Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tiga Tahun Mas Dhito

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 26 Februari 2024 | 16:23 WIB

 

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Tidak gampang menjadi anak dari figur terkenal dan terpandang. Juga tidak mudah, menjadi kepala daerah di usia 29 tahun, memimpin 26 kecamatan, 343 desa, 1 kelurahan, dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa.  Apalagi, dalam kepemimpinannya, terjadi pandemi penyakit covid-19 yang begitu gawat dan mematikan.

Tapi, berbagai kenyataan yang “tidak gampang” itu mampu dilakoni dan dilewati dengan baik oleh seorang Hanindhito Himawan Pramana. Dia anak kandung dari tokoh nasional terkenal dan terpandang dari Kediri, Pramono Anung Wibowo, Sekretaris Kabinet dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Hari ini, tepat tahun ketiga, Mas Dhito (sapaan akrab Hanindhito Himawan Pramana) memimpin Kabupaten Kediri. Melalui kepemimpinannya sebagai Bupati Kediri yang dilantik sejak 26 Februari 2021, Mas Dhito berhasil membuktikan kapasitasnya. Dia memimpin, benar-benar berdiri di atas kemampuannya sendiri. Dia punya intuisi memimpin yang cukup bagus. Dan ini diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakannya yang taktis, yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Ini semakin menambah keyakinan saya tentang satu kaidah bahwa “anak singa” tetaplah “singa”.

Meski selama periode kepemimpinannya “diganggu” oleh pandemi Covid selama dua tahunan, tapi, itu tak membuat Mas Dhito memandek-kan program-programnya. Apalagi, program-program yang dibutuhkan rakyatnya. Di antaranya, dia membangun Jembatan Ngadi-Mojo. Padahal, dari sisi tanggung jawab dan kewenangan, jembatan ini harusnya dibangun oleh Pemprov Jawa Timur. Tapi, Mas Dhito memutuskan untuk menyelesaikan pembangunan jembatan yang mangkrak selama lima tahun itu dengan menggunakan APBD-nya Kabupaten Kediri.

Satu lagi proyek pembangunan jembatan yang mangkrak, yang juga dibangun dan diselesaikan oleh Mas Dhito. Yakni Jembatan Jongbiru. Jembatan ini malah mangkrak selama tujuh tahun.  Sama dengan Jembatan Ngadi-Mojo, Jembatan Jongbiru secara lokasi, seharusnya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemprov Jatim. Tapi, lagi-lagi Mas Dhito memilih untuk menyelesaikan pembangunan jembatan tersebut. 

Bagi Mas Dhito, dua jembatan itu memang menjadi tanggung jawab dan kewenangan Pemprov Jatim. Tapi, faktanya, banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Kediri. Maka, dia memutuskan untuk menyelesaikannya. Dari sisi ini, tak semua bupati seperti Mas Dhito. Ada tipe bupati yang hanya mau menggarap proyek-proyek yang menjadi tanggung jawab dan kewenangannya saja. Ini yang disebut bupati pragmatis.

Di bidang pendidikan, Mas Dhito cukup visioner. Di antara kebijakannya adalah membangun boarding school SMA Dharma Wanita yang bekerja sama dengan Putera Sampoerna Foundation. Sekolah ini dikhususkan bagi siswa-siswi berprestasi dari keluarga miskin di 26 kecamatan. Kelak, yang berprestasi, akan mendapatkan beasiswa ke Australia.

Mas Dhito juga memberikan beasiswa, yang jika diakumulasikan hingga kini sudah mencapai  puluhan miliar melalui GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) untuk membiayai sekolah dan kuliah. Mulai tahun ini, murid-murid dari keluarga miskin akan dikuliahkan di keperawatan, lalu dimagangkan di puskesmas setelah lulus, sampai nanti benar-benar diterima bekerja.

Ini termasuk kebijakan yang bersifat “investasi”. Artinya, kebijakan yang dilakukan saat ini, baru akan dirasakan hasilnya atau dampaknya 5-10 tahun lagi. Kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pendidikan, rata-rata bersifat jangka panjang. Makanya, tak banyak kepala daerah yang tertarik membuat kebijakan di bidang pendidikan yang sifatnya jangka panjang, seperti yang dilakukan Mas Dhito. Mereka lebih suka bikin kebijakan yang dampaknya dirasakan secepatnya, demi kepentingan politik electoral (baca: agar terpilih lagi di periode selanjutnya). Inilah yang disebut kepala daerah pragmatis.

