Akhir tahun lalu saya ke Tulungagung, dua hari. Hari pertama, khusus mengunjungi kawasan pantai yang ada di sepanjang JLS (Jalur Lintas Selatan) Tulungagung. Dan hari kedua, khusus melihat suasana malam hari, terutama di kafe-kafe yang ada di kota marmer tersebut.
Di sepanjang JLS Tulungagung, setidaknya ada tujuh pantai yang bisa dikunjungi. Yakni Pantai Midodaren, Pantai Gemah, Pantai Bayeman, Pantai Klatak, Pantai Mutiara, Pantai Pasir Putih Karanggongso, dan Pantai Prigi.
Kebanyakan pantai-pantai tersebut masuk wilayah Trenggalek. Catatan saya ketika mengunjungi pantai-pantai tersebut, antara pantai yang satu dengan lainnya “so-so”.
Artinya, tidak ada “sesuatu yang berkesan” yang membedakan, antara pantai yang satu dengan lainnya. Yang membedakan hanyalah lokasinya saja.
Dari sisi lanskap pemandangan, keberadaan pantai-pantai tersebut sebenarnya cukup indah, terutama jika dilihat dari jalanan jalur JLS.
Tapi, begitu sudah masuk ke pantai-nya, kesan “biasa saja” langsung bisa dirasakan. Artinya, tidak ada “something special”-nya.
Maka, menurut saya, perlu dipikirkan secara komprehensif agar keberadaan pantai-pantai yang ada di sepanjang JLS itu punya “sesuatu” yang berbeda antara pantai satu dengan lainnya, untuk ditawarkan kepada para wisatawan.
Misalnya, “sesuatu” yang berbeda itu ada pantai yang punya keunggulan dari sisi warna pasirnya. Atau, ada pantai yang bisa digunakan untuk surfing.
Atau, ada pantai yang sangat aman untuk berenang. Dilengkapi dengan berbagai wahana permainan air, jetski, dan bananaboat. Atau, ada pantai yang bagus untuk snorkeling (menyaksikan pemandangan bawah laut).
Ini sekadar contoh bagaimana bikin “sesuatu” yang beda di pantai-pantai. Tinggal dipelajari, diteliti dan diinventarisir setiap pantai yang ada di sepanjang JLS itu. Apa saja yang menjadi kelebihan dari masing-masing pantai tersebut.
Sebagai sebuah tempat wisata, yang juga masih kurang di kawasan pantai-pantai di sepanjang JLS adalah dari sisi amenitasnya.
Ini adalah semua bentuk fasilitas yang memberikan layanan kepada para wisatawan untuk memenuhi semua kebutuhan mereka selama berada di destinasi wisata.
Misalnya, mulai dari tempat penginapan, hotel, resort, kuliner, rest area, hingga tempat ibadah. Ini semua masih sangat kurang tersedia di kawasan tersebut.
Selain adanya kawasan pantai di sepanjang JLS, di Tulungagung juga cukup banyak kafe yang berkonsep unik.
Sejumlah media online nasional bahkan sudah menurunkan ulasan sekaligus review tentang keberadaan kafe-kafe berkonsep unik yang ada di Tulungagung tersebut.
Saya pun membandingkan antara Kediri dan Tulungagung. Jika dilihat dari dua hal tersebut, yakni dari sisi potensi objek wisata pantai dan keberadaan kafe, menurut saya, Kediri kalah sama Tulungagung.
Jika Kediri masih “begini-begini saja”, dan nantinya jalur tol Kediri-Tulungagung selesai dibangun dan dioperasikan, maka para wisatawan yang tiba di Bandara Dhoho Kediri, akan lebih tertarik ke Tulungagung ketimbang di Kediri. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah