Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Roy Suryo dan Ijazah Jokowi

Kurniawan Muhammad • Senin, 19 Mei 2025 | 08:35 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Di jagad media sosial (medsos) hingga kini, masih bersliweran video, berita atau pun narasi yang menyoal tentang ijazahnya mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Salah satu aktor utama yang begitu getolnya mempersoalkan keaslian ijazah S1-nya Jokowi dari UGM (Universitas Gadjah Mada) adalah Roy Suryo. Wajahnya tak hanya sering muncul di medsos. Tapi juga kerap diundang di acara diskusi atau talk show di televisi.

Intinya, Roy Suryo menganggap ada yang janggal dengan ijazah S1-nya Jokowi. Dia menyebut terang-terangan bahwa ijazahnya Jokowi palsu. Bahkan, dia juga mencurigai skripsinya Jokowi.

Padahal, pihak UGM secara resmi sudah memberikan pernyataan bahwa ijazah S1 Jokowi otentik alias asli. Dan yang memberikan pernyataan tak tanggung-tanggung, dari jajaran rektorat UGM.

Padahal, semua ijazah Jokowi sudah diverifikasi oleh KPU maupun KPU DKI Jakarta dan KPU Kota Solo, waktu dia mencalonkan diri menjadi wali kota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden hingga dua periode.

Tapi, anehnya, mengapa Roy Suryo Cs masih terus getol menyoal keaslian ijazah S1-nya Jokowi? 

Berarti Roy Suryo tidak percaya dengan lembaga-lembaga yang kredibel, seperti UGM dan KPU. Jika lembaga-lembaga kredibel seperti UGM dan KPU tidak dipercaya, lantas kepada siapa lagi dia bisa percaya?

Saya termasuk orang yang heran, sekaligus sangat menyayangkan  dengan manuvernya Roy Suryo.

Dia pernah menjadi orang penting di negeri ini. Pernah menjadi anggota DPR yang terhormat.

Pernah juga menjadi menteri. Tapi, mengapa yang dia lakukan saat ini bukanlah hal yang penting? Bukanlah yang bermanfaat? Dia seperti mempersoalkan isu sampah dan kedaluwarsa. Jadi tidak ada pentingnya sama sekali.

Mungkin Anda masih ingat dengan Eisenhower Matrix. Dimana menurut matrix tersebut, terdapat empat kuadran yang bisa dijadikan sebagai panduan untuk menentukan prioritas terhadap apa yang dilakukan.

Juga untuk mengukur, seberapa bermanfaat dan seberapa penting aktivitas kita bagi orang lain.  

Searah jarum jam, keempat kuadran itu adalah: kuadran pertama, “penting” dan “mendesak”.

Artinya, yang kita lakukan adalah hal-hal yang “penting”, yaitu jelas kebermanfaatannya  dan “mendesak” untuk dilakukan.

Kuadran kedua, “penting” dan “tidak mendesak”. Yang kita lakukan adalah hal-hal yang “penting” yang jelas kebermanfaatannya, tapi “tidak mendesak”.

Sehingga masih bisa ditunda untuk dilakukan di waktu yang lain. Kuadran ketiga, “tidak penting” dan “mendesak”.

Yang kita lakukan adalah hal-hal yang “tidak penting”, yang tidak jelas kebermanfaatannya, tapi seakan dibuat mendesak untuk dilakukan.

Kuadran keempat, “tidak penting” dan “tidak mendesak”. Yang dilakukan adalah hal-hal yang “tidak penting” dan “tidak mendesak”.

Nah, yang dilakukan Roy Suryo Cs berada di kuadran ketiga dan keempat. Mempersoalkan keaslian ijazah Jokowi adalah sesuatu yang “tidak penting”, yang tidak ada kebermanfaatannya, tapi dibikin seakan-akan “mendesak” untuk dilakukan.

Dan, yang dilakukan Roy adalah kegiatan yang “tidak penting” dan “tidak mendesak”. Ini sama halnya dengan melakukan hal-hal yang bersifat sampah.

Untungnya, masyarakat kita mayoritas sudah faham siapa Roy Suryo. Manuver Roy Cs hanya ramai di medsos dan televisi.

Tapi, nyaris tidak berdampak di masyarakat. Bahkan, saat ini dia harus bersiap-siap berurusan dengan hukum.

Ini setelah Jokowi memutuskan untuk melaporkan pihak-pihak yang membuat narasi fitnah terhadap dirinya terkait tuduhan ijazah palsu. Dan kemungkinan besar, yang dilaporkan Jokowi, salah satunya adalah Roy Suryo.

Dari kasus manuver Roy Suryo ini, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa menjadi orang yang “wise” atau bijak itu tidaklah gampang.

Menurut Jeste dan Lee, wise adalah kemampuan untuk membuat penilaian dan keputusan yang tepat, dalam situasi kompleks dan tidak pasti, dengan memadukan pengetahuan, pengalaman, empati, dan komitmen pada kebaikan bersama.

Wise bukan sekadar kecerdasan (IQ) atau pengetahuan. Tetapi kemampuan menerapkan pengetahuan secara bijak untuk kesejahteraan diri dan masyarakat.

Kita tahu, Roy Suryo adalah seorang intelektual. Dia cerdas. Berpengetahuan. Tapi, dalam kasus ini, apakah Roy Suryo sudah menerapkan pengetahuannya secara bijak untuk kesejahteraan diri dan masyarakat?

Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#ijazah jokowi #roy suryo