Jalan Stasiun masih bisa dipermak lagi sehingga tampak lebih wow.
Wal akhir, Jalan Stasiun sekarang ini, tak hanya telah diresmikan sebagai ruas jalan yang telah direvitalisasi.
Tetapi, Jalan Stasiun mulai dan sedang bertransformasi menjadi sebuah stage baru kehidupan perkotaan.
Yakni sebuah ruang publik yang tak lagi sekadar transit, melainkan narasi kolektif sebuah kota yang sedang “berguru” kepada ruang-ruang urban modern.
Pendekatan ini mencerminkan trend global, bahwa ruang di sekitar transport hub bisa menjadi “mesin urban”. Bukan hanya mengantar orang, tetapi juga hidup dan menghasilkan aktivitas ekonomi kreatif.
Dalam hal ini, fokus pembangunan tidak hanya pada transportasi, tetapi pada pengalaman ruang pejalan kaki, komersial lokal, dan keterikatan sosial sekitar stasiun. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Andhika Attar Anindita