Jika tidak ada aral melintang, tahapan penghitungan suara Pemilu 2024 akan dinyatakan tuntas pada 20 Maret mendatang. Saat ini, sudah diketahui, siapa saja calon legislatif (caleg) yang lolos, dan siapa saja (caleg) yang tidak lolos. Teman saya yang kebetulan nyaleg lalu lolos, juga ada. Teman saya yang kebetulan nyaleg tapi gagal juga ada. Cerita dan kisah mereka pun beragam.
Ada teman saya yang kebetulan nyaleg untuk DPRD Provinsi tapi gagal, suatu ketika pernah minta tolong kepada saya, bagaimana caranya agar dia bisa lolos. Dia bahkan berani menyiapkan uang hingga Rp 6 miliar, demi mewujudkan ambisi dan keinginannya itu. Untuk hal ini, saya pun dengan jelas dan tegas mengatakan, bahwa saya tidak bisa membantunya.
Lain lagi cerita teman saya ini, yang juga nyaleg dan gagal lolos, sebelumnya dia merasa percaya diri dengan konstituennya. Maklum, pada Pemilu sebelumnya dia lolos dan selama satu periode menjadi legislator. Tapi, dia sangat kaget, karena pada Pemilu kali ini suaranya benar-benar di luar dugaan. Kecil sekali. Padahal, dia merasa sangat peduli dan merawat konstituennya selama dia menjadi legislator. Ternyata itu saja tidak cukup. Dia menduga, para konstituennya beralih mendukung caleg-caleg lain yang pada masa-masa kampanye, terutama menjelang hari H pencoblosan, begitu royalnya bagi-bagi uang. Kata teman saya ini, dia mendapati per orang diberi uang minimal Rp 250 ribu. Sementara teman saya ini, lebih memilih tidak bagi-bagi uang. Rupanya dia sangat percaya diri dengan para konstituennya, bahwa mereka akan tetap memilihnya. Tapi, ternyata merawat dan peduli terhadap konstituen selama lima tahun, kalah dengan iming-iming uang yang diberikan di saat masa kampanye.
Jika dilanjutkan, akan banyak lagi cerita-cerita lainnya. Memang, selalu terselip kisah-kisah menarik di setiap Pemilu. Salah satunya yang sempat ramai diperbincangkan adalah tentang nama-nama tenar dan pesohor yang nyaleg, tapi gagal.
Salah satunya Kris Dayanti. Diva yang nyaleg dari Dapil Jatim V ini, tahun ini gagal lolos ke senayan. Padahal, pada pemilu sebelumnya, di dapil yang sama, dia berhasil meraup suara terbanyak (86.722 suara) sehingga sukses mengantarkan dia ke kursi DPR RI. Tapi, Pemilu kali ini, suaranya menurun drastis, dan hanya berhasil mengumpulkan 70.111 suara. Akibatnya, dia pun gagal lolos ke Senayan.
Mantan suami Kris Dayanti, Anang Hermansyah juga bernasib sama. Ketenarannya di dunia entertainment, ternyata tak mampu mendongkrak perolehan suaranya di Dapil Jawa Barat V pada Pemilu kali ini.
Di satu sisi, ketenaran tak selalu linier dengan perolehan suara. Tapi, pada sisi yang lain, ada juga artis yang ketenarannya linier dengan perolehan suaranya. Salah satu contohnya Komeng. Komedian ini berhasil meraih suara terbanyak (lebih sari 3 juta suara) untuk pencalonannya menjadi anggota DPD dari Jawa Barat.
Jika ketenaran bukan segala-galanya dalam Pemilu, lantas apa yang menentukan kesuksesan seorang caleg? Menurut saya, salah satu yang terpenting dalam politik adalah “touch” (menyentuh).
Betapa pun tenarnya seseorang, tapi jika dia tidak rajin “menyentuh” konstituennya, maka dia bisa kehilangan konstituennya.
Apakah “serangan fajar” alias bagi-bagi uang di masa kampanye termasuk aktivitas “touch”? Menurut saya, iya. Itulah “touch” dalam sudut pandang pragmatis. Atau bisa juga dikatakan “touch” dari jalur cepat (Patas). Karena jalur cepat, maka akan lebih mahal. Sedangkan “touch” dari jalur reguler adalah ketika para caleg telaten, rajin ngopeni dan mendampingi konstituennya selama bertahun-tahun.
Maka bisa berlaku “rumus” seperti ini: “Jika tidak bisa dengan baik melakukan “touch” dari jalur reguler (telaten, rajin ngopeni dan mendampingi konstituen), maka tingkatkan atau naikkan budget untuk “touch” dari jalur Patas (serangan fajar). Sebaliknya, jika tidak mampu menggunakan “touch” jalur Patas, maka tingkatkan intensitas untuk jalur regulernya (lebih telaten ngopeni konstituen). Mereka yang mampu melakukan dua jalur itu dengan baik, maka bisa dijamin pasti akan lolos”.
Teman saya yang merasa sudah percaya diri dengan konstituennya tadi, bisa jadi dia kurang ngopeni dan kurang mendampingi konstituennya. Sehingga, para konstituennya begitu mudahnya berpaling ke caleg lain yang menggunakan jalur Patas tadi.
Jadi, untuk mengulik para caleg yang sukses dan yang gagal, Anda bisa menggunakan rumus tersebut. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah