Apa daya tarik Kediri, sehingga masyarakat dari luar Kediri mau datang ke Kediri? Jawabannya: Pesantren.
Iya, memang keberadaan Pesantren di Kediri, bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat dari luar Kediri untuk datang ke Kediri. Setidaknya ada dua pesantren besar: Lirboyo dan Ploso.
Adakah daya tarik lainnya selain keberadaan pesantren? Jika pertanyaannya dikembangkan, adakah daya tarik wisata di Kediri yang membuat masyarakat dari luar Kediri datang ke Kediri?
Jujur, saya kesulitan menjawabnya. Bagaimana dengan Anda masyarakat Kediri? Apakah obyek wisata alam berupa lanskap Gunung Kelud cukup kuat menjadi daya tarik wisata, sehingga menarik minat wisatawan dari luar Kediri?
Sementara sejauh ini, objek wisata alam yang (sebetulnya) bisa dijual, menurut saya hanyalah lanskap Gunung Kelud.
Di sana ada view Gunung Kelud, di bawahnya terdapat danau, yang dari jauh berwarna biru kehijau-hijauan.
Sayangnya, obyek wisata Gunung Kelud masih begitu-begitu saja. Tak banyak atraksi yang ditawarkan di sana, selain melihat pemandangan gunung dan danau.
Makanya, Kediri butuh ada event yang rutin dilaksanakan (tiap tahun), yang konsepnya kuat, yang dilaksanakan di tempat yang ikonik.
Makanya, kami menggagas event “Festival Kediri Kuno-Kini” yang konsepnya kuat, dan dilaksanakan di ikon Kabupaten Kediri, area Monumen Simpang Lima Gumul.
Tahun ini dilaksanakan selama 10 hari, mulai 23 Mei – 1 Juni 2025. Harapannya, event tersebut akan menjadi daya tarik bagi masyarakat dari luar Kediri untuk datang ke Kediri.
Sudah dua kali ini, “Festival Kediri Kuno-Kini 2025” dilaksanakan. Konsep secara garis besar dari event ini adalah, ingin membuat satu areal yang menjadi tempat hiburan dan rekreasi, dengan menggunakan dua pendekatan: masa lalu (kuno) dan masa kini.
Jadi, di tempat itu, disediakan berbagai macam hiburan dari masa lalu dan masa kini. Juga disediakan berbagai makanan, permainan, dan kerajinan tangan, dari masa lalu dan masa kini.
Mengapa sebuah daerah membutuhkan event tahunan yang berdampak? Setidaknya ada empat alasannya:
Pertama, untuk meningkatkan perekonomian daerah. Sebuah event yang diadakan di daerah, dan event itu ramai didatangi pengunjung, maka akan membuat pengunjung membelanjakan uangnya.
Baik untuk akomodasi (hotel dan penginapan), untuk belanja, transportasi, kuliner maupun untuk membeli oleh-oleh.
Selain itu, dengan adanya event yang dilaksanakan secara rutin, maka akan membuat UMKM berkembang. Dan juga bisa menjadi ajang untuk mempromosikan produk lokal, seperti kerajinan tangan dan makanan khas.
Kedua, memperkenalkan budaya dan identitas daerah. Event tahunan bisa dijadikan sebagai sarana untuk mem-branding daerah.
Ketiga, event tahunan bisa menjadi stimulus untuk meningkatkan infrastruktur dan fasilitas. Ketika sebuah event secara rutin digelar dan mampu membawa dampak bagi pelibatan masyarakat secara massal, mendatangkan wisatawan dari luar, maka ini akan mendorong daerah untuk melakukan pembenahan.
Misalnya melakukan perbaikan jalan, bandara, dan akomodasi lainnya untuk menunjang event.
Keempat, pelaksanaan event di sebuah daerah yang dilakukan secara rutin, dan event itu ternyata berkembang menjadi sebuah kegiatan yang berdampak secara lebih luas, maka ini akan bisa menarik perhatian investor, sponsor dan media. Bisa jadi, akan ada banyak pembangunan hotel.
Jadi, betapa pentingnya sebuah event digelar di sebuah daerah, apalagi jika event tersebut jelas-jelas berdampak.
Makanya, saya harus mengapresiasi Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana (Mas Dhito) yang mendukung penuh event “Festival Kediri Kuno-Kini”, di tengah kondisi yang “berbeda” dibandingkan tahun lalu.
Kondisi yang “berbeda” tahun ini yang saya maksud adalah adanya instruksi presiden kepada setiap daerah untuk melakukan efisiensi anggaran mulai tahun ini.
Satu sisi, Mas Dhito memang harus melakukan efisiensi. Tapi pada sisi lainnya, Mas Dhito bisa jadi sangat menyadari, bahwa event “Festival Kediri Kuno-Kini” harus dilaksanakan, mengingat kebermanfaatannya.
Baca Juga: PKL SLG dan Kebijakan Publik
Terutama dirasakan betul manfaatnya oleh para pelaku UMKM. Event tersebut, adalah ajang “panen” bagi mereka.
Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mendukung event “Festival Kediri Kuno-Kini”. Semoga tulisan ini dibaca oleh satu-dua oknum pejabat di Pemkab Kediri yang sebetulnya secara tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sangat terkait dengan UMKM, tapi terkesan kurang mendukung event tersebut. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira