Gus Lik

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Senin, 7 Oktober 2024 | 17:42 WIB

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

JP Radar Kediri-Jika ada hal yang harus saya sesali, salah satunya adalah belum sempatnya saya sowan ke Gus Lik, atau KH Douglas Toha Yahya, yang wafat pada 21 September lalu. Saya benar-benar menyesal. Salah seorang manajer saya di kantor sebenarnya pernah mengajak saya untuk ikut pengajiannya Gus Lik dan sowan ke Gus Lik.

Tapi, ajakan itu belum sempat saya penuhi, hingga Gus Lik wafat. Kalau mengikuti pengajiannya, saya sudah pernah. Tapi, dari tempat yang agak jauh. Meski demikian, suara Gus Lik bisa saya dengar dengan sangat jelas, karena dibantu pengeras suara.

Banyak cerita dan kisah tentang Gus Lik yang saya dengar dari orang-orang yang mengenalnya. Saya juga membaca sejumlah artikel tentang Gus Lik. Tentang kealimannya. Tentang ke-zuhud-annya. Dan tentang begitu dekatnya Gus Lik dengan wong cilik.

Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyah, Jamsaren Kota Kediri itu memang figur ulama yang langka. Dengan adanya sosok Gus Lik, kita bisa mendapati bahwa  “ulama yang zuhud” itu bukanlah sekadar wacana. Sebab, di era sekarang ini, kita sangat sulit mendapati ulama atau kiai  yang benar-benar zuhud.

Ketika ada seorang ulama atau kiai yang terkenal (karena viral di media sosial), maka berbagai indikator yang mengarah ke aspek-aspek industrial akan mengikutinya. Misalnya, akan banyak orang atau pihak yang rebutan mengundangnya. Sehingga untuk mengundangnya, harus ngantre, harus inden, bahkan indennya bisa sampai satu tahun lebih, saking padatnya jadwal sang ulama atau kiai tersebut.

Lalu, berbagai fasilitas pun menyertainya. Harus menyediakan tiket pesawat pulang-pergi (jika diundang di luar pulau atau luar negeri), harus dijemput dengan mobil jenis tertentu. Kalau mengundangnya harus menghubungi pihak manajemennya, dan lain-lain, dan lain-lain.

Gus Lik bukanlah ulama seperti itu. Meski jamaahnya cukup banyak, dan setiap pengajiannya diikuti ribuan orang, Gus Lik tetaplah figur yang bersahaja. Penampilannya sangat sederhana. Santun, rendah hati, dan tidak menuntut harus diantar atau dijemput saat menghadiri pengajian.

Untuk bertemu dengan Gus Lik juga tidak sulit. Untuk mengundang Gus Lik juga tidak sulit. Tapi, Gus Lik lebih suka ngopeni jemaah pengajiannya yang setiap malam Rabu dan malam Jumat.

Beberapa orang-orang dekatnya, menceritakan bahwa Gus Lik itu ulama yang meskipun populer, tapi dia lebih memilih untuk menghindari simbol-simbol kenikmatan duniawi.

Penampilannya lebih memilih apa adanya. Dan jika makan, sangat sedikit. Kira-kira sepertiga dari ukuran kebanyakan dari kita. Dan ini yang sulit untuk diikuti jejaknya: hingga akhir hayatnya, Gus Lik lebih memilih untuk tidak menikah. Bisa jadi, ini adalah bagian dari sifat zuhudnya, yang ingin mewakafkan hidupnya secara totalitas mengabdi dan melayani Allah SWT.

Kita mungkin akan dengan mudah mengetahui definisi maupun kriteria dari  sifat zuhud. Misalnya, pendapat dari Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar ahli fiqih dan hadits memberikan definisi tentang sifat zuhud.

Yakni zuhud itu mengandung lima perkara yang terpuji: Pertama, keyakinan total kepada Allah SWT. Kedua, melepaskan diri dari merasa butuh kepada makhluk.

Ketiga, ikhlas dalam beramal. Keempat, tabah terhadap perlakuan zalim. Dan kelima, sifaat qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang dimiliki. Dijelaskan lebih lanjut, keyakinan penuh kepada Allah SWT merupakan salah satu sifat zuhud. Hal ini karena seorang hamba tidak akan mampu hidup dalam kezuhudan, kecuali dengan keyakinan yang penuh kepada Allah SWT.

Abu Sulaiman ad-Darany berkata: “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu kesibukan yang menyebabkan melupakan Allah SWT”. Dan menurut Yahya bin Muadz, seseorang tidak akan mencapai hakikat zuhud hingga ada dalam dirinya tiga perkara: Pertama, beramal tanpa diikuti tendensi. Kedua, ucapan tanpa sifat tamak terhadap dunia. Dan ketiga, kemuliaan tanpa jabatan. 

Berbagai definisi dan kriteria tentang zuhud itu, Insya Allah ada pada Gus Lik. Makanya, ketika Gus Lik wafat, kita akan semakin sulit mencari figur ulama atau kiai yang benar-benar zuhud.

Sesungguhnya, pada figur yang zuhudlah, kita bisa mendapatkan kebijaksanaan, kedamaian, ketenteraman, dan kebahagiaan yang hakiki.Insya Allah, saat ini Gus Lik sedang berbahagia, karena bertemu dengan Sang Khalik yang sangat dicintainya. Lahul fatihah…(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
radar kediri KH Dauglas Toha Yahya jawapos catatan awal pekan Gus Lik