Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menkeu Sri Mulyani Vs Menkeu Purbaya

Kurniawan Muhammad • Senin, 22 September 2025 | 23:33 WIB
ikon catatan 26 tahun Jawa Pos Radar Kediri
ikon catatan 26 tahun Jawa Pos Radar Kediri

Menteri Keuangan (Menkeu) yang sekarang ini, Purbaya Yudhi Sadewa, termasuk tipe pejabat yang "asyik". Salah satunya, karena statemennya sering terkesan lugas, cenderung ceplas-ceplos.

Ketika menghadiri Rapat Kerja perdana dengan Komisi XI DPR pada Rabu lalu (10/9/2025), Purbaya berani mengkritik ke DPR ketika para wakil rakyat itu mencecarnya dengan pertanyaan terkait dengan kebijakan Menkeu sebelumnya.

"Kenapa tidak pernah mempertanyakan itu (ke Menkeu sebelumnya)?" tanya Purbaya kepada para anggota DPR. Dia mengatakan seperti itu seperti tidak ada beban.

Purbaya juga begitu entengnya menanggapi kritikan dari Rektor Universitas Paramadina Didik Rachbini.

Saat itu Didik mengkritik kebijakan Purbaya yang menarik Rp 200 triliun dari Bank Indonesia (BI) untuk ditempatkan di lima bank pemerintah.

Didik menyebut kebijakan Purbaya berpotensi melanggar Undang-Undang (UU). "Pak Didik harus belajar lagi," kata Purbaya, sekaligus membantah pernyataan Didik.

Yang terbaru, Purbaya mengancam akan mengambil alih anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) jika penyerapannya dinilai rendah.

Dana yang tak terserap tersebut rencananya akan dialihkan untuk membayar utang atau mengurangi defisit.

Pernyataan ini terkesan berani karena program MBG adalah salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Bisa dikatakan, Purbaya adalah antitesis dari Sri Mulyani. Jika Sri Mulyani terkesan selalu hati-hati dalam ber-statement, Purbaya terkesan ceplas-ceplos.

Sri Mulyani terkesan lebih menjaga kehati-hatian (prudent), sedangkan Purbaya cenderung bertindak cepat dan tegas.

Ada juga pengamat yang berpendapat, Sri Mulyani cenderung pada konsep Keynisian moderat dan berfokus pada sektor riil, karena menekankan stimulus fiskal dan stabilisasi APBN untuk menjaga permintaan.

Sementara Purbaya terkesan dipengaruhi madzhab monetaris ala Milton Friedman, yang menekankan uang beredar. Mana yang lebih tepat dari dua gaya tersebut? Waktulah yang akan menjawab.

Bagi wartawan, sosok pejabat seperti Purbaya ini lebih disukai. Karena pernyataannya sering berpotensi menghasilkan quote-quote menarik.

Dan, biasanya berpotensi juga menjadi pernyataan yang kontroversial atau anti-mainstream. Nah, pejabat seperti ini lebih disukai wartawan.

Bagi rakyat, yang terpenting adalah Menkeu tak hanya harus mampu mengatur dan mengendalikan keuangan negara. Tapi harus juga mampu menjadi stabilitator bagi perekonomian nasional.

Menteri keuangan yang ideal adalah seorang teknokrat yang berintegritas. Mampu menjelaskan kebijakan rumit dengan sederhana.

Memiliki nyali untuk mengambil keputusan tidak populer demi masa depan bangsa, serta menjadi penjaga gerbang terakhir yang memastikan keuangan negara dikelola dengan hati-hati, transparan, dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Jadi, Menteri Keuangan yang ideal adalah kombinasi dari kecerdasan seorang profesor ekonomi, integritas seorang hakim, keterampilan komunikasi seorang diplomat, dan keberanian seorang negarawan.

Semoga Purbaya dengan gaya dan kemampuannya, mendekati menjadi Menteri Keuangan yang ideal. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Andhika Attar Anindita
#sri mulyani #menkeu #Purbaya