Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Bandara Dhoho Jadi Embarkasi Haji

Kurniawan Muhammad • Senin, 4 Agustus 2025 | 16:00 WIB

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan
 

Semoga ini bukan wacana: Bandara Dhoho Kediri akan dijadikan sebagai bandara embarkasi dan debarkasi jamaah haji. Sebagai langkah persiapan, Kamis pekan lalu (31/07/25), Badan Penyelenggara Haji (BPH) melakukan survei ke Bandara Dhoho. Mereka meninjau kelayakan bandara. Mulai dari sarana dan prasarana, akses, tempat penginapan hingga kelengkapan pendukung lainnnya.

Jika semua persyaratan dianggap memenuhi, maka diperkirakan tahun depan, para jemaah haji sudah bisa diberangkatkan dari Bandara Dhoho. 

Dari aspek infrastruktur bandara, Bandara Dhoho sangat layak untuk dijadikan sebagai bandara embarkasi maupun debarkasi. Karena memang  sejak awal didesain sebagai bandara internasional. Runway di Bandara Dhoho lebih panjang dan lebih lebar dibandingkan dengan Bandara Juanda. Jika panjang dan lebar runway di Bandara Juanda 3.000 meter dan 45 meter, di Bandara Dhoho panjang dan lebar runway-nya 3.300 meter dan 60 meter. 

Dengan spek Bandara Dhoho tersebut, sungguh sangat menyedihkan jika bandara itu saat ini terkesan merana. Selama sebulan ini, bandara itu “non-aktif” untuk penerbangan domestik. Alih-alih penerbangan internasional. Kabarnya, penerbangan domestik akan kembali beroperasi bulan ini. Tapi ini masih kabarnya.

Jika nanti Bandara Dhoho benar-benar bisa menjadi embarkasi maupun debarkasi jemaah haji, maka selanjutnya, bandara tersebut juga akan bisa menjadi embarkasi dan debarkasi untuk jemaah umrah. Para jemaah umrah yang berasal dari kawasan Mataraman (Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Pacitan, Magetan, Ponorogo) bisa berangkat ke Tanah Suci langsung dari Bandara Dhoho. 

Berdasarkan dari data yang ada, tren jemaah umrah di Indonesia setiap tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Selama rentang 2023 – 2024 jumlah jemaah umrah mencapai 780 ribu orang. Setahun berikutnya (2024-2025), meningkat menjadi 1,8 juta orang. Jumlah ini menjadi angka tertinggi dalam 10 tahun terakhir. 

Saya yakin, peningkatan jemaah umrah ini juga terjadi di Jawa Timur, khususnya di wilayah Mataraman (Jatim bagian selatan). Sehingga, jika nanti Bandara Dhoho benar-benar menjadi embarkasi dan debarkasi untuk jemaah haji tahun depan, maka selanjutnya bandara tersebut akan dijadikan sebagai embarkasi dan debarkasi untuk jemaah umrah. Nanti akan ada jalur penerbangan Kediri – Jeddah, atau Kediri – Madinah. 

Pertanyaannya, apakah nanti Bandara Dhoho hanya akan menjadi bandara spesialis haji dan umrah? Bisa jadi iya, jika penerbangan domestik-nya okupansi penumpangnya sangat rendah. 

Sebenarnya, nasib Bandara Dhoho ini ironis. Dibangun dengan desain yang megah. Dioperasikan secara resmi April 2025, tapi pada 14 Mei 2025 sudah tidak ada lagi maskapai yang beroperasi alias tak ada lagi penerbangan.  

Untuk “menghidupkan” dan meramaikan Bandara Dhoho, kuncinya menurut saya ada dua: sinergisitas dan konektivitas. Dua hal ini saling terkait. Sinergisitas, di sini adalah sinergi antara daerah-daerah di kawasan Mataraman. Goal-nya: bagaimana agar okupansi Bandara Dhoho stabil. Dan Bandara Dhoho dijadikan sebagai pintu gerbang (gateway) bagi para turis asing maupun domestik yang akan berkunjung ke kawasan Jatim Mataraman. Yang menjadi pendorong dan penghubung untuk mengoordinasikan dan mengondisikan antara daerah itu adalah Gubernur Jawa Timur. 

Sinergisitas juga harus dijalin dengan pihak maskapai penerbangan, Kementerian Perhubungan dan Angkasa Pura. Dalam melakukan upaya untuk bersinergi, harus dilandasi semangat kebersamaan dan mengesampingkan ego sektoral. 

Sedangkan konektivitas dalam hal ini, adalah kaitannya dengan infrastruktur pendukung. Ketika sebuah daerah terdapat bandara, apalagi jika bandara itu didesain sebagai bandara internasional, maka daerah itu berpotensi untuk menjadi kawasan aerotropolis. Ini merupakan konsep perkotaan yang berpusat pada bandara. Munculnya konsep aerotropolis adalah sebagai bentuk integrasi antara transportasi udara dengan perkembangan kota di sekitarnya. Hal ini, juga dikarenakan adanya tantangan bandara yang harus mengakomodasi kawasan bisnis yang memiliki akses atau terhubung secara langsung dengan pasar ekonomi global. Di sinilah pentingnya jalan tol. Maka, jalan tol Kediri – Tulungagung sangat penting posisinya sebagai connecting antara bandara dengan kawasan-kawasan lain. 

Jadi, Bandara Dhoho mengandung dua dimensi: tantangan dan peluang. Ketika tantangannya bisa “ditaklukkan” dan “dikondisikan”, maka peluang besar akan terbuka lebar. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Mahfud
#embarkasi #bandara dhoho #debarkasi