Suatu hari, saat sedang berada di sebuah resto di Kabupaten Kediri, saya kebetulan bertemu dengan seorang pengunjung yang sama-sama sedang berada di resto itu. Dia berasal dari Pekalongan. Menginap di hotel, yang lokasinya berdekatan dengan resto tersebut. Dia banyak bertanya kepada saya soal progres pembangunan bandara baru di Kediri. Saya bisa menjawab semua pertanyaannya. Karena kebetulan di koran ini, seminggu sekali ada halaman khusus bernama "Aerotropolis" yang selalu memberitakan seputar progres pembangunan bandara. Tapi, ketika dia bertanya soal ini: "Kalau orang ke Kediri, tempat-tempat apa saja yang menarik dan layak untuk dikunjungi?" Jujur, saya kerepotan menjawabnya.
Saya ingin menjawab “wisata ke Gunung Kelud”, tapi tempatnya masih begitu-begitu saja. Nyaris belum ada polesan pembenahan dan pembangunan sama sekali. Saya ingin menyebut kawasan “Simpang Lima Gumul” yang monumennya mirip “Arc de Triomphe” di Paris, tempat itu sekarang terkesan kurang dirawat. Catnya mulai kusam. Dinding-dindingnya mulai mletek-mletek dan rusak.
Saya ingin menyebut satu per satu mal yang ada di Kota Kediri, mal-nya juga begitu-begitu saja. Belum ada mal yang benar-benar seperti mal. Saya ingin menyebut beberapa event yang pernah dilaksanakan baik di Kota Kediri maupun di Kabupaten Kediri, event-event-nya yang digelar juga begitu-begitu saja. Belum ada event yang benar-benar impressif, kolosal, dan fenomenal berkaliber nasional, apalagi internasional.
Jadi, diakui atau tidak, hingga kini, belum ada alasan yang kuat, yang sifatnya rekreatif, yang membuat orang dari luar Kediri mau datang ke Kediri. Padahal, menurut saya, Kediri Raya punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan yang layak untuk dikunjungi. Potensi besar itu masih terpendam. Harus ditemukan. Harus digali. Harus dipoles. Harus dipasarkan secara massif. Dan harus dilakukan secara terintegrasi antara Kota Kediri dan Kabupaten Kediri.
Antara Kota Kediri dan Kabupaten Kediri harus “two in one”. Boleh ada dua pemerintahan, tapi sistemnya harus satu alias menyatu. Terutama sistem pengelolaan potensi daerah, wabil khusus potensi pariwisatanya. Bagaimana caranya, dibuat aturan bersama. Ketika orang dari luar Kediri berwisata ke Kota Kediri, harus juga berwisata ke Kabupaten Kediri. Dan ini berlaku sebaliknya. Membuat kesepakatan seperti ini tidaklah terlalu sulit. Asal ada kemauan kuat dari kedua belah pihak. Dan asal tidak tersandera dengan ego sektoral masing-masing pihak.
Jika antara Pemkab Kediri dan Pemkot Kediri sudah satu visi dan satu frekuensi dalam mengembangkan potensi pariwisata, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menginventarisasi berbagai potensi pariwisata di masing-masing wilayah. Selanjutnya dilakukan mapping, pemetaan, atau scoring. Manakah dari hasil yang diinventarisasi itu yang paling layak untuk diprioritaskan, serta dikembangkan lebih lanjut.
Untuk tahapan ini, akan lebih baik jika melibatkan pihak luar yang berpengalaman, yang memiliki portofolio meyakinkan. Jika perlu, melibatkan konsultan yang bereputasi, dan karyanya sudah terbukti serta teruji.
Mengapa? Karena ini soal taste (selera). Dalam hal ini berlaku kaidah: “orang yang istimewa akan menghasilkan karya yang istimewa. Orang yang biasa-biasa saja, hasil karyanya juga biasa-biasa saja”.
Tahapan ini akan menghasilkan proposal. Proposal inilah yang kemudian harus ditawarkan kepada investor. Agar mereka mau dan berminat berinvestasi ikut membangun dan mengembangkan potensi wisata di Kediri Raya. Dan yang menawarkan kepada investor harus kepala daerah. Bukan kepala dinasnya. Kepala daerah harus bisa menjadi marketer bagi daerahnya. Kepala daerah harus bisa meyakinkan investor. Yang dibutuhkan investor sebetulnya hanya dua: kepastian hukum dan kepastian untung. Kepala daerah harus bisa meyakinkan “dua kepastian” itu kepada investor.
Saya membayangkan, Bupati Kediri dan Wali Kota Kediri, datang bersama mendatangi investor, membawa proposal, mempresentasikan potensi wisata yang ada di daerahnya, serta menjamin kepastian hukum dan kepastian untung-nya. Saya yakin, jika investor didatangi kepala daerah, dan kepala daerah itu yang memberikan jaminan, sulit bagi investor untuk menolaknya. Asal, investor yang didatangi adalah investor yang tepat. Yang memang ada ketertarikan untuk berbisnis di bidang properti dan pariwisata. Sebab, antara bisnis properti dan pariwisata itu beririsan dan bisa saling terkait.
Pak Sastro (Paul Sastro Sendjojo), salah satu owner Jatim Park Group pernah bercerita kepada saya soal di balik pembangunan Jatim Park di Lamongan. Saat itu saya bertanya kepadanya, mengapa Jatim Park sampai harus membangun di Lamongan? Pak Sastro menceritakan, sebetulnya, dari itung-itungan bisnis, membangun Jatim Park di Lamongan kurang prospek. Tapi, saat itu, Pak Sastro mengaku didatangi berkali-kali oleh Bupati Lamongan, saat itu Masfuk. Kepada Pak Sastro, Bupati Masfuk meyakinkan bahwa dia bisa menjamin kepastian hukum dan kepastian untung, jika Jatim Park mau berinvestasi membangun Jatim Park di Lamongan. Agar Pak Sastro mau datang survei ke Lamongan, Bupati Masfuk yang menjemput sendiri. Dia yang menyetir mobil sendiri. Sampai sebegitunya. Hingga akhirnya Pak Sastro luluh. Dia akhirnya bersedia untuk membangun Jatim Park di Lamongan.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Bupati Banyuwangi, saat itu Abdullah Azwar Anas. Ketika awal-awal merintis, membangun dan mengembangkan pariwisata di Banyuwangi, dia mendatangi sendiri satu per satu investor. Dia presentasikan sendiri proposal pembangunan dan pengembangan pariwisata di Banyuwangi. Dia bikin road map-nya. Dia yakinkan investor. Dan akhirnya satu per satu investor mau dan bersedia berinvestasi di Banyuwangi. Sehingga Banyuwangi bisa berkembang seperti sekarang ini. Siapa yang bisa membayangkan, di Banyuwangi ada hotel bintang 4. Bahkan, kabarnya sudah ada juga hotel bintang 5 di sana.
Kediri Raya bisa seperti Banyuwangi. Kediri Raya bisa dibangun Jatim Park, dengan konsep yang berbeda dari Jatim Park yang ada selama ini. Kediri Raya bisa menjadi kota MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition). Asal, dilakukan bersama-sama.
Jangan ada ego sektoral. Jangan ada ego kepartaian. Dan jangan ada ego-ego yang lain. Karena sudah terbukti, berbagai ego itulah yang selama ini menjadi penghambat untuk membangun kawasan yang terintegrasi.
Jika ingin hasil yang dicapai berbeda, harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Kata Albert Einstein: “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results” (kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda). (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah