Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Ganti Menteri Ganti Kurikulum

Kurniawan Muhammad • Senin, 30 Juni 2025 | 18:01 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Abdul Mu’ti sudah mengatakan, bahwa Ujian Nasional (UN), yang di era Menteri Nadiem Makarim ditiadakan, bakal diadakan lagi. Tapi bukan untuk tahun ini. Melainkan tahun depan (2026).

Bagaimana format dan skemanya? Apakah sama dengan sebelum-sebelumnya? Untuk hal ini, Prof Mu’ti belum membeberkan secara detail dan resmi.

Maka, para murid dan guru, bersiap-siaplah untuk menyambut kembali UN.

Bagaimana pula dengan nasib Kurikulum Merdeka yang juga diberlakukan di era Menteri Nadiem? Ini rupanya juga akan dirombak oleh Menteri Prof Mu’ti.

 Maka, kita termasuk negara yang kurikulum pendidikannya sering bergonta-ganti, seiring dengan pergantian menteri pendidikan.

Saya ingin memulainya dari tahun 1990. Pada akhir 1990-an, diperkenalkanlah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang menekankan pada kompetensi siswa dalam kehidupan nyata.

Lalu, pada 2006, kembali diperkenalkan kurikulum baru. Kali ini bernama: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan lokal.

 Perubahan yang paling signifikan dan sempat menjadi kontroversial terjadi pada 2013, ketika diperkenalkan Kurikulum 2013 (K13).

Kurikulum ini membawa pendekatan yang lebih holistik dengan menekankan pada pengembangan karakter, kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Kurikulum ini juga dirancang untuk mendekatkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. Meski diharapkan dapat menjawab tantangan pendidikan global, pelaksanaannya di lapangan menghadapi banyak kendala.

 Puncaknya terjadi pada 2020, ketika digulirkan perubahan kurikulum yang disebut dengan Kurikulum Merdeka.

Kurikulum ini lebih fleksibel dan memberikan kebebasan kepada sekolah untuk menentukan bahan ajar serta pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan kebutuhan lokal.

Kurikulum Merdeka juga berfokus pada pengembangan kompetensi dasar, keterampilan abad 21, dan karakter siswa yang lebih humanis. 

Di era ini, UN juga dihapus dan digantikan dengan Asesmen Nasional. Ini tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan.

Melainkan untuk mengukur kualitas pendidikan melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

Nah, Kurikulum Merdeka ini pun akan dirombak oleh Prof Mu’ti. Dalam sebuah kesempatan, dia pernah memberikan gambaran, kurikulum yang akan diberlakukan nanti berfokus pada pembelajaran yang mindful, lebih mendalam (deep learning), bermakna (meaningful learning), dan menyenangkan bagi siswa (joyful learning). Menurut rencana, kurikulum ini akan mulai diberlakukan tahun ini (2025).

Saya membayangkan, bagaimana bingungnya bapak dan ibu guru kita dalam menghadapi kurikulum yang berubah-ubah seiring dengan pergantian menteri. Kurikulum pendidikan itu, ibaratnya adalah sebuah investasi pendidikan.

Hasil dari penerapan kurikulum baru bisa dirasakan dan dinilai hasilnya  beberapa tahun kemudian. Nah, ketika kurikulum diubah-ubah, maka hasil dari satu kurikulum belum bisa dilihat dan dinilai, sudah diganti dengan kurikulum yang lain.

Jika kondisi seperti ini terus terjadi, maka, sulit rasanya membangun pondasi dan membuat pola pendidikan yang kokoh, terarah, berkelanjutan dan berkesinambungan. Pendidikan itu ibaratnya sama dengan menanam. Hasilnya tidak bisa dirasakan langsung.

Tapi baru akan dipanen paling cepat dalam 10 tahun ke depan. Karena pendidikan itu sama dengan menanam, maka agar tanamannya dapat tumbuh maksimal, maka yang ditanam harus lah pohon yang sama.

Jangan gonta-ganti pohon. Gonta-ganti kurikulum itu ibaratnya sama dengan gonta-ganti pohon.

Coba kita lihat China. Reformasi sistem pendidikan di China dimulai pada awal 1980-an, sebagai bagian dari kebijakan modernisasi ekonomi di bawah Deng Xiaoping.

Saat itu, pemerintah mulai mengalihkan fokus pendidikan untuk mendukung pengembangan sains dan teknologi.

Kurikulum pun disusun, dibuat dan diterapkan untuk tujuan tersebut. Sejak saat itu hingga saat ini, kurikulumnya pun konsisten.

China saat ini memanen hasilnya. China menjadi salah satu negara adi daya dengan kekuatan SDM-nya  yang bertumpu pada sains dan teknologi, hasil dari kurikulum yang diterapkan sejak 1980-an secara konsisten.

Semoga tulisan ini menjadi perenungan kita bersama. Kita memimpikan, sebuah road map besar pondasi dan pola pendidikan di Indonesia.

Disusun bersama. Dipikirkan bersama. Dan disepakati bersama, dalam sebuah komitmen, agar road map itu dilaksanakan oleh siapa pun presidennya dan siapa pun menteri pendidikannya.

Tanpa harus digonta-ganti lagi. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#catatan awal pekan radar kediri #catatan awal pekan