Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Taji Mas

Kurniawan Muhammad • Senin, 24 Juni 2024 | 19:32 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Selain identik dengan Gudang Garam, ada satu lagi merek rokok yang hampir dua dekade ini masih eksis di Kediri. Yakni: Taji Mas. Rokok ini punya segmen pasar tersendiri. Dengan segmen pasar itu, Taji Mas hingga kini masih bisa bertahan, bahkan semakin berkembang, sementara merek-merek rokok lainnya sudah pada gulung tikar, di tengah dominasi Gudang Garam.

Taji Mas termasuk “value” yang dipunyai Kabupaten Kediri. Pabriknya yang terdapat di Dusun Bangunrejo, Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, telah menjadi salah satu episentrum bagi pertumbuhan ekonomi di desa tersebut. Sebab, sejak berdiri  pada 2005, hingga kini sudah ribuan orang yang merupakan penduduk di desa itu bekerja di Taji Mas.

Portofolio Taji Mas yang semakin menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan itu, tidak terlepas dari peran pasangan Deny Widyanarko dan Ria Purbiati. Mereka inilah sang pendiri dan pemilik Taji Mas. Dan yang menarik, pasangan suami-isteri itu saat ini sama-sama terjun ke dunia politik. Deny Widyanarko akan maju dalam pilkada Kabupaten Kediri. Sedangkan isterinya, Ria Purbiati telah sukses lolos untuk menjadi anggota DPRD Kabupaten Kediri.

Saya pernah bertemu Ria Purbiati. Pada pemilu legislative lalu, dia termasuk salah satu caleg dengan perolehan suara terbanyak di Kabupaten Kediri. Saat mengobrol panjang lebar dengan dia,  saya mengapresiasi keberanian dan ketangguhan Taji Mas dalam bersaing dengan merek-merek rokok lainnya, termasuk dengan raksasa rokok seperti Gudang Garam.

Apalagi, industri rokok saat ini sedang digencet oleh berbagai regulasi yang semakin ketat, yang sangat membatasi ruang gerak dan ruang lingkup industri rokok. Baik regulasi internasional maupun regulasi nasional. Regulasi internasional, di antaranya adanya “Framework Convention on Tobacco Control” (FCTC) yang dikeluarkan WHO (lembaga kesehatan dunia). Regulasi nasional di antaranya adanya UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Juga ada PP No 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. Belum lagi harga cengkih yang terus meningkat. Serta cukai rokok yang terus dinaikkan oleh pemerintah.

Jadi, semakin ke sini, tantangan yang dialami industri rokok semakin berat. Makanya, tak mengherankan, dari 27 pabrik rokok yang ada di Surabaya, kini hanya tersisa 11 yang bisa eksis. Itu pun beberapa di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda kesulitan untuk bertahan hidup. 

Di Malang, semula ada 387 pabrik rokok yang mempekerjakan 200 ribu buruh. Data 2014 menyebutkan, dalam lima tahun terakhir, hanya tersisa 70 pabrik rokok dengan 25 ribu buruh.  Dari jumlah 70 pabrik, yang benar-benar sehat waktu itu hanya 40 pabrik. Selebihnya kembang-kempis. Saat ini, rasanya angka tersebut menurun drastis. Mungkin hanya tersisa belasan pabrik rokok saja yang masih bisa bertahan hingga kini.

Pada 2017, Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPS-I) merilis data saat itu dalam 10 tahun terakhir (2006 – 2017) ada 3.195 pabrik rokok dari seluruh Indonesia yang gulung tikar. Dijelaskan, pada 2006 terdapat 4.669 pabrik rokok seluruh Indonesia. Pada 2017, hanya tinggal 754 pabrik rokok. Dan saat ini, rasanya angkanya menurun dari sebelumnya.

Nah, jelaslah di sini, betapa semakin sulitnya industri rokok untuk bisa bertahan. Rata-rata pabrik rokok yang gulung tikar itu, adalah pabrik rokok yang skalanya menengah ke bawah. Dan pabrik rokok Taji Mas, termasuk dalam cluster ini. Bahwa Taji Mas masih tetap bisa bertahan dan malah mampu bertumbuh hingga sekarang, tentu hal ini patut diapresiasi.

Makanya, saya menyebut Taji Mas sebagai industri rokok yang berani dan tangguh. Berani, karena tidak gentar bersaing di Kediri dengan merek rokok raksasa seperti Gudang Garam. Tangguh, karena masih mampu bertahan dari berbagai tantangan, mulai dari harga cengkih dan cukai yang terus meningkat, hingga adanya berbagai regulasi yang menyulitkan. Apakah karena hal ini, membuat Deny Widyanarko, sang pemilik Taji Mas sangat percaya diri untuk maju dalam kontestasi Pilkada di Kabupaten Kediri November mendatang? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#cukai rokok #gudang garam #industri rokok #dprd kabupaten kediri #rokok