Apa yang membuat Gus Iqdam begitu disukai? Saking disukainya, rekor pengajian yang dilaksanakan di Taiwan, dipecahkan oleh Gus Iqdam. Pada 17 September lalu, pria bernama lengkap Agus Muhammad Iqdam Kholid itu diundang untuk memberikan pengajian di Taichung City, Taiwan.
Sudah beberapa kali pengajian diadakan di sana, dan kebanyakan mendatangkan para penceramah yang sedang terkenal di Indonesia. Dan baru kali ini, ketika penceramah yang didatangkan adalah Gus Iqdam, massa yang hadir begitu banyaknya. Ada yang memprediksi, jumlahnya mencapai 20 ribu orang. Di areal parkir kendaraan, ada 105 bus. Bus itu dicarter oleh orang-orang Indonesia yang bekerja di Taiwan, yang tersebar di sejumlah kota atau distrik. Belum lagi parkiran motor. Disesaki ribuan sepeda motor. Makanya, wajar jika ada yang menyebut, inilah pengajian terbesar yang pernah diadakan di Taiwan.
Polisi Taiwan sampai dibuat geleng-geleng kepala. Mereka pun ikut memadati areal pengajian itu, demi mengamankan lokasi. Bahkan, tersebar di video, ada salah satu polisi Taiwan sampai harus naik panggung untuk memberikan himbauan agar bertindak tertib. Sempat beredar informasi, saking padatnya massa di tempat itu, membuat sinyal handphone sempat tersendat di areal pengajian.
Warga Taiwan pun terkagum-kagum dengan fenomena tersebut. Bisa jadi, mereka sangat penasaran, bagaimana bisa terjadi arus massa yang begitu besarnya, Maklum, Taiwan bukan negara Islam. Dan yang datang di pengajian itu adalah mayoritas WNI yang sedang bekerja di Taiwan.
Taiwan, adalah salah satu negara yang banyak menjadi tujuan para TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Dari tahun ke tahun, jumlahnya meningkat. Berdasarkan data dari Kementerian Tenaga Kerja, jumlah TKI di Taiwan pada 2021 mencapai 270 ribu orang. Dan pada tahun 2023, diprediksi meningkat menjadi sekitar 300 ribu orang.
Berarti, jika para TKI yang datang ke pengajian Gus Iqdam adalah sekitar 20 ribu orang, ini ekivalen dengan sekitar 7 persen dari total jumlah TKI yang bekerja di Taiwan.
Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini: Apa yang membuat Gus Iqdam begitu disukai? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, cara dakwahnya yang tidak biasa. Melalui majelis Sabilut Taubah yang dia didirikan dan dia asuh sendiri, Gus Iqdam lebih memilih berdakwah dengan menyasar komunitas atau sekelompok masyarakat marginal, yang dianggap madesu (masa depan suram). Di antara mereka adalah pemabuk, penjudi, preman pasar, dan beberapa pelaku maksiat lainnya. Gus Iqdam punya pendekatan tersendiri dalam bergaul dengan komunitas tersebut. Bagi Gus Iqdam, serusak apa pun mereka, mereka tetaplah manusia. Dan manusia itu, serusak apa pun dia, tetaplah punya hati. Dan hati itu, sejatinya selalu mencari jalan untuk menuju kebenaran.
Inilah yang mungkin menjadi keyakinan Gus Iqdam. Karena itu, dia mendekati sekelompok orang yang dianggap madesu itu dengan hati. Gus Iqdam pun tak segan berbicara dengan menggunakan bahasa mereka, yang mungkin terdengar kasar bagi kita. Saat pengajian, dengan gayanya yang khas, dan dalam konteks guyonan, Gus Iqdam kerap mentolol-tololkan jemaahnya. Gus Iqdam juga menyebut “garangan” (sebutan untuk hewan yang tak disukai) untuk jemaahnya yang masih suka bermaksiat. Dan ketika menyindir jemaahnya yang masih suka bermaksiat ini, Gus Iqdam selalu bertanya kepada jemaahnya: “wonge teka?” (orang-nya datang). Maka, kalimat “wonge teka” pun menjadi populer di kalangan netizen tanah air.
Dan yang menarik, meski jemaahnya yang madesu dan masih suka bermaksiat tadi ditolol-tololkan oleh Gus Iqdam, dan disebut “garangan”, mereka tak marah. Malah ketawa-ketawa, karena Gus Iqdam lebih dulu menyentuh hati mereka. Itu adalah cara Gus Iqdam menyindir dan memotivasi para jemaahnya yang madesu tadi, agar kembali ke jalan yang benar. Gus Iqdam menawarkan kepada sekelompok orang yang dianggap madesu dan masih kerap bermaksiat itu, jalan untuk bertobat. Makanya, majelisnya diberi nama “Sabilut Taubah”, yang artinya jalan untuk bertobat.
Kedua, dengan cara dakwahnya yang tidak biasa itu, membuat Gus Iqdam disukai kalangan anak muda, terutama generasi milenial (berumur 27-42 tahun) dan generasi Z (11-26 tahun). Bahkan, kalangan dewasa dan para orang tua juga suka dengan gaya ngajinya Gus Iqdam yang terlihat agak urakan, tidak terkesan menggurui, dan guyonan-guyonannya sarat dengan makna filosofis. Misalnya, Gus Iqdam sering menyebut “Info dari Pusat” untuk nasihat-nasihatnya kepada para jemaahnya. “Pusat” di sini, maksudnya adalah bersumber pada firman Allah, baik yang disebutkan di dalam Alquran maupun hadis. Gus Iqdam sengaja mengambil diksi “Info dari Pusat” agar lebih membumi, sehingga nasihat yang dia berikan bisa mudah diserap oleh para jemaahnya.
Gus Iqdam juga sering menyebutkan kalimat “dekengan pusat” (dukungan dari pusat), ketika memberikan motivasi kepada para jemaahnya untuk tidak mudah putus asa. Maksud dari “dekengan pusat” di sini adalah bersandar kepada kekuatan Allah SWT.
Dengan menggunakan diksi-diksi yang membumi inilah, membuat Gus Iqdam punya daya tarik tersendiri. Dan membuat dia begitu dekat dengan masyarakat marginal, anak muda, kalangan dewasa dan para orang tua yang selalu menyukai dengan sesuatu yang baru dan “tampil beda”.
Ketiga, fenomena Gus Iqdam adalah bukti dari kebenaran ayat-ayat Allah SWT. Di dalam Alquran surat Ali Imran ayat 26, dijelaskan, bahwa Allah akan memuliakan orang yang Dia kehendaki, dan Allah-lah yang juga menghinakan orang yang Dia kehendaki. Ketika Allah sudah berkehendak untuk memuliakan hamba-Nya, maka akan mulialah hamba tersebut. Saat ini, Allah berkehendak untuk memuliakan Gus Iqdam, menempatkan dia pada satu tempat yang disukai banyak orang, dikagumi banyak orang, dan dipuja banyak orang. Sehingga, ketika Allah sudah berkehendak, maka dampaknya akan luar biasa. Seperti inilah jika “Pusat” sudah berkehendak. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah