Beberapa bulan lalu, saya pernah memprediksi melalui akun TikTok, bahwa salah satu figur yang berpeluang ditunjuk PDIP sebagai cawapres Ganjar Pranowo adalah Prof Dr Mahfud MD, Menko Polhukam. Dan, prediksi saya terbukti.
Alasan PDIP memilih Mahfud, kata Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, karena selama ini dikenal sebagai pendekar hukum dan pembela wong cilik. Idiom “wong cilik” memang sangat identik dengan PDIP. Di bagian lain, Ketua DPR RI Puan Maharani yang juga fungsionaris DPP PDIP memuji Mahfud sebagai figur trias politica. Karena punya pengalaman yang mumpuni di eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Bagi saya, Mahfud adalah sosok intelektual yang lugas, berani, argumentatif, dan mampu mempertahankan kapasitas kualitas intelektualitasnya. Meski berada di berbagai posisi dan jabatan di pemerintahan.
Ada sosok intelektual yang ketika menduduki jabatan, kelugasannya dalam berbicara berkurang. Atau, bahkan hilang sama sekali. Bicaranya menjadi sangat normatif. Pernyataan-pernyataannya sangat hati-hati, dan terkesan ingin “bermain aman”. Ini tak terjadi pada Mahfud. Nyaris tidak ada yang berubah pada kelugasannya dalam berbicara. Meski berbagai jabatan pernah dia sandang. Gaya bicaranya, sejak dulu ya seperti itu. Lugas. Cenderung berani.
Mahfud dalam memberikan penjelasan juga sangat argumentatif. Logikanya bagus sekali. Dan seringkali penjelasannya didukung dengan data-data dan fakta, yang mampu dia ramu dan kemas dengan sangat runtut dan gamblang. Penjelasannya pun mudah dipahami.
Dalam dua tahun belakangan ini, bisa jadi adalah tahun-tahunnya Mahfud. Ada sederet kasus menggemparkan di negeri ini, yang sarat dengan kejanggalan-kejanggalan, dan Mahfud adalah satu-satunya pejabat tinggi di Indonesia yang berani berbicara lugas, keras, dan kritis.
Misalnya ketika kasus pembunuhan berencana yang melibatkan bekas Kepala Divisi Propam Polri Ferdy Sambo mencuat, berkali-kali Mahfud sebagai Menko Polhukam membuat pernyataan yang sangat jelas dan tegas. Dia berani menyebut kekuasaan Sambo seperti bintang lima. Dengan kata lain, Mahfud ingin mengatakan, begitu berkuasanya Sambo.
Mahfud saat itu juga menyebut akan ada tersangka baru sebagai aktor intelektual dalam kasus pembunuhan berencana tersebut. Padahal, saat itu, polisi belum mengumumkannya. Mahfud terkesan ingin memastikan, bahwa penyelidikan polisi berjalan fair dan objektif. Dan sehari kemudian, Polri mengumumkan Sambo sebagai tersangka.
Setelah kasus Sambo, kembali Mahfud membuat pernyataan lugas, Maret lalu. Saat itu, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dia mensinyalir adanya pergerakan uang yang mencurigakan sebesar Rp 300 triliun di Kementerian Keuangan. Dalam pernyataannya Mahfud menyebut, uang itu merupakan akumulasi keseluruhan transaksi yang terjadi mulai 2009 hingga 2023, ada 160 laporan lebih, dan melibatkan 460 orang lebih di Kementerian Keuangan. Mahfud menengarai adanya indikasi tindak pidana pencucian uang.
Tak ayal, pernyataan tersebut membuat Komisi III DPR RI meradang. Mereka merasa kecolongan. Dan Mahfud pun sempat dipanggil ke Komisi III DPR RI. Saat itu, sempat terjadi perang pernyataan antara Mahfud dan beberapa pentolan Komisi III. Di depan Komisi III DPR RI itulah, nyali Prof Mahfud terlihat. Dia sangat percaya diri di depan para legislator. Ini sangat berbeda dengan kebanyakan pejabat tinggi yang keder dan kurang percaya diri ketika dipanggil DPR.
Pernyataan Mahfud ini juga membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani merasa kecolongan. Dia merasa seperti tertohok dengan pernyataan Mahfud itu.
Tak berhenti di situ. Mahfud kembali membuat gempar Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dengan pernyataannya yang mengatakan ada safe deposit box milik Rafael Alun Trisambodo, yang saat itu salah satu pejabat pajak di Kemenkeu, sebesar Rp 37 miliar. Diduga itu terkait dengan kasus pencucian uang. Gara-gara pernyataan ini, Rafael kemudian menjadi tersangka dan diadili.
Mahfud juga satu-satunya pejabat tinggi negara yang secara terang-terangan berani menolak keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menunda Pemilu, setelah Partai Prima memenangkan gugatan melawan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mahfud dalam pernyataannya mengatakan dia akan melawan habis-habisan keputusan itu. Bahkan dia menuding ada permainan di balik putusan tersebut.
Itulah, sosok Mahfud MD, putera Madura asli. Sebagai seorang akademisi dan intelektual yang bermetamorfosis menjadi pejabat tinggi negara, dia nyaris tidak berubah. Berani. Lugas. Objektif. Dan selalu terusik dengan hal-hal yang dianggap mencederai keadilan.
Dan Mahfud punya cara tersendiri dalam mengekspresikan kekritisannya. Yakni, melemparnya kepada pers dan media sosial. Dia punya akun twitter, dan tergolong pengguna aktif twitter. Sungguh, hampir tak ada pejabat tinggi negara saat ini, yang seperti Mahfud MD.
Kini, dia menjadi cawapres-nya Ganjar Pranowo. Kelak, jika memang takdir berpihak pada pasangan ini, dan Mahfud MD benar-benar menjadi wapres, apakah gayanya yang lugas dan berani seperti sekarang ini tidak berubah? Kita lihat saja nanti. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah