Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bandara Dhoho dan Algoritma Politik

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 1 April 2024 | 16:28 WIB

 

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Saking seringnya jadwal pengoperasian Bandara Dhoho diumumkan, lalu tidak jadi, membuat sebagian masyarakat menjadi terbiasa. Terbiasa dengan informasi yang “meleset”. Informasi mutakhir, Bandara Dhoho akan beroperasi pada 5 April 2024. Betulkah informasi tersebut?

Koran ini mendapatkan sumber yang bisa dipercaya, bahwa tanggal pengoperasian bandara tersebut adalah 5 April 2024. Salah satu indikatornya, Sabtu sore lalu Penjabat (Pj) Gubernur Jatim Adhy Karyono melakukan kunjungan ke bandara, untuk mengecek kondisi terakhir bandara, apakah betul-betul siap untuk beroperasi dalam waktu dekat (5 April 2024).

Indikator lainnya, sebuah akun Instagram milik dhoho.international.airport mengumumkan bahwa Citilink akan membuka rute Jakarta-Kediri mulai Jumat (5/4) pagi.

Sayangnya, baik Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana maupun Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono ketika dikonfirmasi soal kepastian tanggal pengoperasian bandara sama-sama tidak berani berkomentar. Mungkin mereka takut, jika mengiyakan (beroperasi 5 April 2024), nanti bisa-bisa meleset (lagi).

Konon, yang membuat jadwal pengoperasian bandara sering meleset, adalah faktor “istana”. Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut-sebut sebagai faktor yang paling menentukan untuk jadwal pengoperasian bandara.

Saya pernah mendapatkan informasi dari sumber di lingkaran Istana, bahwa Presiden Jokowi baru akan menentukan jadwal pengoperasian Bandara Dhoho sekaligus meresmikannya setelah ada kepastian hasil Pilpres (pemilihan presiden) 2024, bahwa pemenangnya adalah Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, dalam satu putaran. Bukan kah Prabowo-Gibran sudah dinyatakan menang oleh KPU dengan prosentase lebih dari 58 persen? Sehingga Pilpres berjalan cukup satu putaran? Iya, memang demikian. Tapi, bukankah pihak capres 01 dan 03 melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK)? Gara-gara masih ada gugatan ke MK inilah, yang membuat “istana” kembali menunggu waktu yang tepat untuk menentukan pengoperasian Bandara Dhoho. “Begitu nanti hasil keputusan MK menguatkan hasil keputusan KPU, dan secara sah dikukuhkan bahwa Prabowo-Gibran akan segera dilantik menjadi presiden dan wakil presiden, maka saat itulah, akan segera ada kepastian soal jadwal peresmian dan pengoperasian Bandara Dhoho,” demikian sebuah sumber menyampaikan.

Jika sumber ini benar, berarti tidak mungkin presiden akan meresmikan Bandara Dhoho pada 5 April 2024. Sebab, pada saat itu, proses persidangan di MK masih belum selesai. MK diberikan waktu untuk menyelesaikan sidang sengketa pilpres selama 14 hari kerja. Sementara di bulan April terdapat hari libur cuti lebaran. Sehingga, sidang MK diperkirakan akan diselesaikan pada minggu ketiga April.

Atau, bisa jadi, 5 April nanti adalah soft opening, yang ditandai dengan adanya “first landing” atau “first take-off” pesawat komersial pertama. Dalam hal ini, bisa jadi adalah Citilink rute Kediri-Jakarta. Sedangkan kelak, saat grand opening, baru diresmikan oleh Presiden Jokowi (setelah nanti keputusan MK menguatkan keputusan KPU). Apakah memang demikian? Wallahu A’lam. Seakan-akan, ketika bertanya soal kepastian kapan Bandara Dhoho diresmikan, yang tahu jawabannya hanya Tuhan dan Jokowi.

Memang, tak terlalu salah jika ada yang mengatakan, bahwa di Indonesia saat ini, yang menjadi “panglima” adalah “politik”. Jadi, semuanya itu, dikendalikan oleh “politik”. Dan di dalam “politik” selalu ada “kepentingan” dan “kekuasaan”.

Jika benar informasi di atas, bahwa Jokowi harus menunggu hasil pilpres sebelum menentukan jawal peresmian atau pengoperasian Bandara Dhoho, ini bisa dipahami. Karena, Jokowi harus memastikan dulu, siapa yang akan memenangi pilpres. Apakah pemenangnya adalah figur yang linier dengan garis politiknya, atau sebaliknya. Dari tiga pasangan capres-cawapres, yang jelas-jelas linier dengan garis politiknya Jokowi adalah pasangan nomor 02, Prabowo-Gibran. Makanya, Jokowi baru akan bisa “tidur nyenyak” ketika kelak yang menjadi presiden dan wakil presiden adalah figur-figur yang linier dengan garis politiknya. Dan saat itulah, mungkin Jokowi akan merasa mantab ketika harus meresmikan Bandara Dhoho. Bisa jadi, Bandara Dhoho akan menjadi kado terakhir pemerintahan Jokowi kepada Rakyat Indonesia.

Jadi, seperti inilah, ketika “politik” yang menjadi algoritma dalam jagad pembangunan di Indonesia. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #jawapos #bandar dhoho #catatan awal pekan