Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

(Mimpi) Kampung Inggris Pare

Kurniawan Muhammad • Senin, 17 November 2025 | 21:29 WIB

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan
Kamis pekan lalu saya kedatangan tamu owner sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris di Pare, Kabupaten Kediri, yang sudah eksis lebih dari 17 tahun. Kami ngobrol cukup lama.

Salah satunya menyoal kawasan Pare yang terus berkembang, tapi sayangnya masih belum di-treatment secara maksimal. Akibatnya, kawasan Pare terkesan berkembang “apa adanya”, tanpa ada masterplan yang komprehensif.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kawasan Pare yang terkenal dengan Kampung Inggrisnya itu terdapat sekitar 173 lembaga kursus bahasa. Saat ini tak hanya Bahasa Inggris. Tapi juga berkembang lembaga kursus Bahasa Mandarin dan Bahasa Arab.

Dengan maraknya lembaga kursus bahasa itu, membuat kawasan Pare banyak diserbu pengunjung dari seluruh wilayah Indonesia. Partisipasi masyarakat lokal sangat tinggi dalam pengembangan kawasan Pare.

Mereka banyak yang membuka usaha kos-kosan, ruko, warung makan, hingga toko souvenir. Diperkirakan perputaran uang di kawasan Pare mencapai Rp 200 miliar per bulan. Dari sisi pariwisata, desa di wilayah Kampung Inggris Pare telah tercatat sebagai desa wisata rintisan di portal Desa Wisata Kementerian Pariwisata.

Lantas, apa yang membuat kawasan Pare terkesan “apa adanya”? Mari kita petakan kawasan Pare dengan menggunakan Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Strengths: Pare dikenal luas sebagai Kampung Inggris. Keberadaannya telah terbukti memperkuat ekonomi lokal. Dari Pemkab Kediri, sudah menjalankan program penataan infrastruktur, meski belum maksimal. Pendek kata, Kampung Inggris Pare telah menjadi magnet edukatif yang cukup kuat sehingga mampu menarik pelajar dari seluruh Indonesia untuk datang.

Weaknesses: Maraknya berbagai lembaga kursus yang berdiri, ditambah dengan semakin banyaknya pelajar yang datang, membuat terjadinya kepadatan bangunan. Sehingga menurunkan kualitas ruang terbuka dan kualitas hidup lingkungan.

Ketersediaan ruang hijau minim. Mulai ada problem di bidang sanitasi dan kebersihan. Dari sisi tata kelola kelembagaan kursus, rasanya belum ada penjaminan mutu atau koordinasi formal yang kuat di antara lembaga kursus.

 

 

 

 

Di sana sebetulnya sudah ada semacam organisasi perkumpulan para pengelola lembaga kursus. Tapi, terkesan kurang berjalan optimal. Di kawasan Kampung Inggris Pare juga kurang dalam hal atraksi pariwisata yang terstruktur.

Meski tergolong sebagai wisata edukasi, akan lebih baik di kawasan tersebut diberikan atraksi lain seperti paket wisata, event, dan atraksi budaya. Hal ini masih minim dilakukan.  

Opportunities: Kampung Inggris Pare sudah diakui oleh Kementerian Pariwisata sebagai kawasan eduwisata. Ini bisa menjadi  modal untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata pendidikan yang lebih formal dan branded sebagai “Edutourism Hub”.

Kampung Inggris Pare juga bisa menjalin kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan swasta. Bisa menggandeng universitas, kursus internasional, sponsor, dan perusahaan teknologi edukasi. Di kawasan tersebut juga berpotensi untuk pemanfaatan ruang terbuka.

Misalnya dengan mengkonversi lahan menjadi taman edukatif, taman bahasa, ruang komunitas, dan taman budaya.  Untuk menerapkan sustainable development, di kawasan Kampung Inggris Pare bisa mengintegrasikan perencanaan hijau (green infrastructure), tata ruang berkelanjutan, serta smart city kecil di Pare. Kaitannya dengan keberadaan Bandara Dhoho, Pare bisa menjadi titik singgah wisatawan yang datang dari luar daerah.  

Threats: Jika pertumbuhan bangunan kursus dan usaha tidak dibatasi, maka akan berpotensi mengurangi kualitas hidup dan identitas lokal.

Tidak adanya regulasi zonasi atau penataan intensitas bangunan, maka akan berisiko terjadi overkomersialisasi dan konflik penggunaan lahan. Banyaknya lembaga kursus, berpotensi bisa menimbulkan kompetisi tidak sehat, dan kualitas kursus menurun.

Minimnya ruang hijau, disertai dengan drainase yang buruk, maka akan berpotensi terjadinya banjir atau masalah sanitasi.

Nah, setelah memetakan kawasan Pare dengan kaidah SWOT, maka setidaknya ada lima usul dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan kawasan Kampung Inggris Pare agar menjadi kawasan ikonik di Kabupaten Kediri.

 

 

 

 

Pertama, dilakukan penataan zonasi dan tata ruang. Misalnya, dengan membuat “Masterplan Zonasi Eduwisata” untuk Kampung Inggris Pare, yang mengalokasikan zona khusus, zona komersial, zona permukiman, dan ruang terbuka hijau.

Kedua, peningkatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan infrastruktur lingkungan. Dalam hal ini melakukan konversi sebagian lahan menjadi taman edukatif.

Misalnya bikin taman bahasa, taman pembelajaran yang bisa digunakan untuk kegiatan kursus luar ruangan, workshop atau praktek bahasa. Selain itu juga membangun sistem drainase hijau dan infrastruktur ramah lingkungan. Misalnya membuat bioswale, resapan air, untuk mengatasi banjir.

Ketiga, penguatan kelembagaan kursus dan pendidikan. Yakni dengan lebih memberdayakan “Forum Kampung Bahasa” yang sudah ada sebagai wadah koordinasi antara lembaga kursus, pemerintah lokal, dan komunitas.

Juga melakukan standarisasi kualitas kursus, sertifikasi instruktur, kurikulum, manajemen lembaga kursus, agar reputasi edukatif tetap tinggi atau terjaga.

Keempat, pengembangan ekonomi kreatif lokal. Yaitu mendorong pengembangan UMKM lokal pendukung eduwisata.

Misalnya bikin cafe berkonsep bahasa, toko suvenir, layanan penyewaan sepeda, laundry, hingga transportasi lokal.

Bisa juga berkolaborasi dengan seniman lokal untuk menciptakan merchandise “Pare English Village” (misalnya kaos, tas, aksesori) sebagai suvenir khas.

Kelima, transportasi dan aksesibilitas. Yaitu mempercepat integrasi Pare ke rute pariwisata kabupaten, misalnya shuttle dari titik transportasi utama (terminal, bandara Kediri) ke Pare.

Selain itu juga meningkatkan konektivitas infrastruktur jalan lokal (akses ke kos, kursus, spot wisata) agar nyaman bagi pengunjung dan pelajar.

Juga mempertimbangkan transportasi ramah lingkungan di dalam kampung – misalnya jalur sepeda, dan zona pedestrian.

Catatan ini bukan bermaksud menggurui. Tapi, ini adalah sebuah mimpi yang ingin menyaksikan kawasan Pare menjadi kawasan yang ikonik dan mengesankan. Bagaimana menurut  Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Miko
#kawasan #SWOT #kediri #Ikonik #lembaga kursus #Edukatif #catatan awal pekan #kampung inggris pare #bahasa inggris