Hutan di kawasan Gunung Klotok terbakar lagi, Jumat malam lalu (16/8). Ini bukan pertama kalinya hutan tersebut dilalap "si jago merah".
Setahun lalu, hutan itu terbakar. Api menjalar mulai dari wilayah Semen, Kabupaten Kediri hingga Kelurahan Pojok, Mojoroto, Kota Kediri. Diperkirakan area yang hangus terbakar kala itu sekitar 3 hektare. Jumat malam lalu, kebakaran kembali terjadi di sana, dan menghanguskan sekitar satu hektare lahan hutan di tempat tersebut.
Saya pernah menulis tentang Gunung Klotok dengan kawasan hutannya. Kepada Abdullah Abu Bakar, Wali Kota Kediri pada saat itu, saya pernah mengatakan, sungguh sangat disayangkan, kurang serius menjadikan kawasan Gunung Klotok sebagai destinasi wisata.
Saat itu dia mengatakan, bahwa sebagian besar kawasan Gunung Klotok yang berupa hutan itu dikelola oleh Perhutani. Dan ini menjadi kendala tersendiri.
Jujur, sebetulnya saya tidak puas dengan jawaban tersebut. Ketika sebuah kawasan hutan dikelola oleh Perhutani, seakan-akan dianggap sebagai sebuah kendala, saat kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi destinasi wisata. Sebab, sudah ada beberapa contoh kawasan hutan di Indonesia yang sukses dijadikan destinasi ekowisata.
Salah satunya yang beberapa bulan lalu saya kunjungi adalah kawasan hutan di Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Namanya: Orchid Forest. Ini adalah hutan dengan banyak pohon Pinus dan juga ditanami Anggrek.
Di tempat ini, wisatawan diajak menyusuri kawasan hutan yang sudah dipoles dan dipermak sedemikian rupa, sehingga nyaman untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.
Di sepanjang jalan, diberikan spot-spot unik dan menarik yang sangat Instagramable. Misalnya ada "wood bridge", yakni jembatan gantung yang dihubungkan dari pohon ke pohon dengan panjang sekitar 150 meter, dan dilengkapi dengan lampu-lampu yang menyala di malam hari. Juga ada beberapa wahana permainan, serta resto-resto dengan aneka menu khas Jawa Barat.
Sebelum dijadikan Orchid Forest, kawasan tersebut adalah kawasan hutan lindung. Kemudian di hutan yang luasnya mencapai 12 hektare itu dikembangkanlah berbagai macam tanaman Anggrek, karena secara lokasi dan suhu sangat memungkinkan.
Lalu sejak Agustus 2017 kawasan hutan lindung itu dipermak dan direvitalisasi menjadi ekowisata untuk tanaman Anggrek dan Pinus. Proyek revitalisasi kawasan hutan itu merupakan kerjasama antara Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat Banten (sebagai pemilik lahan) dan perusahaan swasta nasional PT Jala Energy.
Satu lagi kawasan hutan yang juga sukses dipermak menjadi ekowisata yang menarik adalah Hutan Pinus Mangunan, yang terletak di Kabupaten Bantul, Jogjakarta.
Dulu, kawasan tersebut adalah areal tandus. Lalu, oleh pihak pengelola hutan dilakukan reboisasi dengan menanam pepohonan di antaranya Pinus, Akasia, dan Mahoni.
Alhasil, begitu pepohonan itu tumbuh dengan lebatnya, kawasan tersebut lantas dikembangkan menjadi ekowisata yang menarik di Jogja. Setidaknya ada 15 spot di kawasan Hutan Pinus Mangunan yang pemandangannya indah dan Instagramable.
Di antaranya ada spot "Pinus Pengger". Di sini terdapat banyak menara pandang dengan bentuk unik. Dari tempat ini, bisa dilihat Kota Jogja. Lalu ada juga spot yang disebut dengan "Puncak Becici". Ini tempat yang pernah dikunjungi Barrack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat.
Berkaca dari dua tempat itu, dan berdasarkan hasil pengamatan saya beberapa kali ke lokasi Hutan Gunung Klotok, maka sangat mungkin kawasan tersebut direvitalisasi menjadi ekowisata yang unik dan menarik.
Sebenarnya upaya untuk menjadikan Hutan Gunung Klotok menjadi ekowisata sudah pernah dilakukan.
Di antaranya, Pemkot Kediri pernah membuat Kebun Bunga Matahari pada 2018, yang lokasinya berada di kaki Gunung Klotok, menuju pintu masuk kawasan Hutan Gunung Klotok. Kala itu sempat ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat Bunga-Bunga Matahari di sana bermekaran.
Pihak Perhutani juga sempat membangun spot menarik di ketinggian Gunung Klotok, yakni "View 138" pada 2017. Destinasi wisata ini menyuguhkan panorama alam hutan serta pemandangan Kota Kediri yang bisa dilihat secara langsung dari ketinggian puncak Gunung Wilis sisi selatan.
Sungguh sayang seribu sayang, baik spot wisata "Kebun Bunga Matahari" maupun "View 138" di kawasan Hutan Gunung Klotok, saat ini tinggal kenangan. Dan sejauh ini, belum ada tanda-tanda serius, baik dari pihak Perhutani maupun Pemkot Kediri untuk berupaya merevitalisasi kawasan Hutan Gunung Klotok itu menjadi destinasi ekowisata. Padahal, potensinya cukup besar.
Gunung Klotok sendiri, dari sisi bentuknya jika dilihat dari kejauhan menyerupai sosok perempuan yang sedang tidur. Hal ini akan menjadi bahan story telling yang menarik bagi wisatawan yang pertama kali berkunjung ke kawasan Gunung Klotok.
Lalu di kawasan Gunung Klotok terdapat tiga gua: Gua Selomangleng, Gua Selobale, dan Gua Padedean. Khusus Gua Selomangleng, punya nilai historis yang tinggi. Yakni, menjadi tempat pertapaan Dewi Kilisuci (Sanggramawijaya Tunggadewi), putri mahkota Raja Airlangga.
Di gua yang diperkirakan dibuat pada abad 10-11 Masehi ini diyakini sebagai tempat Dewi Kilisuci menghabiskan sisa umurnya untuk bertapa. Tujuannya agar seluruh warga Kediri terhindar dari segala marabahaya. Kisah-kisah bersejarah ini, sekali lagi, bisa dijadikan bahan story telling yang menarik bagi para wisatawan. Sayangnya, hal itu tidak maksimal dilakukan.
Alhasil, kawasan Hutan Gunung Klotok saat ini, seakan menjadi destinasi wisata yang "apa adanya". Berbagai potensi yang ada di sana dikelola secara "apa adanya". Dengan model manajemen dan pengelolaan yang mungkin juga "apa adanya".
Saya membayangkan, seandainya saja dari pihak Pemkot Kediri dan Perhutani mau duduk satu meja. Menyamakan visi dan misi. Punya tujuan yang sama, dalam rangka merevitalisasi kawasan Hutan Gunung Klotok menjadi ekowisata yang unik dan menarik. Maka, cita-cita tersebut bukan mustahil untuk diwujudkan.
Jika kolaborasi antara Pemkot Kediri dan Perhutani dianggap kurang, maka bisa ditawarkan kepada investor. Asal ada kemauan yang sungguh-sungguh, saya yakin pasti ada investor yang mau. Asal diberikan konsesi dan tawaran yang menggiurkan, berdasarkan asas kerja sama yang saling menguntungkan. Bagaimana menurut Anda? (Kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah