Puluhan pengusaha katering di Mojoroto Kota Kediri mengaku telah menjadi korban penipuan penawaran tender untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mereka mengaku telah menyetorkan uang jaminan masing-masing antara Rp 1 juta hingga Rp 3 juta, sebagai tanda keikutsertaan dalam program MBG tersebut.
Di Kecamatan Mojoroto saja ada 43 orang yang menjadi korban penipuan.
Dalam kasus ini, pihak yang menawarkan program MBG mengatasnamakan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Manunggal Cipto Roso Kuliner.
Selain itu juga mencatut nama Kodim 0809/Kediri, yang kemudian langsung dibantah oleh Komandan Kodim (Dandim) 0809 Kediri Letkol Inf Ragil Jaka Utama (baca: Radar Kediri, 27/12/2024)
Membaca berita ini, satu sisi membuat saya prihatin. Karena program nasional yang baik itu belum resmi dilaksanakan, tapi sudah ada oknum yang beritikad tidak baik.
Dan sudah ada korbannya. Benar-benar kebangeten.
Pada sisi lain, kasus ini bisa dijadikan sebagai pelajaran agar dalam pelaksanaannya, Program MBG betul-betul dikawal agar tidak “dimain-mainkan” oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Sebab, program ini memang sangat rawan untuk “dimainkan” dan dimanipulasi atau dikorupsi. Karena ini termasuk ke dalam program kolosal.
Hashim Djojohadikusumo, anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, pernah memperkirakan, Program MBG menghabiskan anggaran Rp 450 triliun per tahun untuk sekitar 82 juta anak-anak, termasuk yang masih belum sekolah.
Jika betul perkiraan Hashim ini, maka jumlah tersebut tergolong besar untuk postur APBN kita.
Baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto menetapkan anggaran untuk Program MBG Rp 10 ribu per porsi. Nilai ini diturunkan dari semula Rp 15.000 per porsi.
Baca Juga: Hanindhito Himawan Pramana, 2025-2030
Saya sempat menanyakan soal anggaran Rp 10 ribu per porsi kepada sejumlah kawan yang punya usaha katering: “Apakah anggaran Rp 10 ribu per porsi, cukup untuk memenuhi syarat bergizi?,” Kebanyakan kawan-kawan saya menjawab pertanyaan itu sambil tersenyum.
“Kalau hanya sekadar bergizi, lauk tahu dan tempe juga ada gizinya. Tinggal gizi seperti apa yang diinginkan,” ini kata salah seorang kawan saya yang pengusaha katering. Kawan lainnya malah berkomentar begini, “Kalau nggak dikorupsi Rp 10 ribu. Tapi kalau dikorupsi, bisa-bisa per porsi hanya dapat Rp 7.500. Kalau Rp 7.500 per porsi, dapat gizinya dari mana?”
Kekhawatiran kawan saya itu, cukup beralasan. Di negeri ini, sudah banyak contoh kasus penyaluran program-program atau bantuan sosial yang dikorupsi.
Dulu, antara 2011-2012, pernah ada kasus korupsi pengadaan Alquran yang nilainya puluhan miliar rupiah.
Alquran yang seharusnya disalurkan, nilainya dikorupsi. Pada saat penanganan Covid-19 pada 2020, juga ada kasus korupsi penyaluran bansos beras dengan kerugian negara mencapai ratusan miliar rupiah.
Kasus ini diawali dengan adanya operasi tangkap tangan (OTT) beberapa oknum pegawai di Kementerian Sosial.
Maka, jika program MBG ini tidak diatur dan dikawal dengan baik, maka akan bisa berpotensi untuk “dimainkan”, dimanipulasi dan dikorupsi.
Saya sempat menghitung. Jika anggaran per porsi untuk program MBG ini Rp 10.000, dengan asumsi untuk 82 juta anak se-Indonesia, sehari sekali makan, dan untuk lima hari (Senin-Jumat), maka dalam setahun menyedot anggaran Rp 196,8 triliun.
Program MBG ini sekaligus menjadi program pertaruhan bagi Prabowo. Jika program ini sukses dan hasilnya bisa dirasakan, maka ini akan menjadi modal politis yang cukup signifikan bagi Prabowo.
Tapi, sebaliknya, jika program tersebut dalam pelaksanaannya banyak masalah, maka akan menjadi boomerang bagi Prabowo, dan akan menjadi ganjalan bagi langkah politiknya berikutnya.
Semoga, program MBG berjalan lancar, sukses, dan tidak ada korupsi. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah