Ada yang menarik pada pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang dilaksanakan secara serentak pada November mendatang. Khususnya pilkada di Provinsi Jawa Timur, Kota Kediri dan Kabupaten Nganjuk. Mungkin baru kali ini terjadi.
Pilkada di Provinsi Jawa Timur, terdapat tiga pasangan calon gubernur/calon wakil gubernur, di mana semua calon gubernur-nya adalah perempuan. Pasangan pertama adalah incumbent: Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak. Pasangan kedua adalah: Tri Rismaharini berpasangan dengan Zahrul Azhar Asumta. Pasangan ketiga adalah: Luluk Nur Hamidah berpasangan dengan Lukmanul Hakim. Bisa jadi, baru di Provinsi Jatim, tiga pasangan calon gubernur yang berlaga semuanya perempuan.
Di Kota Kediri dan di Kabupaten Nganjuk juga terdapat fenomena menarik. Yakni, tampilnya pasangan calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah yang semuanya perempuan. Yang sering terjadi pada pilkada di kabupaten atau kota, adalah pasangan ganda campuran (pria dan perempuan, atau perempuan dan pria). Tapi di Kota Kediri dan Kabupaten Nganjuk, ada salah satu pasangan yang semuanya perempuan. Di Kota Kediri, pasangan itu adalah: Ferry Silviana Feronica dan Regina Suwono. Di Kota Kediri ini mirip pilkada di Provinsi Jawa Timur, di mana semua calon kepala daerahnya adalah perempuan. Satu pasangan lainnya di Pilkada Kota Kediri adalah Vinanda Prameswati dan Gus Qowimuddin Thoha. Sedangkan di Kabupaten Nganjuk, salah satu pasangan yang akan berlaga di pilkada yang semuanya perempuan adalah Ita Triwibawati dan Zuli Rantauwati. Ita adalah istri dari Bupati Nganjuk periode 2008 - 2018, Taufiqurrahman, dan Zuli adalah kakak dari Bupati Nganjuk 2018 - 2023, Novi Rahman Hidayat.
Munculnya tiga calon gubernur dalam pilkada Provinsi Jawa Timur yang semuanya perempuan, serta tampilnya pasangan perempuan-perempuan dalam pilkada Kota Kediri dan Kabupaten Nganjuk menarik untuk dicermati. Apakah peristiwa ini terjadi secara "alamiah" ataukah "by design"? Apakah ini pertanda bahwa peran dari para politisi pria sudah mulai tergeser oleh dominasi politisi perempuan?
Dari data yang terdapat di Komisi Pemilihan Umum (KPU), hasil Pemilu DPR 2024 ternyata meningkatkan angka keterwakilan perempuan menjadi 22,1 persen, atau ekivalen dengan jumlah 128 kursi dari 580 kursi di DPR RI. Angka ini lebih tinggi 1,6 persen dibanding Pemilu 2019, yang waktu itu keterwakilan perempuan 20,5 persen, ekivalen dengan 118 kursi. Dan, hasil Pemilu DPR 2024 ini menjadi capaian keterwakilan perempuan tertinggi sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Dengan fakta ini, fenomena yang terjadi di Pilkada Provinsi Jawa Timur (tampilnya tiga calon gubernur yang semuanya perempuan), di Kota Kediri dan Kabupaten Nganjuk (tampilnya pasangan perempuan-perempuan), linier dengan fenomena secara nasional, di mana tingkat partisipasi politisi perempuan mengalami kenaikan. Dengan kata lain, saat ini terjadi kebangkitan para politisi perempuan, yang mulai mengurangi dominasi para politisi pria.
Lantas, adakah implikasinya bagi dinamika politik ketika para politisi perempuan mulai marak dan mulai mengurangi dominasi para politisi pria? Agak terburu-buru jika menjawab pertanyaan ini.
Yang jelas, perempuan dan pria itu punya karakteristik yang berbeda. Ada banyak buku atau referensi yang dapat menjelaskan tentang perbedaan gender dua jenis kelamin itu. Salah satunya adalah buku yang ditulis oleh John Gray berjudul: "Men are from Mars, Women are from Venus". Gray menulis buku tersebut berdasarkan pemikiran bahwa pria dan perempuan memiliki apa yang dia sebut sebagai "diametrically different communication styles, emotional needs and personal values" yang berbeda satu dengan lain.
Baca Juga: KONI dan Korupsi
Menurut Gray, perbedaan pria dan perempuan, salah satunya adalah dari sisi cara berkomunikasinya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam menyimpan memori. Meski ukuran otak pria lebih besar daripada ukuran otak perempuan, tapi faktanya "hippocampus" pada perempuan lebih besar ketimbang dengan pria. "Hippocampus" merupakan bagian otak yang menyimpan memori. Bagian inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa perempuan bisa mengolah informasi lebih cepat.
Perbedaan sifat perempuan dan pria dalam merespon informasi terjadi karena perempuan memiliki "verbal center" pada kedua bagian otaknya. Sedangkan pria hanya memiliki "verbal center" pada otak kiri. Biasanya ini yang menyebabkan perempuan lebih suka berdiskusi dan bercerita panjang lebar dibandingkan dengan pria. Ketika pria ingin pikiran atau perasaannya dimengerti, mereka akan mengungkapkannya secara langsung. Sebaliknya, perempuan lebih suka memberikan isyarat agar bisa dimengerti.
Apakah Anda setuju dengan penilaian Gray tersebut? Apakah memang seperti itu perbedaan antara pria dan perempuan? Selama ini, apakah memang ada perbedaan yang signifikan dalam hal pengambilan keputusan, antara kepala daerah pria dan perempuan? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah