Sebetulnya, Kota Kediri punya kampung wisata yang sudah pernah masuk di 300 besar desa wisata nasional tahun 2021, versi Kementerian Pariwisata. Yaitu: Kampung Tenun Ikat Bandar. Pada tahun-tahun berikutnya, apakah peringkatnya tetap 300 besar? Naik atau turun peringkatnya? Di website milik Kementerian Pariwisata tampaknya tidak diupdate.
Pada website tersebut, memang diulas khusus tentang “Kampung Tenun Ikat Bandar”. Sayangnya, ulasannya terkesan “apa adanya”. Kurang dieksplore lebih dalam, sehingga terkesan “biasa-biasa saja”.
Sabtu lalu (23/08/2025), “Kampung Tenun Ikat Bandar” dikunjungi rombongan dosen dan mahasiswa dari kampus National Yunlin University of Science and Technology atau YunTech, Taiwan. Rombongan dari Fakultas International Business Management itu dipimpin Prof Chen Yuan Huang. Mereka melihat dari dekat bagaimana proses pembuatan kain tenun. Mulai dari pembuatan pola, pengikatan benang, pemaletan, hingga menenun dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Selanjutnya, para mahasiswa diberi kesempatan untuk praktek menenun.
“Ini industri yang sangat unik, di tengah industri yang serba modern,” komentar Prof Chen Yuan.
Prof Chen Yuan tidak salah. Dan dia, menurut saya. sedang tidak berbasa-basi. Saya sendiri sudah pernah datang ke kawasan tersebut. Dan saya setuju dengan Prof Chen Yuan, bahwa “Kampung Tenun Ikat Bandar” sebenarnya adalah industri yang unik, dan sangat layak untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi destinasi wisata yang punya distingsi dan value yang tinggi sebagai bagian dari kearifan lokal.
Sayangnya, semua potensi itu, kurang digarap lebih serius, mulai dari hulu hingga hilir. Jujur, ketika saya berkunjung ke “Kampung Tenun Ikat Bandar” yang terletak di Kelurahan Banjar Kidul, Kecamatan Mojoroto Kota Kediri itu, saya tidak bisa menangkap adanya “point of interest” di kawasan tersebut. Sehingga, akhirnya saya menganggap “biasa saja”. Tak ada yang bikin “wow”.
Padahal, kawasan tersebut sebenarnya sangat potensial. Asal digarap lebih serius, mulai dari hulu hingga hilir. Bagaimana caranya?
Pertama, melakukan kurasi dan penguatan narasi budaya. Dalam hal ini, harus diciptakan kesan, bahwa “Tenun ikat itu bukan sekadar kain. Tapi cerita tentang warisan budaya”. Selanjutnya, bikin “story telling” yang kuat tentang asal-usul, filosofi motif, dan proses pembuatan tenun ikat. Libatkanlah penenun lokal sebagai “pencerita budaya”, bukan hanya pengrajin.
Kemudian, sajikan kisah tersebut secara visual dalam video dokumenter pendek. Dan untuk menyesuaikan dengan kondisi kekinian, bisa dibuat VR experience, dan infografis interaktif. Ini semua ditampilkan di lokasi dan platform promo media digital. Saya membayangkan, jika semua ini ditampilkan di website-nya Kementerian Pariwisata, saya yakin, akan bikin orang berkunjung ke “Kampung Tenun Ikat Bandar”.
Kedua, mengembangkan konsep destinasi wisata berbasis “Experiential Tourism”. Wisatawan asing itu cenderung mencari pengalaman otentik. Nah, “Kampung Tenun Ikat Bandar” berpotensi menjadi destinasi wisata yang bisa menciptakan pengalaman otentik. Bikin beberapa paket wisata berbasis pengalaman. Misalnya “Weaving Workshop”, yaitu belajar menenun langsung dari ibu-ibu kampung. Bisa juga bikin paket “Stay with Locals”, yaitu menginap di rumah warga dengan aktivitas harian mereka.
Ketiga, gencar melakukan branding digital yang modern dan menyentuh aspek emosional. Materi brandingnya bisa berupa video sinematik tentang proses tenun. Bisa juga disertai dengan kisah inspiratif para penenun serta behind the scenes tentang kehidupan di kampung tenun. Selain itu, agar lebih massif, mengundang para influencer atau travel blogger internasional yang peduli budaya untuk datang ke Kampung Tenun.
Baca Juga: Slogan MAPAN di Usia 1.146
Keempat, membangun pusat data dan informasi terkait dengan “Kampung Tenun Ikat Bandar”. Dalam hal ini, harus tersedia lengkap dalam berbagai bahasa. Minimal Bahasa Inggris, Bahasa Latin dan Bahasa Mandarin. Disertakan juga fitur booking workshop, tur dan homestay. Dan juga dilengkapi dengan galeri foto dan testimoni dari para wisatawan yang sudah berkunjung.
Kelima, pengembangan infrastruktur dan kenyamanan wisatawan. Yaitu menyediakan fasilitas standar internasional, yang meliputi toilet yang bersih, homestay nyaman, akses Wi-Fi, dan penunjuk arah berbahasa Inggris. Selain itu, warga di “Kampung Tenun Ikat Bandar” harus bisa minimal menguasai “Basic English Cnversation”. Dan mereka harus menyadari betapa pentingnya kebersihan dan keramahan.
Keenam, aktif melakukan kolaborasi dan membangun jaringan internasional. Misalnya dengan menggandeng para desainer fashion internasional untuk membuat koleksi dari tenun ikat lokal. Juga bisa dengan mengikuti festival budaya dunia dengan menyiapkan booth interaktif yang di dalamnya ada demo menenun, memamerkan pakaian khas hingga makanan lokal.
Harus diakui, Wali Kota Kediri periode sebelumnya, Abdullah Abu Bakar sudah melakukan beberapa hal dari tahapan-tahapan di atas. Tapi, harus diakui pula, bahwa yang dilakukan masih belum maksimal. Artinya, belum dilakukan secara serius mulai hulu hingga hilir.
Nah, semoga, di periode Wali Kota Vinanda Prameswati ini, “Kampung Tenun Ikat Bandar” bisa lebih diseriusi lagi mulai dari hulu hingga hilir. Destinasi “Kampung Tenun Ikat Bandar” sangat berpotensi untuk menjadi destinasi wisata yang unik dan menarik. Biasanya, sesuatu yang unik dan menarik itu akan meninggalkan kesan mendalam. Dan kesan mendalam itu biasanya “ngangeni”. Bukan kah salah satu slogan dari visi MAPAN adalah “Ngangeni”? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira