Koran ini selama Bulan Ramadan menyajikan edisi khusus, menampilkan putra dan putri para kiai dari sejumlah pondok pesantren di Kediri.
Mereka, para Gus dan Ning tetap melanjutkan perjuangan orang tuanya untuk berdakwah.
Salah satunya yang saat ini cukup populer adalah Muhammad Abdurrahman Al Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar.
Setiap kali saya membuka TikTok, sering isi pengajiannya Gus Kautsar mampir di beranda FYP saya.
Materi yang disampaikan berbobot, tapi disampaikan dalam bahasa yang sangat renyah dan sangat bisa dipahami oleh masyarakat awam.
Tak jarang, penyampaiannya disertai dengan guyonan. Tentu, cara penyampaian materi pengajian seperti ini sangat disukai oleh anak-anak muda.
Dan ini terlihat dari jemaah pengajiannya Gus Kautsar yang dilaksanakan di pondoknya, yakni di Pondok Pesantren Al Falah, Mojo, Kabupaten Kediri
Sejauh ini, saya menikmati materi dakwahnya dari media sosial. Materi dakwah yang dia sampaikan sebetulnya tak berbeda dengan para pendakwah lainnya.
Tapi, yang menarik dari penyampaian Gus Kautsar adalah dari sisi “peng-angle-annya” yang berbeda.
Dia mampu melihat sisi-sisi (angle) menarik dari materi yang disampaikan. Misalnya, ketika dalam sebuah video pengajiannya, Gus Kautsar menyampaikan sebuah hadits tentang empat golongan orang yang tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT di bulan Ramadan.
Keempat golongan itu adalah: Pertama, orang yang suka mabuk-mabukan dengan minuman keras. Kedua, anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Ketiga, orang yang memutus tali persaudaraan. Keempat, orang yang tidak mau memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.
Bisa jadi, kita sering mendengar materi dakwah seperti yang disampaikan Gus Kautsar tersebut. Tapi, ketika materi itu disampaikan oleh Gus Kautsar, tetap saja menarik untuk disimak.
Itu karena dia mampu mengupas materi tersebut dengan peng-angle-an yang lebih menarik, disertai dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan penyampaiannya sangat komunikatif.
Gus Kautsar adalah contoh “next generation” dari figur kiai yang bertransformasi dengan platform kekinian. Pesantren asal Gus Kautsar selama ini dikenal sebagai pesantren salaf.
Dimana di dalam pengajiannya sehari-hari memiliki basis pengajian kitab-kitab salaf. Gus Kautsar sendiri dari sisi latar belakang pendidikannya, tidak pernah memiliki latar belakang pendidikan formal.
Tapi, dalam berdakwah, Gus Kautsar mampu mengikuti dan mengimbangi cara berdakwah dengan menggunakan platform kekinian. Salah satunya melalui media sosial.
Tak jarang, konten-konten pengajiannya Gus Kautsar viral dan FYP di beranda TikTok. Apalagi, salah satu muridnya, yakni Gus Iqdam (Muhammad Iqdam Kholid) saat ini menjadi figur yang dikenal luas, melalui pengajiannya “Sabilul Taubah” di Blitar.
Kesan “salaf” yang ketat, kaku dan konvensional, seakan menjadi tidak berlaku lagi ketika mendengarkan dakwah-dakwahnya Gus Kautsar.
Sebab, tak jarang materi dakwah Gus Kautsar mampu membahas berbagai persoalan atau isu kekinian yang sedang menjadi perbincangan luas dengan cara yang “segar” dan “cair”. Jauh dari kesan kaku.
Gus Kautsar juga sering diundang di berbagai acara dan kegiatan. Selama ramadan ini bahkan dia menjadi pengisi tetap sebuah acara dakwah di salah satu stasiun televisi di Jakarta.
Ketika baru-baru ini Gus Kautsar menikahkah putrinya, yang datang ke acara tersebut selain para kiai dan pejabat, juga para artis.
Denny Cak Nan juga hadir, dan sempat membawakan beberapa lagu di acara tersebut. Bahkan, sempat bersliweran video di TikTok, Gus Kautsar ikut sedikit berjoget di acara tersebut.
Gus Kautsar adalah sosok Gus milenial. Saya suka dengan cara dan pendekatan yang dilakukannya dalam berdakwah.
Sebab, dengan cara ini, dakwah bisa masuk ke semua lini, ke semua segmen, dan ke semua lingkungan. Khususnya ke segmen anak muda.
Ini bisa digunakan untuk membentengi anak-anak muda kita agar tak mudah terpapar dan terpengaruh faham radikalisme yang belakangan ini banyak disebar-luaskan melalui media sosial.
Sehat-sehat selalu Gus. Teruslah mewarnai dan menginspirasi. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira