Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Slogan MAPAN di Usia 1.146 

Kurniawan Muhammad • Senin, 28 Juli 2025 | 15:30 WIB

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Kemarin (27 Juli), adalah hari jadi ke-1.146 Kota Kediri. Tahun ini, adalah tahun pertama bagi pasangan Wali Kota Vinanda Prameswati dan Wakil Wali Kota  Qowimuddin Thoha merayakan hari jadi tersebut. Dalam lima tahun ke depan, di bawah nahkoda baru, visi-misi Kota Kediri, terangkum dalam slogan MAPAN, yang merupakan akronim dari Maju, Agamis, Produktif, Aman dan Ngangeni. 

Kita berharap, setiap kali hari jadi Kota Kediri dirayakan, bukan sekadar merayakan dengan ritual ataupun dengan berbagai kegiatan. Tapi, hari jadi Kota Kediri, dijadikan sebagai titik evaluasi untuk pelaksanaan visi-misi dari wali kota dan wakil wali kota. 

Jika diibaratkan produk, slogan MAPAN cukup “eye catching”. Dan jika dijabarkan, indikator: Maju, Agamis, Produktif, Aman dan Ngangeni yang disingkat MAPAN, merupakan tujuan ideal dari sebuah daerah. Maka, slogan MAPAN menurut saya adalah slogan yang ideal, berani, progresif dan konkret (jika berhasil dilaksanakan berbagai indikator tersebut). 

catatanBaca Juga: Sound Horeg

Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk memberikan berbagai parameter dari setiap indikator yang dirangkum dalam slogan MAPAN. 

Pertama, indikator “Maju”. Sebuah kota disebut “Kota Maju” dari aspek ekonomi, di antara parameternya adalah adanya FDI (Foreign Direct Investment) yang tinggi. Ini adalah investasi asing secara langsung. Paremeter lainnya adalah tingkat pengangguran yang rendah (di bawah 5 persen). Ini mengacu pada World Bank dalam laporan “Urban Development”, 2023). 

Dari aspek infrastruktur dan konektivitas, sebuah kota disebut “Kota Maju” di antara parameternya adalah ketersediaan transportasi umum yang efisien. Selain itu, adanya akses internet yang cepat dan merata. Minimal 90 persen populasi tercover 4G atau 5G (OECD “Infrastructure for Sustainable Cities). 

Dari aspek inovasi dan teknologi, di antara parameternya adalah mengadopsi teknologi “smart city”. Misalnya penerapan Internet of Thing (IoT) dan AI (Artificial Intelligence) untuk manajemen lalu-lintas, energi dan lain-lain. Selain itu penerapan E-Government yang efektif. Misalnya, dalam melaksanakan pelayanan publik dilakukan serba digital. 

Kedua, indikator “Agamis”. Parameter  sebuah kota disebut sebagai “Kota Agamis” jika tingkat partisipasi keagamaan masyarakatnya tinggi. Ini dapat dilihat di antaranya dari ketersediaan fasilitas ibadah yang memadai. Dalam hal ini, rasio antara tempat ibadah dengan jumlah penduduk harus ideal (Religious Commitment Index). 

Parameter lainnya adalah penerapan nilai-nilai agama dalam kebijakan publik. Hal ini dapat dilihat dari ada-tidaknya peraturan daerah (perda)  yang selaras dengan prinsip-prinsip agama. Misalnya, ada-tidaknya perda larangan judi, larangan minuman keras, dan lain-lain. 

Parameter berikutnya adalah keharmonisan antar umat beragama. Hal ini ditunjukkan dengan indeks toleransi yang tinggi. Tidak ada kekerasan atas nama agama dalam lima tahun terakhir (UNDP: “Religious Harmony and Sustainable Development”). 

Ketiga, indikator “Produktif”. Di antara parameter sebuah kota disebut sebagai “Kota Produktif”, dapat dilihat dari kualitas tenaga kerja. Dari sisi tingkat pendidikan tinggi, prosentase lulusan perguruan tinggi harus di atas 30 persen (ILO: Future of Work in Cities). Selain itu, harus ada program rutin, berkesinambungan dan terjangkau untuk pelatihan vokasi dan upskilling. 

Parameter lainnya, adanya kebijakan publik yang mendukung produktivitas. Misalnya, harus menciptakan iklim bagi kemudahan berbisnis. Dalam hal ini, proses perizinan cepat, serta pajak yang kompetitif. Selain itu, memberikan insentif untuk industri kreatif dan teknologi. 

Keempat, indikator “Aman”. Sebuah kota disebut sebagai “Kota Aman”, di antara parameternya adalah tingkat kriminalitas yang rendah. Mengacu pada ukuran yang dibuat oleh UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime), sebuah Kawasan atau kota disebut aman jika angka pembunuhan kurang dari 2 kasus per 100 ribu penduduk per tahun. Tingkat pencurian kurang dari 500 laporan per 100 ribu penduduk per tahun. Dan kekerasan jalanan kurang dari 100 kasus per 100 ribu penduduk per tahun. 

Parameter lainnya, infrastruktur keamanan yang memadai. Misalnya, adanya CCTV publik. Ukuran idealnya 1 unit CCTV per 500 penduduk. Adanya penerangan jalan. Harus 100 persen terpasang di area public. Selanjutnya adanya trotoar yang aman. Lebarnya minimal 2 meter (ISO 37120:2018, Standar Kota Cerdas; WEF, Global Security Cities Report). 

Kelima. Indikator “Ngangeni”. Kota yang “ngangeni”, adalah kota yang mengesankan (impressive). Di antara parameter “Kota yang Ngangeni atau Kota yang Mengesankan” dari aspek ikonik dan daya tarik visual harus memiliki minimal 3 landmark terkenal. Misalnya bisa dilihat dari sisi arsitektur yang unik, adanya monumen, atau pemandangan alam yang khas (UNESCO: Cultural Landmarks in Urban Planning). 

Parameter lainnya, dari aspek  pengalaman budaya dan hiburan, adanya festival tahunan yang bertaraf minimal nasional. Meliputi seni, musik, atau kuliner. (UNWTO: Cultural TourismIndex). 

Nah, itu lah penjelasan dari lima indikator yang terangkum dalam slogan MAPAN, yang menjadi goal Pemkot Kediri di bawah kepemimpinan Vinanda Prameswati dan Qowimuddin. Semoga bisa terlaksana dengan baik. Memang, tidak lah semudah membalikkan tangan. Apalagi, masih ada beberapa persoalan yang kompleks, yang merupakan “warisan” dari era sebelumnya, yang harus diselesaikan. 

Dirgahayu Kota Kediri. Semoga, menjadi kota yang semakin diperhitungkan di lingkup regional, nasional dan global. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) 

Editor : Mahfud
#hari jadi #mapan #kota kediri