Sedang ramai diperbincangkan, soal wacana sekolah diliburkan sebulan penuh selama Ramadan. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti pada sebuah kesempatan memberikan tiga opsi terkait wacana libur sekolah saat Ramadan.
Opsi pertama, sekolah diliburkan satu bulan selama Ramadan, dan siswa mengikuti kegiatan keagamaan di masyarakat. Kedua, sekolah diliburkan beberapa hari saja, di awal dan di akhir Ramadan. Ketiga, selama Ramadan, sekolah tidak libur.
Hingga tulisan ini dibuat, belum ada regulasi atau ketentuan yang secara resmi dikeluarkan oleh Kemendikdasmen terkait wacana libur sekolah saat Ramadan.
Libur sebulan penuh selama Ramadan pernah diterapkan di masa pemerintahan Kolonial Belanda.
Disebutkan di website museumkepresidenan.id, bahwa ketika masa Kolonial Belanda libur sekolah diterapkan selama sebulan penuh saat Ramadan pada sekolah binaan Belanda dari tingkat dasar atau Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan tingkat menengah atau Algemeene Middelbare School (AMS).
Kebijakan libur sekolah sebulan selama Ramadan masih dilanjutkan hingga masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Pemerintah juga menjadwalkan ulang serta memberhentikan kegiatan-kegiatan resmi dan tidak resmi untuk periode waktu tertentu. Hal ini bertujuan agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.
Di masa pemerintahan Presiden Soeharto, kebijakan libur sebulan selama Ramadan dihentikan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Daoed Jusuf berpendapat bahwa pelaksanaan libur sekolah sebulan selama Ramadan merupakan kebijakan pembodohan yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda.
Libur sekolah sebulan penuh selama Ramadan kembali diberlakukan di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Penetapan kebijakan tersebut diterapkan pada Ramadan 1999.
Selain meliburkan sekolah selama Ramadan, Gus Dur mengimbau sekolah-sekolah membuat kegiatan pesantren kilat. Tujuannya, agar para siswa dapat lebih fokus untuk belajar agama Islam.
Pada momen tersebut, setiap sekolah diminta untuk mengawasi siswa-siswanya, dan memerintahkan kepada para siswanya untuk melaporkan kegiatan ibadah selama Ramadan, seperti tadarus Alquran hingga tarawih.
Saya termasuk yang kurang setuju jika selama Ramadan sekolah diliburkan sebulan penuh.
Setidaknya ada tiga alasannya: Pertama, libur total selama Ramadan dapat mengganggu jadwal belajar dan bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Kedua, libur sekolah sebulan penuh dapat memperlambat pencapaian tujuan akademik dan dapat mempengaruhi prestasi siswa. Ketiga, libur sekolah yang terlalu lama dapat mempengaruhi mood dalam belajar.
Saya lebih setuju jika selama Ramadan, pola pembelajarannya yang diubah. Misalnya, jadwalnya dibikin fleksibel, disesuaikan dengan waktu berbuka puasa dan Salat Tarawih.
Bisa juga durasi pembelajarannya dibikin lebih singkat. Ini untuk mengurangi kelelahan. Lalu, aktivitas belajar-mengajar lebih difokuskan pada kegiatan akademik ringan, seperti diskusi, presentasi, dan pemberian tugas berkelompok. Praktik-praktik ini sebetulnya sudah dilakukan kebanyakan sekolah-sekolah selama Ramadan.
Momentum Ramadan, menurut saya, harus benar-benar dimanfaatkan sekolah untuk membangun dan meningkatkan aspek spiritualitas murid-muridnya dalam belajar.
Aspek spiritualitas ini sangatlah penting ditanamkan kepada murid-murid di sekolah.
Kata Dr Howard Gardner, psikolog dari Amerika Serikat yang terkenal dengan teorinya tentang “multiple intelligences”, spiritualitas itu adalah bagian dari kecerdasan emosional.
Ada empat pokok utama yang membangun kecerdasan emosional menurut Gardner: mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri; memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain; mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional; dan dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik, kata Gardner, lebih mudah dipercaya, bisa beradaptasi dengan baik, bisa bergaul dan bekerjasama dalam tim, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta memiliki motivasi yang tinggi.
Mengapa ini semua sangat cocok dilatih dan ditanamkan pada anak-anak pada momentum Ramadan? Karena inti dari kecerdasan emosional adalah pengendalian hawa nafsu. Dan puasa, adalah media paling tepat untuk melatih mengendalikan hawa nafsu. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah