Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Situs Tirta Kamandanu

Kurniawan Muhammad • Senin, 12 Mei 2025 | 09:25 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Tempat ini sebetulnya punya sisi sejarah yang kuat dan juga punya daya tarik spiritual. Tapi, ketika saya berkunjung ke sana beberapa minggu lalu, tempat itu terkesan kurang terawat dengan baik.

Tempat tersebut adalah Patirtan atau Sendang Tirta Kamandanu yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Sendang itu terkait dengan kisah Raja Kediri yang sangat terkenal dengan ramalannya: Prabu Sri Aji Jayabaya.

Menurut para pihak yang menjadi nara sumber sejarah dan yang sudah dikonfirmasi melalui beberapa penelitian, Sendang Tirta Kamandanu, di masa pemerintahan Raja Jayabaya, digunakan sebagai tempat bermain putra-putri raja.

Di tempat itulah, Raja Jayabaya sering mandi dan bersuci. Bahkan, diceritakan, sebelum Raja Jayabaya mengalami moksa (dalam agama Hindu artinya membebaskan dirinya dari keterikatan dunia, dalam terjemahan bebasnya moksa berarti menghilang), sempat mandi terlebih dahulu di Tirta Kamandanu.

Makanya, lokasi patirtan itu dengan lokasi yang diyakini sebagai tempat moksanya Raja Jayabaya tidak jauh, sekitar 300-an meter.

Jadi, dari sisi sejarah, keberadaan Sendang Tirta Kamandanu cukup kuat karena dapat dikaitkan dengan kisah Raja Jayabaya.

Sayangnya, di Kediri Raya, kisah tentang Raja Jayabaya kurang terdokumentasi dengan baik. Belum ada satu tempat khusus semacam museum yang bisa mendokumentasikan kisah, sejarah, dan legacy dari Raja Jayabaya selama memerintah Kerajaan Kediri pada abad ke-12.

Makanya, Pemkab Kediri yang mempunyai slogan “Kediri Berbudaya”, merasa perlu untuk membangun Museum Jayabaya, yang saat ini sedang dalam proses pembangunan dan penyelesaian.

Akan lebih baik, jika konsep museum itu nanti disesuaikan dengan kekinian, agar menjadi tempat yang menarik bagi generasi masa kini (milenial dan generasi Z).

Misalnya, dilengkapi dengan film animasi tentang sejarah, kisah dan legacy dari Raja Jayabaya. Sebetulnya tergolong terlambat, baru membangun Museum Jayabaya sekarang. Tapi, lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali.

Dari sisi aspek spiritual, sumber air yang terdapat di Sendang Tirta Kamandanu diyakini punya beberapa khasiat. 

Di antaranya, jika diminum, diyakini bisa menjadi perantara untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu, air yang berasal dari sumber sendang itu sering digunakan untuk ritual mandi, berharap mendapatkan keberkahan.

Ketika mengunjungi tempat itu, saya sempat ngobrol dengan seorang pria yang mengaku sebagai anak dari juru kunci patirtan. Dia menceritakan, beberapa pejabat, baik dari kalangan pemerintahan, kepolisian maupun militer, ada yang pernah mengunjungi Sendang Tirta Kamandanu.

Bahkan, ada yang datang secara rutin pada saat-saat tertentu. “Biasanya kalau ada (pejabat) yang mau ke sini, kolamnya dikuras  dan dibersihkan lebih dulu. Mereka ritual mandi di sini. Kalau datang sering pada malam hari,” katanya.

Ketika saya berkunjung ke Sendang Tirta Kamandanu, suasana kolamnya kotor. Berlumut. Kemudian di beberapa spot yang ada di sana, juga terkesan kurang  terawat.

Sebenarnya, pemandangan ini agak memprihatinkan, apalagi dikaitkan dengan slogan Kabupaten Kediri saat ini, “Kediri Berbudaya”.

Dengan nilai sejarah dan spiritual yang dimiliki, seharusnya  Sendang Tirta Kamandanu bisa lebih dipermak lagi menjadi destinasi wisata yang lebih menarik dan berkesan.

Melalui tulisan ini, saya memberikan beberapa usulan:

Pertama, perlu dibentuk tim kurasi, yang tugasnya adalah mendata, menginventarisasi, dan juga memetakan berbagai tempat atau situs sejarah yang memiliki nilai historis dan spiritual. Misalnya, ada situs Candi Surowono di Desa Canggu, Kecamatan Pare; Pemandian Jolotundo di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen; dan situs Totok Kerot di Desa Jugo, Kecamatan Mojo. Serta masih ada situs-situs bersejarah lainnya. 

Selain itu juga dibentuk tim pengembangan, yang bertugas menyusun dan membuat skenario atau roadmap pengembangan berbagai situs sejarah tadi untuk bisa dikembangkan agar menjadi destinasi “eduhistoriawisata” (wisata pendidikan dan sejarah) yang menarik dan berkesan.

Kedua, penguatan narasi dan story telling. Ini sering menjadi kelemahan kita. Di luar negeri, di tempat-tempat yang menjadi situs bersejarah, seringkali kita terpaku dan terkesan dengan kisah yang dibangun, yang diceritakan oleh para pemandu wisata.

Mereka mampu membangun narasi sejarah yang runtut, jelas, dan mampu membangkitkan sisi emosional dari pendengar.

Maka, dalam hal ini, perlu dibikin narasi dan story telling untuk tempat-tempat bersejarah yang memiliki nilai sejarah dan nilai spiritual.

Selanjutnya, juga perlu dipilih pemandu wisata yang berkualitas. Yang punya kemampuan bercerita secara jelas, runtut, disertai dengan artikulasi yang baik agar dalam menyampaikan cerita, menarik bagi yang mendengarnya.

Ketiga, merancang event atau kegiatan yang dikaitkan dengan aktivitas budaya di tempat-tempat yang bersejarah itu. Misalnya, bikin workshop budaya, diskusi budaya, atau festival budaya. Dan ini dibikin rutin.

Keempat, pengembangan infrastruktur dan fasilitas pendukung. Di tempat-tempat bersejarah yang dijadikan destinasi eduhistoriawisata tadi, harus dipermudah aksesibilitasnya.

Misalnya adanya shuttle bus, jalur pedestrian yang nyaman, serta area parkir yang memadai. Kemudian juga ditata zonasinya. Dibagi area sakral, area komersial (untuk oleh-oleh dan kuliner) dan area interaktif.

Akan lebih bagus juga ada fasilitas modern dengan sentuhan tradisional. Dilengkapi dengan toilet yang bersih, rest area, WiFi, dengan sentuhan arsitektur yang selaras dengan nilai sejarah dan spiritual dari tempat tersebut.

Kelima, melakukan strategi marketing yang kreatif melalui platform digital. Misalnya dengan membuat konten yang berpotensi viral, memanfaatkan media sosial dengan konten misteri, keindahan tersembunyi maupun pengalaman spiritual.

Juga berkolaborasi dengan influencer. Dan membuat paket wisata khusus. Misalnya: “Retret Spiritual 3 Hari”, atau “Tour Arkeologi dengan Ahli”. Dan bisa bikin program atau kegiatan yang lain.

Apa yang saya usulkan melalui tulisan ini, sesungguhnya ingin memperkuat slogan Kabupaten Kediri, yakni “Kediri Berbudaya”.

Sejarah adalah bagian dari budaya. Melestarikan dan mengembangkan situs bersejarah, berarti sama halnya dengan melestarikan dan mengembangkan budaya.

Jangan sampai terjadi, ketika slogan “Kediri Berbudaya” digaungkan, lalu ada yang nyeletuk, “Berbudaya apanya? Apanya yang berbudaya?”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#catatan awal pekan radar kediri #catatan awal pekan