Dalam masa kepemimpinannya, Mas Dhito juga punya ambisi bikin proyek prestisius yang bisa bikin bangga warganya. Yakni membangun stadion yang megah. Nama stadion itu: Gelora Daha Jayati. Nama ini bukan dari Mas Dhito. Tapi, nama tersebut dari masyarakat, melalui sayembara yang dibikin oleh Pemkab Kediri. Padahal, jika mau, Mas Dhito bisa saja bikin nama stadion itu sesuai dengan keinginannya. Tapi, itu tidak dilakukan. Dia ingin, nama stadion itu berasal dari masyarakat.

Kini, stadion yang berada di dekat Bandara Dhoho dan memiliki luas 11.220 meter persegi itu sudah terlihat wujudnya. Dari luar tampak  keren. Kekinian. Meski belum jadi 100 persen. Dan gaya arsiteknya agak mirip dengan stadion-stadion berkelas yang ada di luar negeri.

Menurut rencana, pembangunan stadion yang mengusung konsep sport, business and entertainment itu akan berlangsung tiga tahap. Tahap pertama mulai 27 Maret – 21 Desember 2023, dengan menelan anggaran Rp 149,79 miliar, bersumber dari APBD 2023.  Mas Dhito sendiri yang mengawal proses pembangunan stadion tersebut, agar tidak molor penyelesaiannya, dan untuk memastikan penggunaan spek-nya agar tidak diselewengkan. Sudah tak terhitung, berapa kali Mas Dhito melakukan sidak ke stadion itu. Ini memang harus dilakukan oleh kepala daerah dalam mengawal megaproyek yang menelan anggaran tinggi. Di tempat lain, tak sedikit, megaproyek mangkrak itu karena kepala daerahnya malas mengawal. Atau, bahkan malah memainkan proyek tersebut.

Jadi, untuk proses pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati, saat ini sudah melewati tahap pertama. Masih kurang dua tahap lagi. Secara fisik, baru dinyatakan selesai di tahap ketiga. 

Meski saat ini baru tahap pertama, tapi sudah kelihatan keren bangunan fisik dari luar. Di dalamnya, sudah terpasang rumput stadion. Begitu pula atap tribun, meski belum menyeluruh. Juga sudah ada ruangan-ruangan untuk wasit, kantor, pemain, media dan lain-lain.

Jika kelak stadion itu jadi, maka tak hanya bikin bangga masyarakat di Kabupaten Kediri. Tapi, juga bisa bikin bangga masyarakat di Kota Kediri. Sebab, di Kediri Raya, hingga kini belum ada stadion yang megah, keren dan kekinian.

Salut untuk Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Selama tiga tahun memimpin, Anda sudah membuktikan, bahwa usia muda, tak selalu identik dengan ketidakmatangan. Anda sudah membuktikan, bahwa meski dalam situasi sesulit apa pun, tak menghalangi Anda untuk membuat berbagai kebijakan dan terobosan yang berdampak besar dan bermanfaat secara kongkret dan signifikan bagi masyarakat.

Simon Sinek, seorang penulis buku berjudul “Start with Why” dan pembicara terkenal yang juga konsultan di bidang manajemen dan kepemimpinan menyoroti secara khusus tentang kepemimpinan anak muda yang efektif. Kata dia, kepemimpinan anak muda yang efektif melibatkan empat elemen kunci. Pertama, kepercayaan. Seorang pemimpin muda, harus mampu membangun kepercayaan di kalangan timnya atau anak buahnya. Harus dibangun kepercayaan, bahwa dia mampu mengatasi persoalan yang terjadi. Kedua, keberanian. Dalam hal ini, harus berani membuat keputusan, sekaligus berani mengambil risiko. Ketiga, empati. Seorang pemimpin muda harus lebih peka empatinya terhadap berbagai persoalan-persoalan sosial dalam masyarakat. Harus lebih jeli, terhadap berbagai ketimpangan sosial yang terjadi. Dan keempat, pengaruh positif. Pemimpin muda harus mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Menurut saya, berbagai kebijakan yang sudah dan yang akan dilakukan oleh Mas Dhito, sudah mengarah ke empat elemen Simon Sinek tersebut. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#catatan #awal pekan