Jembatan “Jongbiru” sebetulnya termasuk jembatan bersejarah. Sebab, dibangun di masa penjajahan Belanda. Dulu, jembatan tersebut dijadikan sebagai akses untuk lori tebu, karena memang letaknya berdekatan dengan Pabrik Gula (PG) Mrican.
Nama “Jongbiru” diambil dari nama sebuah desa di Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Letaknya berada di tepi Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang berbatasan dengan Kota Kediri. Tepatnya di kiri-kanan Jembatan Mrican.
Dan ternyata, menurut sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, di kawasan Jongbiru itu pernah berdiri sebuah pelabuhan besar, tempat bersandarnya kapal-kapal dagang. Pelabuhan di Jongbiru mulai difungsikan pada zaman Raja Airlangga, Kerajaan Kahuripan. Lalu berlanjut di era raja setelahnya. Mulai dari Jayabaya, Kertajaya, dan Jayakatwang dari Kerajaan Kadiri. Serta Hayam Wuruk hingga raja-raja di akhir keruntuhan Majapahit.
Saking pentingnya dermaga ini bagi kerajaan, nama “Jongbiru” dicantumkan dalam karya-karya sastra kuno. Di antaranya: Kidung Sundayana, Kidung Ranggalawe, dan Kidung Panji Wijayakrama.
Nama “jong” berasal dari kata “tanjung” yang berarti tanah yang menjorok ke perairan. Sedangkan kata “biru” menurut Dwi Cahyono merupakan identifikasi masyarakat berdasarkan kearifan lokal. Sebab, penggunaan unsur warna untuk menyebut sebuah pelabuhan tidak hanya “Jongbiru” saja. Ada juga “Jong Abang” yang kemudian dikenal dengan “Jombang”. Kala itu, pelabuhan sungai di Jombang diperkirakan berada di Kecamatan Megaluh, sebelah utara Jombang.
Jadi, betapa bersejarahnya “Jembatan Jongbiru”. Baik dari sisi bangunan jembatannya, maupun dari sisi nama “Jongbiru”-nya. Kisah-kisah sejarah ini, saya yakin jika ditanyakan kepada generasi milenial atau generasi Z, kemungkinan besar mereka “nggak dhong” (tidak mengerti).
Ketika Jembatan Jongbiru itu ambruk pada 2017 akibat usianya yang tua dan akibat diterjang aliran Sungai Brantas, cukup lama jembatan itu tak kunjung dibangun. Pemerintah, dalam hal ini, baik pemerintah pusat maupun kepala daerahnya, seakan tak memprioritaskan untuk membangun kembali jembatan itu.
Hingga akhirnya, di bawah pemerintahan Bupati Hanindhito Himawan Pramana yang menjabat sejak 2021, dia getol untuk membangun kembali Jembatan Jongbiru. Bupati muda itu lantas melobi pusat. Sebab, untuk membangun sebuah jembatan, dibutuhkan anggaran yang lumayan besar. Apalagi untuk jembatan sekelas Jongbiru yang panjangnya mencapai 133,94 meter dan lebar 9 meter. Diperkirakan biayanya mencapai Rp 25 miliar lebih. Dengan anggaran sebesar ini, APBD tak cukup kuat untuk menopangnya. Makanya, butuh sokongan dari pusat. Dan ini butuh usaha keras dan lobi dari bupati ke pusat. Bisa jadi, karena faktor ini lah, bupati sebelumnya terkesan enggan untuk memprioritaskan membangun Jembatan Jongbiru. Selain APBD tak memungkinkan, juga harus melobi pusat.
Upaya keras Mas Dhito (sapaan akrab Bupati Kediri Hanindhito), termasuk melobi pusat, akhirnya membuahkan hasil. Melalui Instruksi Presiden No 3 Tahun 2023 tentang Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah, pembangunan Jembatan Jongbiru termasuk salah satu proyek yang diprioritaskan oleh BBPJN (Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional) Jawa Timur-Bali. Jembatan Jongbiru dibangun dengan anggaran Rp 27 miliar dari APBN tahun 2023 – 2024.
Karena masuk proyek prioritas, makanya proses pembangunannya pun lancar dan relatif tidak molor. Mulai dibangun September 2023, dan akhirnya diresmikan Mas Dhito Jumat lalu, 26 Juli 2024.
Dengan adanya Jembatan Jongbiru itu, maka akses yang menghubungkan antara Kota Kediri dan Kabupaten Kediri menjadi lebih lancar. Masyarakat Kediri bagian utara sisi timur Sungai Brantas jika mau ke barat Sungai Brantas, sekarang tak perlu lagi memutar.
Melalui tulisan ini, saya mengusulkan kepada Mas Dhito, agar Jembatan Jongbiru juga dijadikan sebagai salah satu ikon sejarah dari peradaban di Kabupaten Kediri. Karena punya nilai historis yang cukup tinggi.
Di Kediri, selain Jembatan Jongbiru, juga ada jembatan bersejarah yang letaknya di sebelah Jembatan Brawijaya. Yakni Jembatan Lama. Jembatan itu dibangun Belanda pada 1854 dan resmi dioperasikan pada 1869. Jembatan itu di zaman Belanda diberi nama “Brug Over Den Brantas te Kediri”.
Jembatan ini disebut-sebut sebagai jembatan dengan konstruksi besi tertua di Jawa, bahkan dunia. Sebagai gambaran, Jembatan Brooklyn, salah satu jembatan suspense tertua di Amerika Serikat yang menghubungkan Manhattan dan Brooklyn di New York City selesai dibangun pada 1883.
Mengutip pendapat Brown dalam bukunya “Bridges:The Architecture of Connection”, bahwa keberadaan jembatan itu seringkali menjadi simbol budaya dan identitas suatu peradaban. Jembatan ikonik seperti “Jembatan Golden Gate” di Amerika Serikat atau “Tower Bridge” di Inggris, tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur. Tetapi juga sebagai lambang dari prestasi dan identitas sebuah peradaban.
Sayangnya, di Kediri, jembatan-jembatan yang punya nilai sejarah itu diperlakukan tak ubahnya hanya sebagai bangunan konstruksi belaka. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah