Karnaval

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Senin, 28 Agustus 2023 | 17:49 WIB

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Agustus
adalah bulannya karnaval. Di bulan kemerdekaan Indonesia ini, hampir semua daerah di seluruh Indonesia bikin pawai karnaval. Mulai dari tingkat kampung (RT/RW), desa, kecamatan, hingga kabupaten atau kota. Kita pun menjadi maklum, ketika terjadi kemacetan lalu-lintas, dan penyebabnya karena ada karnaval. Dan kita terpaksa harus bisa maklum, ketika terjadi penutupan jalan, dan penyebabnya karena ada karnaval.

Karnaval adalah panggung untuk ber-euphoria. Melalui event ini, masyarakat berlomba saling menunjukkan eksistensinya. Baik eksistensi pribadi, golongan maupun eksistensi kelompoknya. Mereka yang merasa punya kemampuan finansial, akan menunjukkan kekuatan finansial-nya melalui pakaian atau atribut yang dikenakan saat mengikuti karnaval. Mereka yang merasa punya bakat atau atraksi menarik, akan menunjukkan kekuatan atraksinya saat mengikuti karnaval.

Secara etimologi, karnaval berasal dari Bahasa Latin: Carrus Navalis. Artinya: gerobak kapal. Dinamakan demikian, karena mengacu pada gerobak dalam suatu pawai keagamaan, seperti gerobak yang digunakan dalam arak-arakan keagamaan pada perayaan tahunan untuk menghormati Dewa Apollo.

Versi lain menyebutkan bahwa karnaval berasal dari bahasa Italia: “carnevale” yang artinya “menyingkirkan daging”. Carnevale ini merupakan event yang diadakan oleh para pengikut agama Katolik di Italia. Di kegiatan ini, mereka memiliki tradisi untuk melakukan sebuah festival kostum liar, tepat sebelum hari pertama puasa (prepaskah).  Agama Katolik menganjurkan untuk tidak makan daging selama Prepaskah. Makanya dibuatlah acara carnevale, untuk menandai mulai tidak makan daging. 

Seiring berjalannya waktu, event carnevale  di Italia menjadi cukup terkenal. Dan pada kenyataannya, kegiatan ini menyebar ke negara-negara Eropa lainnya seperti Prancis, Spanyol, dan semua negara-negara Katolik di Eropa. Selanjutnya menyebar luas ke bagian lain dunia, seiring dengan perjalanan kolonialisasi yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa. Termasuk akhirnya bisa masuk ke Indonesia.

Karnaval jika dilihat dari akar sejarahnya, memang berasal dari kegiatan keagamaan dari negara lain. Tapi, dalam perkembangannya kata “karnaval” kemudian menjadi Bahasa Indonesia yang dipakai secara umum, tanpa terkait dengan agama tertentu. Sehingga, sering kita jumpai, ada karnaval dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah. Ada karnaval memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ormas Islam terbesar, baik NU maupun Muhammadiyah, juga sama-sama menggelar karnaval di momen-moment tertentu mereka.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “karnaval” didefinisikan sebagai pawai dalam rangka pesta perayaan (biasanya mengetengahkan bermacam corak hal yang menarik dari yang dirayakan itu).

Jadi, dalam praktiknya, karnaval merupakan perayaan publik untuk suatu momen tertentu yang menggabungkan beberapa elemen seperti sirkus, parade jalanan, pameran seni, tarian, mobil hias hingga napak tilas sejarah.

Karnaval di bulan Agustus, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, sebenarnya bisa menjadi daya tarik yang lebih luar biasa, jika diatur dan di-organize secara lebih rapi dan professional.

Sekarang ini, pelaksanaan karnaval terjadi secara sporadis. Mulai dari tingkat RT, RW, Desa, Kecamatan, masing-masing bikin karnaval sendiri-sendiri. Akibatnya, di satu kawasan, terjadi berkali-kali karnaval dan berkali-kali terjadi kemacetan lalu-lintas.

Alangkah lebih baiknya, jika karnaval itu disatukan. Misalnya, di satu kabupaten atau kota, hanya ada satu kali karnaval. Dan di satu provinsi, juga hanya ada satu kali karnaval, yang dilaksanakan di ibu kota provinsi. Dengan cara penyatuan event karnaval seperti ini, maka tidak akan terjadi karnaval dilaksanakan berkali-kali di sebuah daerah. Dan dengan cara penyatuan seperti ini, maka event karnaval itu akan tampak lebih kolosal, lebih heboh, lebih meriah, dan lebih menarik untuk ditonton.

Jika sudah disatukan seperti itu, tinggal di atur jadwalnya untuk pelaksanaan karnaval di masing-masing provinsi agar tidak terjadi berbarengan. Saya membayangkan, pengaturan event karnaval ini akan dilakukan oleh Kementerian Pariwisata. Sehingga, selama Agustus, sudah ada kalender karnaval di seluruh provinsi di Indonesia. Kalender karnaval inilah yang bisa menjadi daya tarik pariwisata untuk menarik kunjungan turis mancanegara.

Turis mancanegara tinggal memilih, mau lihat karnaval di provinsi mana?

Negara-negara yang punya event karnaval terkenal, seperti Karnaval di Rio de Janeiro, Brasil, terdongkrak ekonomi-nya ketika event itu dilaksanakan. Data menyebutkan, bahwa pelaksanaan Karnaval di Rio de Janeiro pada awal 2023 lalu, dapat menimbulkan dampak ekonomi sekitar 4,5 miliar real Brasil. Angka tersebut ekivalen dengan 867 juta USD (sekitar Rp 12 Triliun).

Saya yakin, jika karnaval-karnaval di Indonesia lebih ditata lagi, lebih diatur lagi, dan lebih dimodifikasi lagi, maka akan lebih mampu mendongkrak secara ekonominya. Tidak mustahil, bisa menyamai Karnaval di Brasil. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
agustus karnaval katolik pawai