Jembatan ini sebetulnya punya nilai sejarah tinggi. Tapi, saat ini, terkesan sebagai benda mati yang tak berarti apa-apa. Inilah Jembatan Brawijaya Lama, yang di zaman Belanda diberi nama “Brug Over den Brantas te Kediri”, artinya: Jembatan di atas Brantas di Kediri.
Sebagai tempat bersejarah, di tempat itu hanya ada tulisan saja. Jika berupa tulisan saja, tanpa ada yang menceritakan dengan intonasi dan gaya yang menarik (story telling yang bagus), maka tempat tersebut ibarat jasad tanpa ruh. Hampa alias kosong.
Harusnya, Jembatan Brawijaya Lama dijadikan sebagai salah satu objek wisata edukasi dan wisata sejarah di Kediri. Setidaknya ada tiga angle yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan story telling untuk menceritakan jembatan bersejarah itu.
Pertama, dilihat dari sisi konstruksi jembatan. “Brug Over den Brantas te Kediri” yang resmi dioperasikan pada 18 Maret 1869 itu adalah jembatan pertama yang dibangun di Pulau Jawa dengan konstruksi besi. Dan ini membuatnya menjadi signifikan dalam sejarah infrastruktur teknik di Indonesia.
Kedua,struktur jembatan dibangun di atas tiang sekrup yang ditanam di sungai. Ini adalah teknik foundation engineering yang cukup maju pada zamannya untuk mengatasi arus Sungai Brantas. Ketiga, keberadaan jembatan tersebut memperkaya jaringan perdagangan antara wilayah Timur dan Barat Sungai Brantas, sehingga memperkuat Kediri sebagai kota transit penting kala itu.
Penelitian historis menunjukkan bahwa Brug Over den Brantas te Kediri terlibat dalam memperkuat hubungan wilayah yang sebelumnya terpisah, yang pada akhirnya mendorong perkembangan ekonomi. Cerita-cerita seperti ini menurut saya sangat penting untuk diceritakan kepada generasi sekarang, khususnya generasi Z dan generasi Alpha. Coba tanyakan kepada dua generasi itu tentang sejarah Jembatan Brawijaya Lama, saya yakin, banyak di antaranya yang tidak tahu.
Mengapa tidak bikin event dengan latar belakang “Brug Over den Brantas te Kediri”? Setidaknya ada tiga event yang saya usulkan melalui tulisan ini: Pertama, bikin “Konser Akustik Senja di Atas Jembatan”. Kasih saja nama “Brantas Soundwave”. Bikin panggung mini akustik dengan latar belakang Sungai Brantas dan cahaya sunset. Lengkapi dengan tata cahaya minimalis agar tidak merusak struktur jembatan.
Untuk pengisi acara, ajak kolaborasi musisi local dengan soundscape suara sungai. Untuk penonton duduknya dibikin lesehan dengan pencahayaan lentera vintage. Dan ketika acara berlangsung, dibikin streaming live untuk memperkenalkan jembatan ke publik luas.
Jadi, yang ditampilkan dengan adanya atraksi atau event itu adalah perpaduan antara music, sejarah, dan alam. Atmosfer seperti ini yang jika digarap seirus, akan menjadi event yang berkesan di Kota Kediri, yang bakal sulit direplikasi di tempat lain.
Event kedua, adalah “Bridge Night Market: Kediri Tempo Dulu”. Konsepnya adalah pasar malam, di mana di sana terdapat UMKM yang dikurasi secara khusus, yang menjual kuliner dan kerajinan khas Kediri, dan ditata dalam konsep pasar tempo dulu. Jika ini digarap serius, maka akan menimbulkan kesan unik, yakni menimbulkan kesan adanya pasar malam bersejarah, karena digelar di lokasi bersejarah.
Event ketiga, yaitu lari malam (night run) atau jalan santai dengan rute bersejarah melewati jembatan Brawijaya Lama dan landmark bersejarah lain di Kediri. Misalnya event ini diberi nama “Bridge Heritage Walk and Night Run”. Start dan finish di Jembatan Brawijaya Lama. Lalu ada beberapa pos yang harus di-scan (QR Code) oleh setiap peserta, berisi cerita-cerita bersejarah. Event ini jika digarap serius, bisa berkesan unik, karena bisa disebut sebagai event menyehatkan sambil belajar sejarah.
Jadi, sebagai salah satu saksi bisu perjalanan panjang Kota Kediri, Jembatan Brawijaya Lama memegang peran penting bukan hanya sebagai infrastruktur penghubung, tetapi sebagai warisan sejarah yang sarat nilai. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa pembangunan kota bukan hanya soal membangun yang baru, tetapi juga bagaimana menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali aset-aset historis agar tetap relevan bagi generasi masa kini. Di tengah pesatnya perkembangan kota, jembatan ini adalah pengingat bahwa identitas lokal tidak boleh hilang tertelan modernisasi.
Potensi besar Jembatan Brawijaya Lama sebenarnya bukan hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi pada cerita panjang yang menyertainya—tentang kehidupan masyarakat, perubahan kota, hingga dinamika sosial yang pernah tumbuh di sekitarnya.
Cerita-cerita inilah yang mampu menghidupkan kembali ruang publik dan menjadikan sebuah situs sejarah lebih dari sekadar objek foto, melainkan sumber wawasan dan refleksi. Jika dikemas dengan strategi yang tepat, jembatan ini dapat menjadi salah satu pusat kegiatan wisata edukasi yang memberi pengalaman bermakna bagi pelajar, peneliti, hingga wisatawan umum.
Mengoptimalkan aset seperti Jembatan Brawijaya Lama berarti membuka pintu bagi pengembangan sektor pariwisata yang bernilai tinggi. Wisata sejarah dan edukasi memiliki karakter yang berkelanjutan, karena tidak bergantung pada tren sesaat, melainkan pada kekuatan narasi dan pemahaman budaya. Hal ini memungkinkan Kota Kediri memperluas daya tarik wisatanya, tidak hanya mengandalkan destinasi modern, tetapi juga menegaskan identitasnya sebagai kota dengan akar sejarah yang kaya. Dengan penataan, interpretasi, dan publikasi yang baik, jembatan ini dapat menjadi ikon baru yang menyatukan unsur budaya, arsitektur, dan pendidikan.
Pada akhirnya, upaya memaksimalkan potensi Jembatan Brawijaya Lama bukan hanya sebuah proyek pariwisata, tetapi sebuah investasi peradaban. Memelihara dan menghidupkan situs-situs bersejarah berarti menjaga kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Kota Kediri. Dengan menjadikan jembatan ini ruang belajar yang hidup, kota tidak hanya memperkuat daya tarik wisatanya, tetapi juga menanamkan kebanggaan lokal bagi generasi muda. Di sinilah pentingnya kolaborasi pemerintah, komunitas, dan masyarakat untuk memastikan jembatan bersejarah ini tetap menjadi bagian vital dari perjalanan panjang Kota Kediri menuju masa depan. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Shinta Nurma Ababil